Petarung vs Pedaging

by | Sep 4, 2021 | Essai

Sudah tahukah bedanya ayam petarung vs ayam pedaging?

Kelihatannya sepele tapi jika dicari maknanya dalam lho..

Yukm kita gali gaes.

Ayam petarung adalah jenis ayam yang memang dipelihara dan dipersiapkan untuk menjadi petarung sejati. Saat mereka masih kecil, dan baru menetas beberapa hari selanjutnya mereka dipisah dari induknya. Tidak ada lagi penjagaan dari induk sebagaimana anda lihat anak ayam pada umumnya. Di dalam kandangnya mereka berkumpul dengan ayam-ayam lainnya. Setiap hari saat diberi makan dan minum, mereka sudah saling berebut memperlihatkan kekuatannya masing-masing. Dengan usia yang masih seminggu pun sudah saling patuk dengan yang lainnya demi bertahan hidup dan menjadi yang terkuat.

Seiring hari berganti minggu, minggu berganti bulan, mereka mulai membesar dan lama-lama akan terlihat kekuatannya masing-masing. Selanjutnya mereka akan dipisah menjadi calon ayam jago yang siap diadu. Makanannya dipilih yang terbaik. Mereka juga dimandikan setiap pagi, dijemur, dan mulai dilatih bertarung dengan teman-teman yang tadinya adalah saudara mereka juga. Saat ayam jago ini dimasukkan kandang bersama yang lain, akan muncul perkelahian untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat.

Sekarang kita bandingkan dengan ayam pedaging. Sejak kecil mereka memang dipersiapkan untuk diambil dagingnya. Mereka dibuat agar gemuk dan sehat. Mereka dijejali makan. Kerjannya makan, makan, dan makan. Sungguh itu adalah suatu kemalasan. Tidak ada persaingan di antara mereka. Semua sama. Tidak ada pertarungan di antara mereka. Yang ada adalah penyamarataan. Kalaupun beda adalah si a gemuk dan si B kurus. Saat mereka diumbar di kandang besar tidak ada dari mereka yang bertarung.

Mari kita analogikan hidup kita seperti mereka. Manusia sejak dalam kandungan adalah petarung sejati. Satu sel sperma akan bersaing melawan ribuan sel lainnya untuk eksis dan pada akhirnya memenangkan kesempatan menjadi benih berupa manusia. Selanjutnya pelan-pelan manusia terbentuk di dalam rahim ibu. Hari demi hari dan bulan demi bulan hingga 9 bulan 10 hari dia siap keluar menghadapi kerasnya dunia. Dengan tangisannya yang keras dia sudah tercipta untuk bersaing dengan manusia lain kelak.

Hari-hari belajar dimulai. Melalui bimbingan tangan hebat seorang yang bernama ibu ia mulai merangkak, berjalan, berlari, memanjat dan ketrampilan motorik kasar lainnya. Ia juga belajar mengeja dan memanggil orang-orang terkasih di sekitarnya. Semua anggota keluarga mulai ayah, ibu, kakak, paman, bibi, kakek, dan nenek mengajarinya banyak hal termasuk kebaikan hidup.

Memasuki usia dasar dia mulai sekolah, menuntut ilmu, mendapatkan banyak teman, bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Ia mulai mengerti itu nilai dan perjuangan. Bagaimana ia harus berjuang dan berusaha keras untuk mendapatkan sebuah penghargaan. Ia mulai menyadari arti kompetisi. Bahwa untuk memenangkan sebuah kompetisi is harus berlatih, berlatih, dan terus berlatih. Dan semua itu membutuhkan pengorbanan berupa tenaga, pikiran dan tentu saja uang/materi.

Sampai saatnya ia dewasa dan bekerja ia juga terus bertarung. Ia bertarung melawan kerasnya dunia kerja. Ia berjuang mencari kesempatan terbaik yang bisa diraihnya kelak guna menjamin kehidupannya di masa yang akan datang. Ia pelajari semua ilmu yang kelak akan berguna untuk hidupnya. Tidak ada kata menyerah untuk terus belajar dan menjadi pemenang.

Maka ayolah kita terus menjadi petarung hebat. Kita bertarung menghadapi dunia yang semakin rumit ini. Pandemi janganlah menjadi kendala untuk kita terus berkarya dan berprestasi. Buktikan bahwa jiwamu laksana ayam petarung hebat yang berjuang demi kemenangan. Bukan jadi ayam pedaging yang menghadapi hidup ini dengan kemalasan.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This