Sang Petani

by | Aug 15, 2021 | Cerpen

Seorang bapak tua memanfaatkan lahan untuk perjuangkan kehidupan. Sang bapak sudah berumur. Bidik Neli namanya. Setiap hari Bidik Neli keluar pagi dan kembali sore hari. Setiap keluar rumah, Bidik Neli membawa sebilah sabit mengkilat yang digenggam di tangan kanannya. Kadang diselipkan di celana pendek bagian belakang pinggang. Sabitnya berwarna hijau tua kusam, dan kaos warna putih yang juga kusam, disandarkan di bahu kiri lengan pundaknya.

Bertahun-tahun Bidik Neli melakukan aktifitas yang sama di setiap harinya. Hal itu sungguh tidak membosankan bagi bapak tua tersebut. Dengan langkah yang cepat terbirit birit, seakan berangkat ke kantor dan khawatir terlambat untuk bekerja melayani masyarakat. Disiplin dan kerja kerasnya terbangun pada setiap harinya.

Pulang sore hari dengan gaya yang sama, sambil tangan kirinya memegang rokok kesayangan “Jarum Super”. Dihisap dan dihembuskan dengan cepat seiring langkah kakinya yang berjalan tergesa tanpa beban, seakan ada yang hendak dikerjakan dan mengganggu pikirannya.

Saat mendengar dan disapa bapak dimaksud, dan ditanya tetangga sebelah? “Kemana Pak. De?. Dijawab dengan keras dan cemlenteng suaranya, “Ya mau kerja !” Tetangga sebelah Ibu Mercedes senyum simpul namun berguman keras tidak kuat menahan tawanya dan membuat bapak Bidik Neli, balik bertanya, “Ada apa Ndok, tanyanya?” Dijawablah oleh Ibu Mercedes “saya pikir ke Kantor Pak De!” Dan dijawab oleh Pak Bidik Neli, “Sudah tahu setiap harinya masih tanya terus, Ndoook!” sambil Pak.De tersenyum pula dan tidak ada rasa marah.

Tanya lagi Ibu Mercedes kepada Pak De, “wiiihhhh rokoknya ngebut kayak sepur Pak. De?” Masih di jawab pulalah oleh Pak “Yaaa Rokok Jarum Super Ndok!, Jarum Super itu !”
Jarang di rumah, suka pergi. Berangkat pagi pulang sore dan malamnya baru tidur dan besok ya begitu lagi.

Setelah itu Bapak Bidik Neli meninggalkan tetangganya, melanjutkan perjalanan ke tempat bekerja, dengan jarak cukup jauh 1,5 Km. Aktifitasnya menanam apa yang bisa ditanam, baik berupa sayur mayur, pohon pisang dan lain lain, yang terpenting menghasilkan. Hasilnya bisa dipakai sendiri atau dijual karena sudah ada yang memesan.

Padahal aktivitas kerja kerasnya dalam menanam sayur mayur dan pohon pisang dan lain lain, bukan di tanah yang Bapak Bidik Neli miliki, melainkan tanah batas antara sungai dan batas tanah perumahan. Lahan ini dimanfaatkan bertahun-tahun mempertahankan pekerjaannya dan mengais penghasilan, pada setiap harinya untuk berjuang menghidupi keluarganya.

Sungguhlah kerja kerasnya patut dijadikan contoh. Pekerjaan apapun bisa dilakukannya, toh kenyataannya bertahan sampai sekarang. Jika diamati pekerjaannya, bukan hanya menanam dan ditinggalkan begitu saja, juga menyirami apa yang ditanam dengan menggunakan air dari sepanjang sungai yang menjadi area penanaman.

Walaupun sudah tua terlihat dari kerutan wajah, badan terbuka tak pakai kaos dengan warna kulit coklat mengkilat. Kaki kenting mengkilat karena sengatan sinar matahari tidak menjadikan keluh kesah dan senang dilakukan bertahun tahun. Dan kedua tangannya, kakinya memainkan peran berliuk-liuk badannya menganyunkan timba hasil cidukan air dari sungai dan dihamburkan pada tanaman secara bergantian yang sudah ditanamnya.

Selesai pekerjaannya duduk sebentar sambil menghisap rokok “Jarum Super” kesayangannya. Dengan senang memainkan asap dan menghisap serta menghembuskan asap dari mulutnya. Saat bekerja tanpa membawa bekal apapun dari rumahnya dan berbekal alat Sabit mengkilat. Ya mungkin minum air ludahnya sendiri untuk membasahi organ mulutnya!

Hal itu dilakukan setiap harinya kerja berat dan kerja kerasnya dan tetap itu-itu saja. Selesai sore hari Bapak Bidik Neli hanya membasuh wajahnya dengan kedua tangannya, dan membersihkan kedua kakinya serta mengusap wajahnya dengan kaos warna putih kusam yang dibawanya. Kemudian meninggalkan area dimaksud untuk kembali ke rumahnya dengan jalan cepat terbirit-birit, ciri khas dari profil bapak itu.

Sidoarjo, 22 Juli 2021
Yudi E.Handoyo

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This