Menjadi Seorang Ibu

by | Dec 22, 2021 | Pojok

Tidak terbayangkan sebelumnya bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, apalagi ibu dengan empat orang anak yang semuanya dilahirkan normal. Membesarkan mereka semua sendiri juga, sebagai orang tua tunggal. Jika dipikirkan sepertinya sangat berat tetapi bila dijalani, justru sama sekali tidak. Bahagia itu sungguh terasa, dan ada kebanggaan di dalam hati karena dipercaya oleh Yang Maha Kuasa untuk mampu melahirkan dan membesarkan anak sendiri. Anugerah yang tidak ternilai dan luar biasa.

Sekarang mereka semua sudah remaja dan beranjak dewasa, namun tetap tidak bisa dilupakan hari-hari ketika mereka masih di dalam kandungan, dilahirkan, dan dibesarkan. Masing-masing memiliki cerita sendiri dan jalannya sendiri. Tidak semua sama, selalu saja ada keunikan tersendiri. Bila yang sulung lahir setelah lari-lari mengejar kereta api, yang kedua setelah lelah perjalanan jauh, yang ketiga lahir prematur dan melahirkan sendiri di rumah, yang bungsu lahir sekaligus bayi, ari-ari, dan ketuban. Hanya kebesaran Allah yang membuat semua ini begitu nyata.

Untungnya, semua tidak ada yang rewel dan banyak minta. Sepertinya mereka paham bahwa saya sendirian, dan malah selalu berusaha untuk tidak membebani. Yang sulung bahkan marah kalau saya belikan mainan lebih dari satu. Baginya, satu cukup, dia tidak suka berlebihan. Semua tidak pernah ada yang merengek dan terus menerus meminta, diajak belanja pun ijin dulu bila ingin sesuatu. Tidak dibelikan tidak apa-apa, mereka tidak memaksa. Perilaku ini justru yang membuat saya ingin memberikan lebih banyak, meski selalu saya ajarkan bahwa bahkan Allah hanya memberi yang dibutuhkan tapi yang terbaik, bukan yang selalu diinginkan, sebab Allah sayang. Belum tentu yang diminta lalu diberikan itu menjadi baik.

Banyak perjalanan kami lalui bersama, jalan-jalan bahkan sampai keliling Jawa bersama. Saya menyetir mobil sendiri bersama mereka. Tidur dan makan seadanya, tidak selalu di hotel atau tempat nyaman, di rumah penduduk di desa yang terpencil juga tidak masalah. Yang penting bisa sama-sama dan menikmati segalanya bersama. Tidak semua keluarga mampu merasakan hal ini.

Hal-hal pahit tentunya tidak luput dirasakan, tetapi semua harus bisa dilewati dengan keyakinan dan kesabaran. Sabar, tekun, konsisten tidak bisa hanya diajarkan lewat nasehat, tapi lewat keseharian dan pembuktian. Di sinilah ujian terberat bagi seorang Ibu, menurut saya. Namun, bila selalu ingin manis, tidak mau pahit, lantas kapan menjadi “kaya, matang, dan dewasa?!”. Anak-anak bukan hanya untuk dididik dan diajarkan, bukan juga hanya untuk diberikan dengan alasan kewajiban dan lain sebagainya. Lewat mengasuh anak-anak sendiri, justru ada banyak sekali ilmu yang didapat. Barangkali, kalau saya tidak mengasuh anak sendiri, saya tidak akan pernah bisa memasak.

Dorongan sebagai ibu, yang ingin memberikan semua yang terbaik dari hasil jerih payah dan keringat sendiri, membuat saya belajar memasak, bahkan masakan khusus untuk bayi dan anak. Saya ingin mereka tetap rindu masakan saya, walau mereka sudah dewasa kelak. Bukan rindu masakan beli jadi apalagi masakan “si Mbak”. Yah, begitulah Ibu, mungkin.

Di hari Ibu tahun ini, saya tidak berharap mendapatkan ucapan selamat dan hadiah yang dibuat hasil kreasi anak-anak sendiri seperti biasanya. Saya justru ingin membuat tulisan ini untuk mereka, agar mereka selalu ingat. Saya tidak ingin apapun dan meminta apapun dari mereka, saya menjadi ibu yang sangat bahagia bila mereka mampu menjadi diri sendiri, mandiri, dan kaya akan ilmu, penuh adab, adil, dan berperikemanusiaan. Tanpa itu semua, saya gagal menjadi seorang ibu. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun mereka, saya tetap Ibu mereka dan bangga dengan mereka.

Bandung, 20 Desember 2021

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This