Borneo

by | Aug 7, 2021 | Essai

Surat ini kubuat dan kutujukan bagi Sahabat karibku yang tengah menuntut ilmu nun jauh di negeri seberang. Semoga ia tetap dalam keadaan sehat, sukses dalam studi dan kehidupan ke depan.

“Hello, Apa kabar kamu? Iya kamu Sahabatku, yang membaca tulisan ini. Kamu pasti heran kenapa aku tiba-tiba menyapamu. Aku hanya ingin kamu membaca kisah-ceritaku di negeri pengharapan ini, tak mengapa jika kamu menganggapku hanya berkeluh kesah.

Aku bingung harus memulai darimana. Tapi begini saja, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa aku tinggal di sebuah pulau yang bernama Kalimantan. Orang bule memanggilnya Borneo. Sebuah pulau yang kaya akan sumberdaya alam. Minyak bumi-energi, mineral dan batubara. Oh iya, aku lupa satu hal bahwa di sini juga mempunyai hutan yang sangat luas. Hutan Kalimantan terkenal di seluruh dunia.

Di pulau ini aku belajar dan bersekolah sejak kecil hingga dewasa. Hingga suatu saat aku dalam perjalanan untuk bekerja di sebuah daerah terpencil di pulau ini. Betapa terkejutnya aku ketika melihat suasana sekitar. Di kiri kanan jalan adalah perkebunan kelapa sawit. Banyak sekali persimpangan jalan yang selalu diportal karena aktivitas kendaraan bermuatan batubara.

Aku sampai di tempat di mana aku harus memulai pekerjaan pada malam hari. Saat itu sudah gelap sekitar jam 20.00 malam. Yang membuatku terkejut, ternyata desa tempatku bekerja meskipun terpencil tetapi cukup terang benderang untuk ukuran sebuah desa terpencil. Seakan tak puas aku melihat-lihat keadaan desa yang “berkilau” seperti itu.

Setelah berbincang-bincang dengan sahabat yang mengajak aku bekerja, tidak berapa lama kamipun tertidur karena kelelahan. Sekitar tengah malam, karena “kebelet” ingin buang air kecil aku terbangun, tapi betapa terkejutnya karena keadaan gelap gulita. Tak ada yang bisa terlihat. Sangat berbanding terbalik ketika aku tiba. Aku pun menyalakan korek api dan dengan cahaya korek api itu aku berjalan keluar dari rumah yang aku tempati. Tapi astaga, di luar juga sangat gelap!.

Setelah sejenak tertegun, aku langsung teringat ucapan teman siang tadi bahwa di daerah ini lampu menyala per enam jam. Enam jam menyala, dan enam jam berikutnya listrik pasti “is death” alias mati total. Tragis. Setelah sedapatnya aku menyelesaikan hajatku, akupun dengan merambat kembali ke kamar tidur.

Memang, ketika menuju ke siteplan ini, aku harus melewati pos jaga terdepan, ditanya dari mana mau kemana, untuk apa dan bla bla bla lainnya. Sampai akhirnya supir yang mengantarkan kami mengeluarkan dua bungkus rokok dan diberikan kepada penjaga pos tersebut. Aku hanya tersenyum kecut.

Akhirnya kami pun dipersilahkan lewat. Aku bertanya kepada supir yang mengantar kami, “Memang harus memberikan pelicin seperti itu ya pak? tanyaku menyelidik. Pak Sukidi, nama supir itu menjawab, “Ndak mesti pak. tadi itu biar kita cepat saja, malas lama-lama di situ,” Sukidi menjawab sekenanya. Aku pun faham situasi. Dari bincang-bincang dengan Pak Sukidi dan teman dalam perjalanan itulah, aku mengerti atas kondisi kelistrikan di pedalaman.

Esoknya, sejak pagi kami sudah memulai pekerjaan. Oh ya, pekerjaanku adalah membantu kolega yang sedang mengelola sumur minyak tua peninggalan Belanda, dan semua pekerja harus mengikuti aturan yang ditetapkan oleh Pertamina.

Namun seiring waktu berjalan dan setelah mengamati perusahaan tempatku bekerja, aku mulai menyadari bahwa telah terjadi ketidakadilan di daerah ini. Rupanya pemilik perkebunan dan pabrik kepala sawit di sekitar tempat kami bekerja adalah sebuah perusahaan yang produknya hampir setiap hari kita semua konsumsi. Sebuah perusahaan consumer goods produk makanan dan minuman.

Di tepi laut desa ini terdapat sebuah pelabuhan bongkar muat batubara yang lumayan besar. Tumpukan batubaranya tinggi seperti berbukit-bukit. Aku berkesimpulan bahwa daerah ini kaya sumber daya alam.

Penasaran, akupun mulai membuka-buka referensi terkait semua peraturan daerah, dan peraturan negara hingga ke UUD 1945. Berita dan kisah-kisah, pelajaran sewaktu sekolah dulu, pengalaman-pengalaman lainnya sebelum aku bekerja disini. Perlahan aku mulai menyatukan semua ingatan dan pemahaman. Mencari titik temu, mengurai semua yang tampak kusut dan buram menjadi sebuah fenomena yang jelas terlihat.

Tak pelak, akhirnya aku terhenyak menemui kenyataan bahwa ada ketidakadilan bagi daerah. Dan ketidakadilan ini bukan hanya terjadi di daerah tempatku bekerja sekarang, tetapi hampir semua daerah mengalami hal yang kurang lebih sama.

Maaf, jika kamu merasa lelah dengan ceritaku ini. Aku hanya ingin menyampaikan kepadamu sebuah kalimat dari pengamatanku selama ini yang mungkin tidak penting, tapi mungkin juga patut untuk direnungkan bahwa “Belanda dulu menjajah negeri dan bangsa kita, dan kini Negara secara sadar-tak-sadar sedang belajar “menjajah” negeri dan bangsanya sendiri dengan apa yang disebut sebagai “Surat Izin Konsesi”. Dari hal itu, apalagi yang bisa kukatakan kepadamu selain : “Kami barangkali hidup dalam Kemerdekaan yang semu..!!!”.

Terima kasih karena kamu telah meluangkan waktumu untuk mendengarkan keluh kesahku ini, Sahabat..…Sukseslah selalu.

Borneo, 04 Agustus 2021
Faza Ragaswara

Baca Juga

2 Comments

  1. Aikia

    Amazing…👍👍

  2. Fazaragaswara

    Thank u..

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This