Jeritan Dalam Sekam

Mar 30, 2024 | Prosa

Views: 12

Jeritan dalam sekam, kegundahan hati, kesusahan, beban berat, kemiskinan, ketiadaberdayaan, terjepit, terhimpit, terzalimi, keputusasaan, kegelisahan, tidak berdaya, mati kutu, menangis, tersedu-sedu, sesak nafas, tiada yang mengetahui, tidak terdengar, terbungkus, tertekan, berserah diri.

Terhalangi, terperdaya, terkunci, tergembok, bermuara sisi dalam, tiada yang peduli, hancur, tercerai-berai, tidak tersentuh, tiada yang menyentuh, terabaikan, tidak mau tahu, mati kelaparan, tidak berkutik, kesulitan, terlindas keadaan, tercekam, terpinggirkan, tersingkirkan, tiada kesempatan, tiada yang mendengar.

Jeritan dalam sekam, suatu keadaan yang bermuara pada diri setiap insan manusia adanya sesuatu hal, sebab terdapat adanya kesusahan, penderitaan, ketidakmapanan dalam kehidupan, dan keadaan yang tertekan jiwanya dalam berbagai hal permasalahan, yang tidak mampu untuk bangkit, oleh karena tekanan di luar kemampuannya.

Masih adanya yang diabaikan warna yang belum tersentuh secara riil, yang harus diangkat keadaannya pada kedudukan yang sama di antara sesama manusia, dan sesungguhnya perlu mendapatkan perhatian secara serius, tidak membeda-bedakan untuk mendapatkan uluran tangan meringankan beban secara permanen.

Keadaan sangat panjang sebagai warna dominan, dan terkunci pada bagian sisi bawah, sehingga dianggap tidak berpengaruh. Dan terarah menimbulkan tingkat keresahan, kesedihan, kesusahan. Keadaan mengarah keakutan kemanusiaan, posisi yang kuat sudah tertanam, dan tidak akan terkalahkan, hal ini sesuatu hal yang masih menjadi warna dalam kehidupan.

Dalam meringankan beban kehidupan, permasalahan secara riil, basis data sebagai penunjang, lebih diakuratkan pada sektor bagian bawah, yang dapat mengetahui ukuran tepat dan tidak tepatnya, berhak dan tidak berhak sebagai parameter setiap permasalahan yang menimbulkan ketidakadilan, tidak keseimbangan dan tidak keselarasan.

Jeritan dalam sekam tak terdengar di jagad awang-awang, tidak mampu bersuara, dan tidak mampu pula berteriak kencang. Hanya kebesaran jiwanya mengelus dada, diam, dan tetesan air mata membasahi pipinya, disertai lantunan gemetar bibirnya memanjatkan doa kepada Sang Ilahi.

Hatinya yang menangis membara bagaikan api dalam sekam, jeritan pun tidak akan meruntuhkan, mengoyak awan yang bertengger di awang-awang. Sangatlah tidak tepat di antara pemegang garis vertikal dari bawah sampai atas, mengabaikan yang sesungguhnya, tangan-tangan yang tepat menerima secara permanen, dalam meringankan beban sampai akhir hayatnya.

Daya akal pemikiran dibolak-balik dari sesungguhnya tepat terarah tidak baik, dan sebetulnya bermanfaat sangat tepat terjadi tidak menyentuh asas yang benar. Kurunnya waktu menjadi ajang kepentingan, dan berlomba-lomba memainkan peran terbalik, baik sebagai pelaku dan sutradara.

Jeritan dalam sekam, lebih besar keberadaannya di bagian bawah, bagaikan buih-buih ombak yang dapat menghantarkan suara menggelegar, meruntuhkan, dan menghantam yang dilintasinya. Jika saatnya tidak mampu menahan, tidak tahan keadaan yang menyesakkan, maka mengalirlah deburan ombak dengan sendirinya, mengikuti hempasan angin yang menerpanya.

Dikumandangkan penuh rasa kebanggaan sebuah kata grassroot “Akar rumput, akar ubi”, walaupun dikatakan dianggap tepat. Namun sangatlah tidak tepat, sebagai makhluk ciptaan Tuhan Sang Pemilik Jagad, yang memiliki harkat dan martabat sebagai insan manusia yang sempurna. Hal tersebut menandakan bahwa, pada titik yang terendah, terlemah tidak ada pengaruh dan manfaat bagi yang terkuat, dan dibutuhkan jika ada kehendak dan tujuan sesaat.

Hal tersebut mengalirlah sebuah jarak, pemisah, batas yang dibuatnya seakan terlabel antara lapisan atas tanah dan relung jurang laut. Tiada mungkin keberadaannya di relung jurang laut, terlihat dan terdengar pada bagian sisi atas. Oleh karenanya tanpa dirasakan dengan kejernihan hati dan pemikiran, seraya kabur penglihatan, sehingga terabaikan, tidak adanya anggapan, dan terabaikan keadaan dan keberadaannya yang sejatinya.

*****

Jeritan dalam sekam, menggerincing bak kepingan uang logam.

Ketidakmapanan, kesedihan, dan tertekan membayangi jiwa.

Jika satu juta titik kesusahan, maka terhampar di belahan bumi pertiwi.

Tiada terlihat semakin menjorok tajam, bagai di relung jurang laut.

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing hanya sebuah slogan belaka.

Mata terbelalak memandang, tatapan netra tak memancar kasih sayang.

Di kasat mata seraya terpuruk, yang sungguh tersungkur tak akan bangkit.

Rintihan bagaikan nafas, tak terputus sepanjang waktu.

 Jatuh bangun kuat menahan diri, tabah mempertahankan jiwa raga.

Terpinggirkan semakin tidak tampak, terabaikan selamanya.

Merangkak, menapakkan kaki, untuk perjuangan diri.

Yang terbesit di hati, sebelum dan saat ini, tak kunjung terhenti

Jeritan dalam sekam, bermuara bagaikan bara api tak akan padam.

Bukan saat ini, sudah cukup panjang kurun waktu dilalui.

Kuat bertahan bagaikan karat besi, oleh karena jiwa terpatri.

Walaupun rontok, berguguran, terukir sejarah pahit bangsa ini

Surabaya, 26 Maret 2024

Yudi Ento Handoyo.

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This