Utang

Nov 4, 2021 | Opini

Views: 0

Orang hidup tentu perlu mencukupi hidupnya. Bekerja keras, mengembangkan investasi untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan.

Kamu bisa mencukupkan pendapatanmu dan keuntunganmu untuk memenuhi kebutuhanmu. Terutama kebutuhan pengeluaran untuk pangan, sandang dan papan. Pengeluaranmu bisa membengkak melebihi kebutuhanmu jika kamu bertujuan untuk memenuhi keinginanmu tanpa mengukur kemampuanmu.

Keinginan itu tak ada batasnya. Punya keinginan itu tidak salah. Tapi keinginanmu yang melebihi kemampuanmu itu yang akan menjebakmu.

Jebakan itu bernama utang. Utang yang melebihi kemampuanmu untuk membayarnya itu akan menyiksa hidupmu. Hari ini dan juga di hari depanmu. Utang itu mungkin jumlahnya kecil. Awalnya dapat kamu sisihkan pembayarannya dengan sisihkan pendapatanmu. Kamu bisa gali lobang tutup lobang.

Namun, jika keinginanmu terus kamu pupuk hingga tak terkendali maka kamu bisa masuk perangkap setan. Utang itu akan merampas seluruh kemerdekaan hidupmu. Utang itu bisa membuatmu dalam posisi gali lobang buat jurang jika untuk membayar angsuran dan bunganya kamu harus berutang lagi.

Kalau tak lagi mampu membayarnya maka hartamu akan disita untuk membayarnya. Gajimu akan ditahan sepenuhnya untuk membayar si pemberi utang. Sumber pendapatanmu baik itu dari kerja keras maupun bisnismu bisa tersedot habis.

Jika kamu adalah produsen dari barang, kamu mungkin harus merelakan hasil produksimu itu diambil oleh pemberi utang. Mungkin pertama hanya akan menghargai barangmu dengan murah. Tapi jika menumpuk terus jumlah utangmu maka mereka akan mengambil alih seluruh usahamu.

Dalam keadaan ini, seluruh hidupmu akan berubah. Siang dan malam hidupmu hanya akan berfikiran untuk utang dan utang. Hidupmu akan terpasung dan imajinasimu mati. Seluruh kualitas hidupmu hancur berkeping keping dan bahkan anak cucumu harus menanggung seluruh resiko hidup akibat keinginanmu yang tak terkendali iti.

Begitulah utang, deritanya tiada akhir. Hanya satu cara untuk mencegahnya. Penuhi kebutuhanmu, bukan keinginanmu. Hiduplah “sak madyo”, apa adanya saja. Lalu, mulailah membangun cara hidup yang berkebalikan dari utang. Menabunglah!

Kamu mungkin akan segera memprotes. Bagaimana mau menabung? untuk makan saja tak cukup???.

Nah, mulailah dari dari apa yang kamu makan!. Periksalah apa yang kamu makan sehari-hari. Kurangi yang tak perlu. Mungkin kamu makan selama ini sembari nongkrong di Cafe. Mulailah masak sendiri. Belilah makanan sehat. Bahan makanan sehat itu tak harus mahal.

Periksalah kulkasmu, mungkin ada banyak makanan dan minuman yang menumpuk dan membusuk karena terlalu banyak yang kamu beli atau tak kamu butuhkan. Cukupkanlah, jangan hanya turuti kesenanganmu.

Mungkin kamu merokok atau minum kopi sehari tiga kali. Kurangi rokokmu. Kurangi gelas kopimu. Kamu tak akan mati karena kurangi rokok atau kopi.

Mungkin awalnya kamu hanya mampu menyisihkan pendapatanmu dan hasil bisnismu yang kecil itu. Tapi bukan soal besar atau kecil jumlahnya. Ini soal mental! Sebab mereka yang tak mampu menabung itu berarti dia tak lagi peduli lagi masa depan mereka sendiri. Kamu jadi jenis manusia yang hidup tanpa rencana.

Kamu tahu, kebutuhan hidup yang penting itu banyak sekali di masa depan yang tak pasti. Ada kebutuhan mendesak untuk kesehatan, Pendidikan, dan lain sebagainya. Ini butuh perencanaan dan itu semua hanya bisa kamu penuhi dengan tabungan.

Kalau kamu sudah biasa menabung, maka hidupmu akan lebih tenang dan bahagia. Imajinasimu akan muncul karena kamu merasa bebas berfikir. Kamu bisa realisasikan seluruh mimpi mimpimu dengan lebih yakin dan percaya diri karena semua terjangkau oleh kemampuanmu.

Kamu mungkin akan menjadi lebih produktif. Kalau tadinya ruang hidupmu hari hari hanya habis untuk pikirkan utang dan utang. Kamu bisa menjadi apa saja. Menyalurkan hobi dan menambah penghasilan. Inovasi bisa kamu pikirkan.

Nah, siapa yang akan pedulikan nasibmu? hanya kamu sendiri. Jangan seperti negaramu ini. Utangnya sudah ugal ugalan, hidup dan masa depan generasi mendatang digadaikan demi kesenanganya hari ini. Hanya demi penuhi ambisi kekuasaan dan menumpuk kekayaan pribadi.

Jakarta, 2 November 2021
Suroto

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This