Ziarah ke Makam Cut Nyak Dhien di Sumedang

by | Oct 8, 2021 | Sejarah

Mentari mulai meninggi dan cahayanya pun menyilaukan menerobos dedaunan rimbun. Gunung-gunung tampak membiru dipayungi langit yang berhias awan gemawan putih berarak. Hamparan sawah hijau terbentang. Tak jauh dari situ tampak sebuah gapura dengan papan nama bertuliskan “Makam Pangeran Soeria Koesumah Adinata (Pangeran Soegih) dan makam keluarga”. Berapa wanita tampak tengah membersihkan area pemakaman yang tertata rapi dan dikelilingi pepohonan. Kesan sejuk dan damai terasa ketika menginjakkan kaki di sini. Inilah kompleks pemakaman Gunung Puyuh, tempat pemakaman khusus bagi keturunan kerajaan Sumedang Larang yang kemudian dijadikan cagar budaya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang. Letaknya di Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan, 500 meter dari Alun-Alun Sumedang ke arah barat daya. Di sini pula terdapat makam seorang pejuang wanita Aceh bernama Cut Nyak Dhien.

Letak pemakaman Cut Nyak Dhien di bagian belakang area pemakaman Gunung Puyuh, atau tepatnya di area pemakaman keluarga (alm) KH. Sanusi. Cut Nyak Dhien binti Teuku Nanta Setia adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Aceh Barat, wafat tanggal 6 November 1908 dan di makamkan di Gunung Puyuh. Yang menjadi pertanyaan mengapa makamnya sampai ada di sini dan menyatu dengan makam keluarga seorang ulama Sumedang? Yuk Kita cari jawabannya!

Ketika kami tiba di pemakaman hari masih pagi dan gerbang makam Cut Nyak Dhien pun masih digembok. Namun alhamdulillah kami dipertemukan dengan pak Asep yang merupakan kuncen makam dan dipersilakan masuk untuk berziarah ke makam Cut Nyak Dhien. Pak Asep pun mulai berkisah tentang sejarah keberadaan makam Cut Nyak Dhien di situ.

Setelah Teuku Umar gugur pada tanggal 11 Februari 1899, Cut Nyak Dhien melanjutkan perjuangan suaminya melawan Belanda di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Usia Cut Nyak Dhien yang saat itu sudah relatif tua serta kondisi tubuh yang sakit-sakitan karena penyakit encok dan matanya pun mulai rabun membuat salah seorang panglima pasukannya yang bernama Pang Laot merasa iba. Maka ia pun melaporkan keberadaan Cut Nyak Dhien kepada Belanda namun dengan satu syarat agar Belanda merawat Cut Nyak Dhien yang sedang sakit.

Cut Nyak Dhien pun ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh serta dirawat di sana. Namun walaupun dalam kondisi perawatan keberadaan Cut Nyak Dhien dianggap masih membahayakan Belanda karena ia masih memberikan pengaruh kuat terhadap perlawanan rakyat Aceh dan masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap. Inilah yang membuat Belanda kemudian mengasingkannya ke Sumedang. Menurut Pak Asep, sebenarnya Sumedang merupakan pilihan Cut Nyak Dhien sendiri sebagai tempat pengasingannya.

Pada tanggal 11 Desember 1906, Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang oleh Belanda bersama seorang panglima perangnya dan seorang anak laki-laki berumur 15 tahun bernama Teuku Nana. Cut Nyak Dhien diterima oleh J.B.V. Heuts yang merupakan Gubernur Jenderal Belanda di Sumedang saat itu dan Bupati Sumedang Pangeran Aria Soeriaatmadja (Pangeran Mekah), anak dari Pangeran Soeria Koesumah Adinata (Pangeran Soegih), atau cucu dari Pangeran Soeriaatmadja (Pangeran Kornel) yang menentang Belanda mempekerjapaksakan rakyat Indonesia pada pembuatan jalan Cadas Pangeran.

Saat itu Cut Nyak Dhien hanya fasih berbahasa Aceh dan Arab. Maka bupati Sumedang pun memilih KH. Sanusi, seorang ulama Masjid Agung Sumedang yang juga fasih berbahasa Arab untuk merawat Cut Nyak Dhien. Setelah KH. Sanusi wafat dirawat oleh H. Husna, anak dari KH. Sanusi. Selama dirawat oleh keluarga KH. Sanusi, Cut Nyak Dhien didampingi oleh Rd. Siti Khadidjah yang merupakan cucu KH. Sanusi. “Karena sudah dianggap keluarga, makanya dimakamkan di area pemakaman keluarga KH. Sanusi di tanah milk Rd. Siti Khadidjah, berdekatan dengan makam KH. Sanusi, Rd.Siti Khadidjah, dan keturunan KH. Sanusi lainnya.” Demikian penjelasan Pak Asep.

Selain fasih berbahasa Arab, Cut Nyak Dhien pun seorang hafidz Qur’an. Meskipun sudah tidak bisa melihat, beliau masih bisa memberikan pelajaran mengaji bagi ibu-ibu warga kaum dan masyarakat Sumedang. Atas jasanya itu beliau diberi gelar Ibu Perbu. Ibu Perbu artinya Ibu Suci, hal itu mengingat kepandaiannya dalam ajaran Agama Islam yang sangat dalam.

“Sebelumnya masyarakat tidak ada yang mengetahui bahwa itu adalah makam Pahlawan nasional Cut Nyak Dhien, yang mereka tahu adalah makam ibu Ratu dari seberang atau Ibu Perbu, karena di batu nisannya pun saat beliau meninggal yang tertulis Ibu Perbu. Nama itu diberikan oleh KH. Sanusi untuk menututupi identitas Cut Nyak Dhien dari Belanda. Baru diketahui setelah H. Husna wafat. Selanjutnya setelah Gubernur Aceh, Ibrahim Hasan mencari jejaknya hingga Sumedang nama makam dikembalikan ke nama Cut Nyak Dhien.” Begitu Menurut penuturan Pak Asep.

Melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964, Cut Nyak Dhien dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional.
Pejuangan Cut Nyak Dhien juga membuat seorang penulis dan sejarahwan Belanda, Ny Szekly Lulof, kagum. Ia pun menggelari Cut Nyak Dhien dengan sebutan Ratu Aceh.

(NR/2020 dari berbagai sumber)

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This