Untuk Apa Merdeka

by | Aug 15, 2021 | Pojok

Views: 0

“Jika burung kecil pun harus belajar untuk bisa bebas merdeka terbang menjelajahi dunia, lantas siapa yang mau memberikan kemerdekaan begitu saja?! Butuh perjuangan untuk merdeka, merdeka bukan hanya sekedar keinginan dalam kata”.

Seringkali saya bertanya dalam hati, “Untuk apa kita merdeka?! Mengapa semua ingin merdeka?! Apa sesungguhnya arti kemerdekaan Itu?!”. Merdeka begitu diinginkan, tetapi sungguh tidak mudah untuk benar-benar mau berjuang meraihnya. Sadar penuh bahwa merdeka adalah Hak dan memberikan kemerdekaan adalah kewajiban, namun diri sendiri pun masih hanya menginginkan kemerdekaan dan belum mampu memberi kemerdekaan.

Terbayang wajah-wajah para pejuang di masa lalu, peluh keringat dan darah yang menetes untuk menggapai kemerdekaan. Sungguh pengorbanan yang hendaknya selalu dihormati dan dihargai, kita yang hidup di abad yang jauh lebih modern dengan pendidikan lebih tinggi, belum tentu mampu memiliki keberanian, ketulusan, dan keikhlasan untuk melakukan hal yang sama. Kita cenderung lebih memikirkan diri sendiri dan mencari “selamat” sendiri, dengan berbagai alasannya. Lupa bahwa bila hanya diri kita yang selamat, tetapi bila bangsa dan negara kita hancur, lingkungan sekitar kita hancur, maka kita pun tidak akan selamat.

Bila dulu para pejuang tidak menunggu harus memiliki harta dan kekuasaan untuk berjuang, hanya dengan niat, keberanian, dan bambu runcing pun mereka berani turun, sekarang justru sebaliknya. Kita menjadi lemah hanya karena takut tidak bisa makan dan hidup. Kehilangan itu menjadi sangat menakutkan, walaupun sadar bahwa sesungguhnya tidak ada yang kita miliki. Nyawa kita saja bukan milik kita, semua adalah milik Sang Pencipta. Kita tidak memiliki apa-apa, meski merasa memiliki banyak.

Pemerintah dan penguasa terus disalahkan atas apa yang terjadi, diri sendiri tetap merasa benar dan tidak berani mengakui kesalahan. Padahal, pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya. Bila pemimpin yang terpilih adalah orang yang suka berdusta, tunduk kepada asing, dan tidak peduli dengan rakyatnya, maka apa yang semestinya kita akui saat memandang cermin?! Beranikah mengakuinya atau terus saja menyangkal dan menyalahkan?! Kapan kita semua mampu merdeka?!

Situasi dan keadaan memang berbeda, namun tetap kemerdekaan yang diminta dan diinginkan. Kita terus bersiteru dengan alasan kemerdekaan, tetapi apakah benar merdeka itulah yang kita perjuangan?! Atau semua ini hanyalah sekedar kata, sebab yang dituju sesungguhnya bukan kemerdekaan, tetapi sekedar euforia yang diyakini benar adanya. Sementara apa yang diyakini benar oleh kebanyakan orang, belum tentu benar. Terlalu banyak faktor yang bisa mengubah arti dan makna sebuah kata, pembodohan dan larut dalam pembodohan bisa membuat lupa arti dan makna kata sesungguhnya, bahkan membuat tidak tahu lagi apa yang sebenarnya dituju.

Untuk apa kita merdeka bila kita sendiri tidak paham apa kemerdekaan. Merdeka bukan berarti kita menjadi bebas berbuat dan suka-suka. Merdeka juga bukan berarti kita tidak memiliki kewajiban dan tidak perlu patuh atas segala aturan sehingga menghilangkan adab dan etika. Merdeka semestinya membuat diri sendiri dan orang lain bahagia, bukan hanya sekedar soal diri sendiri.

Barangkali memang bukan kemerdekaan yang benar-benar diinginkan, merdeka dari dusta dan kemunafikan saja tidak berani diperjuangkan. Terlalu banyak alasan dibuat dan dipertahankan untuk membuat diri sendiri dan orang lain, bahkan keluarga sendiri tidak bahagia.

Untuk apa merdeka bila belum mengerti arti kemerdekaan?! Bagaimana kemerdekaan bisa diraih bila diri sendiri pun tidak berani merdeka apalagi memberikan kemerdekaan?! Siapa lagi yang harus disalahkan, bila semua ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa dengan segala kemurahanNya memberikan selalu yang terbaik dan dibutuhkan?! Belajar saja sulit, mengakui salah tidak mau, untuk apa merdeka?!

Sungguh tidak mudah memikirkan semua ini, namun tetap harus dipikirkan. Paling tidak oleh diri sendiri, setiap orang berhak menentukan pilihannya. Tidak perlu berharap banyak kepada siapapun untuk merdeka agar tiada kecewa. Harapan hanya ada pada Allah, kita hanya mampu berdoa dan benar berusaha keras memperjuangkannya dengan segala ketulusan, keikhlasan, dan sujud. Selebihnya, biarlah Allah yang menentukan, apakah Kita sudah layak untuk merdeka.

Siapakah kita yang selalu menuntut dan meminta, tetapi tidak sanggup bahkan memberikan kemerdekaan bagi diri kita sendiri?!

Merdeka bukan sekedar kata, merdeka adalah perjuangan.

Bandung, 10 Agustus 2021
Mariska Lubis

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This