Yang Lama Versus Instant

by | Oct 26, 2021 | Essai

“Gimana sudah dimakan bekal makan siangnya?” Kataku di ujung gawai. Begitu yang sering kulakukan saat tiba waktu makan siang. Mengingatkan suami agar tidak telat makan siang. Dan sudah menjadi kebiasaan pula, suami membawa bekal makan siang ke kantor. Ternyata tidak hanya dia yang sering bawa bekal dari rumah, teman-temannya yang lain pun melakukan hal sama. Terutama mereka yang sudah seumuran suamiku. Lantas bagaimana dengan para anak muda milenial?

Menurut suamiku, mereka lebih memilih makan siang yang praktis yakni lewat pesan makanan “online”. Begitu setiap hari. Tidak hanya di kantor, di rumah pun sering kejadian. Jika tidak ada makanan, spontan anak-anak menawarkan, “gofood aja!” Dalihnya, “Kalau ada yang mudah kenapa cari yang sulit.”

Hmmm… beda jaman kali ya? Di mana sekarang mah serba cepat, serba praktis, dan serba instant pula. Lain dengan jaman dulu sebelum era digital marak seperti sekarang ini. Di mana proses untuk mendapatkan sesuatu memerlukan waktu yang lama dan tidak segera.

Jadi ingat cerita bapakku saat beliau masih muda dulu. “Bapa kalau mau makan mesti masak nasi dulu sendiri bahkan kalau perlu numbuk padi dulu.” Wow, sungguh luar biasa untuk memperoleh sepiring nasi saja perlu proses yang lama dan dikerjakan sendiri. Tentunya cukup melelahkan juga, belum lagi bapak kan laki-laki. “Tidak cuma itu bapak juga mencuci pakaian Bapa sendiri.” Kata bapakku menambahkan. Lagi-lagi kerja keras dan mandiri tentunya.

Suamiku juga pernah cerita waktu dia masih kecil bahwa untuk mendapatkan uang jajan dia mesti bekerja dulu. Kerjanya berupa menghitung uang receh hasil penjualan minyak tanah ayahnya (alm). Lalu uang receh itu disatukan dengan cara dibungkus kertas dengan jumlah tertentu.

Saat remaja pun begitu, untuk mendapatkan uang saku ia harus membantu mengelem kardus-kardus obat yang dimaklunkan pada orang tuanya.

Sama halnya dengan diriku. Sebelum makan ibuku sering mengajakku dan kakakku memasak dulu di dapur. Aku disuruhnya membantu mengulek bumbu-bumbu yang telah disiapkannya. Lama-lama aku pun terbiasa dan bisa dilepas untuk memasak sendiri.

Apalagi setelah kakakku menikah, bukan cuma masak untuk makan sendiri tapi juga buat sekeluarga. Kebayang kan….Seringkali aku kesal juga dibuatnya, apalagi jika waktu sahur pada bulan puasa. Mana aku masih terkantuk-kantuk saat dibangunkan eh disuruh masak lagi. Sementara Emak biasanya setelah membangunkan aku, kembali ke sajadahnya untuk shalat malam dan mengaji sambil menunggu makanan siap disantap. Dan aku memasak sendirian di dapur sambil “menggumel”.

Tapi, justru dari keterpaksaan dan kekesalan itulah aku bersyukur jadi terbiasa masak sendiri. Kini masakanku pun tidak hanya bisa dinikmati sendiri tapi bisa dinikmati pula oleh suami dan anak-anak. Hingga mereka pun terbiasa dengan masakan atau pun makanan rumahan.

Lantas apa sih keuntungannya masak sendiri? Yang pasti lebih hematlah daripada beli. Coba saja, misalnya dalam sekali makan di luar atau beli melalui online kita menghabiskan Rp50 ribu rupiah sudah termasuk ongkos dan sebagainya. Sementara bila kita masak sendiri dengan menu yang sama dengan biaya Rp50 ribu bisa untuk makan 2 atau 3 kali atau bahkan bukan cuma untuk makan sendiri, tapi juga lebih. Tak percaya? Silakan buktikan sendiri.

Selain itu masak sendiri berarti bisa memilih dan meracik bumbu sesuai dengan selera hingga pas di lidah. Sementara kalau beli belum tentu terkadang mungkin kurang ini kurang itu atau lebih ini lebih itu.

Belum lagi faktor kebersihan dari makanan yang kita beli itu terjamin atau tidak. Saat membersihkan atau mengolah makanan sesuai dengan standar kebersihan dan kesehatan tidak. Kita tidak pernah tahu dengan pasti.

Ya, memang sih masak sendiri itu lebih ribet, lebih lama, dan tentunya butuh banyak tenaga dibandingkan dengan beli. Tapi semua itu tergantung dari kebiasaan. Pembiasaan yang diterapkan di rumah sebagai lingkungan terkecil dan terdekat.

Jaman bisa berubah atau pun berbeda, tapi masalah kebiasaan apalagi kebiasaan baik kiranya masih dapat terus bertahan sampai kapan pun. Selagi si pelaku kebiasaan itu mampu mempertahankannya apalagi bila memang terasa betul manfaatnya.

Bandung, 25 Oktober 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This