Al Kahfi, Kegelapan dan Cahaya

May 5, 2024 | Opini

Views: 16

Apa manfaat kegelapan dalam kehidupan kita? Sekilas pertanyaan ini muncul dalam benakku ketika seorang sahabat menasihatiku, bahwa pencerahan dan kegelapan, adalah takdir yang baik jika kita mampu memahami dan mensyukurinya.

Pertanyaan ini tercerahkan ketika aku sering kali diingatkan oleh ibu, saudara dan sahabatku.

“Jangan lupa ya baca Al Kahfi. Malam Jumat lho ini.”

Pesan itu rutin muncul di grup-grup WA. Ada apa dengan surat ini? Aku pernah membaca sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dan Al Baihaqi bahwa siapa yang membacanya pada hari Jumat, niscaya akan memancar cahaya terang yang menyinari dirinya di antara dua Jumat.

Hingga aku menyadari satu hal bahwa surat ini, bercerita tentang kegelapan. Ada empat kisah yang fenomenal dalam surat ini yang mewakili kegelapan diri kita selaku manusia. Keempat kisah itu adalah kisah tentang pemuda yang terkurung dalam gua, kisah seorang pemilik kebun yang miskin, kisah nabi Musa yang menuntut ilmu kepada Nabi Khidir dan kisah seorang raja yang perkasa bernama Dzulqarnain yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang besar.

Judul surat ini menggambarkan kegelapan itu. Sebuah gua. Tempat bersembunyi pemuda saleh bersama seekor anjing yang dikejar seorang raja yang zalim. Mereka tertidur 309 tahun di dalam gua itu.

Keempat kisah dalam surat itu, merepresentasikan kegelapannya masing-masing. Pemilik ladang miskin yang menghadapi keputusasaan akibat kemiskinan yang menderanya. Nabi Musa yang menghadapi ketidaksabaran dan egonya dalam menuntut ilmu. Juga Dzulqarnain, sang raja perkasa dan bijaksana, yang harus menghadapi takdirnya. Sebuah ujian keimanan, dalam spektrum yang berbeda-beda. Ujian atas keberanian, harta, ilmu dan kekuasaan. Sebuah ujian yang merepresentasikan kegelapan atas narasi takdirnya masing-masing.

Aku teringat ucapan seorang tokoh psikologi ternama bernama Carl.Gustav Jung. Ia berkata bahwa seseorang takkan tercerahkan dengan membayangkan sosok cahaya. Seseorang tercerahkan lebih cenderung karena ia telah menghadapi kegelapan dirinya sendiri. Ia menamakannya the shadow. Sebuah bayangan diri kita. Sisi gelap kita, yang senantiasa menggerayangi diri kita melebihi bisikan setan. Bahkan setan dan iblis, mampu mempengaruhi diri kita melalui pintu ke dalam bayangan diri kita.

Agaknya surat ini adalah pesan berulang pada diri kita untuk mengenal diri kita sendiri dan ketakutan-ketakutan atas diri kita. Ending atas ketakutan itu, adalah keberanian untuk menghadapinya. Sebuah keimanan. Sebuah apresiasi kepada cahaya yang mencerahkan kegelapan yang kita alami dalam hidup. Sebab kita akan lebih menghargai cahaya, ketika kita sudah merasakan gelap. Dan cahaya itu adalah anugerah Allah.

Barangkali hadis tentang cahaya di antara dua Jumat bercerita tentang konsistensi kita untuk selalu menghadapi kegelapan kita. Wallaahu a’lam. Yang jelas, aku semakin menikmati untuk membacanya. Seperti ada yang menemaniku dalam menghadapi kegelapan diriku sendiri.

Purwokerto, 3 Mei 2024

Bon Yosi

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This