Membumikan “Jurrasic Park” di Habitat Komodo

by | Aug 27, 2021 | Opini

Aksi seekor komodo “menghadang” truk yang mengangkut tiang pancang pembangunan “Jurrasic Park” di Pulau Rinca, NTT (Oktober 2020), mengingatkan pada insiden “Tankman” : aksi heroik seorang pekerja kantoran yang menghadang konvoi tank China yang akan menggempur demonstran prodemokrasi di Tiananmen, Beijing (5 Juni 1989)… Miris.

Empat tahun lalu, penulis sebagai traveler pernah berkunjung ke “Taman Nasional Komodo” (disingkat TNK yang pada 1991 ditetapkan sebagai “Situs Warisan Dunia” UNESCO) di NTT.

Sungguh bersyukur pernah ke kawasan alami yang indah dan “bersilaturahmi” dengan sang Komodo sebagai satwa kebanggaan Indonesia (yang pada 2012 dinobatkan sebagai “The New 7 Wonders of Nature”), penguasa (apex predator) di habitat konservasi itu.

Walau Penulis adalah “moviemania” dan penggemar franchise film “Jurrasic Park” (dipopulerkan Steven Spielberg pada 1993), tapi menurut saya, rencana membangun “Jurrasic Park” di habitat Komodo adalah “keblinger” dan HARUS dihentikan!

Film fiksi ilmiah itu dengan gamblang memberi pelajaran jika kita mengganggu keseimbangan alam dengan “dalih apapun” (kemajuan teknologi atau parawisata) yang terjadi adalah Bencana. Film itu bukan hanya “tontonan”, tapi seringkali memberi “TUNTUNAN”.

Rencana mewujudkan wisata “Jurrasic Park” di habitat Komodo adalah bukti kesalahan mengambil ide dari film. Bahasa gaulnya : akibat “gagal paham”. Bagai menonton film hanya terpukau dengan adegan-adegan seru dan fantastis, tapi TIDAK mampu menangkap “moral cerita” film itu. Cobalah undang sang sutradara, Steven Spielberg dan tanyakan pendapatnya tentang rencana ini. Dijamin jawabannya adalah “It’s a BAD idea”.

Tuhan “menitipkan” mahluk luar biasa bernama Komodo ini pada bangsa Indonesia. JANGAN khianat pada amanat itu! Investasi bukan segalanya, apalagi sampai menghancurkan konservasi. Biarlah Komodo hidup damai di habitat aslinya…

Let me say this out loud : “If you mess with nature… Nature WILL mess with you… Leave Komodo alone!”

Jakarta, 27 Oktober 2020

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This