Untuk Apa Merdeka?!

by | Aug 19, 2022 | Pojok

Oleh: Mariska Lubis

Merdeka bisa diartikan dalam ragam definisi yang sesuai dengan pemikiran, pengalaman, dan rasa masing-masing. Tentunya ada banyak faktor yang mempengaruhi seperti situasi dan kondisi. Merdeka itu sendiri bersifat positif dan menjadi tujuan yang ingin digapai, manusia mana yang ingin terus dijajah? Namun bila dipikirkan lagi, untuk apa merdeka?! Merdeka ya merdeka, tapi mengapa masih menjajah dan terjajah?!

Pekik kata “Merdeka” selalu membuat semangat berapi-api, entah kenapa. Rasanya ada letupan dorongan keras yang tidak bisa dibendung untuk berjuang bagi negeri, bangsa, dan seluruh rakyat. Sayangnya, pekikan tersebut kini hanya menjadi sekedar kata belaka. Di atas kertas, Indonesia sudah merdeka 77 tahun, namun di lapangan yang nyata, kemerdekaan itu seperti tidak ada. Bahkan rasa hormat kepada para pejuang yang berjuang keras untuk menggapai kemerdekaan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat pun seolah tidak ada.

Malah diri sendiri dan kelompok saja yang ditonjolkan seolah sudah lebih hebat dari para pejuang di masa lalu. Dahsyatnya lagi, berani pula menjajah dan menginjak-injak harga diri dan kehormatan negara, bangsa, dan rakyat sendiri demi kepentingan diri dan kelompok, walau berkata dan berjanji “untuk rakyat”. Sudah bersumpah pula untuk berbakti dan mengabdi pada bangsa, negara, dan rakyat, bukan pada pimpinan apalagi para cukong!!!

Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45 juga ingin diubah dan terus diutak-utik seolah mampu memberikan sumbangsih pemikiran yang lebih hebat. Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa saja belum tentu mampu dimengerti dengan baik. Bila benar paham dan mengerti, mana penjabaran pemikiran kaum-kaum yang merasa lebih hebat dan jagoan itu? Mana?! Bicara banyak soal Indonesia, belum tentu juga paham dan mengerti, apalagi mampu menguraikan definisi Indonesia dengan berpikir sendiri. Bukan sekedar hasil baca dan hafal!

Untuk apa merdeka kalau seperti ini? Memang belum siap atau bagaimana?! Kalau sudah siap merdeka, maka tidak akan ada penjajahan, tidak ada yang menjajah, dan tidak juga ada yang terjajah. Keadilan yang menjadi dasar lahirnya kemerdekaan itu tidak ada, kok! Tidak dibangun! Lantas bagaimana mungkin bisa disebut merdeka?! Siapa yang merdeka sesungguhnya?!

Bila tahun-tahun sebelum 2022, saya selalu mengucapkan selamat Hari Kemerdekaan, tahun 2022 ini terasa hampa. Tidak ada kemerdekaan, belum ada kemerdekaan itu. Corat marutnya keadaan di segala bidang, dan begitu banyaknya “raja-raja sok besar” yang berkuasa dan menjajah, membuat malu hati mengaku merdeka. Maunya merdeka sendiri, menuntut merdeka, memaksa merdeka, untuk memberi kemerdekaan, nanti dulu, ya?! Mau sampai kapan pun jangan harap merdeka bila tidak ada perubahan. Untuk apa juga?!

Bandung, 17 Agustus 2022

Mariska Lubis

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This