Uang, Teknologi, dan Perang Dunia

by | Aug 14, 2021 | Pojok

Views: 0

Manusia menyadari bahwa sejarah uang dan perkembangannya sangat tergantung pada teknologi. Jika dulu manusia hanya mampu melakukan barter, teknologi yang terus berkembang, bahkan sekarang sudah menggunakan uang digital dan melakukan berbagai transaksi secara online. Disruptive technology yang berkembang pesat di era industri 4.0 jugalah yang membuat manusia berpikir atas kesalahan-kesalahan yang selama ini sudah dibuat, oleh manusia dan teknologi itu sendiri. Apakah ini yang menjadi penyebab kekacauan di dunia saat ini?!

Kemampuan manusia mengolah emas, perak, dan tembaga sangat membantu perkembangan adanya uang dalam bentuk logam. Pada masanya, logam tersebut dijadikan alat tukar dengan nilai yang disetarakan dengan nilai barang yang ditukar, sehingga disebut dengan uang. Mengingat kebutuhan akan uang terus meningkat, maka tidak heran bila kemudian logam-logam tersebut diperebutkan hingga sekarang. Logam-logam mulia tersebut bahkan kemudian disepakati dunia untuk menjadi jaminan pencetakan uang kartal yang digunakan setelah ada perkembangan teknologi kertas.

Teknologi selanjutnya membuat dunia mengenal Kartu Kredit dan Kredit di Perbankan. Sistem sentralisasi ekonomi dan perbankan dikembangkan dunia dengan tujuan mempermudah penyebaran uang, yang sekaligus digunakan untuk menjadi alat politik untuk menguasai. Pinjaman lewat kredit dianggap sebagai “Bantuan”, bukan sebagai “Politik Menjajah & Menguasai”. Bukan hanya pribadi-pribadi atau perusahaan yang terjebak dengan sistem ini, bahkan negara-negara di pun banyak yang terjebak, sehingga akhirnya kacau balau dan terjajah secara ekonomi.

Perkembangan internet juga semakin memicu perkembangan masalah ini, uang yang semestinya dicetak dan diedarkan berdasarkan jaminan emas dan perak, bisa dengan mudahnya diedarkan hanya dalam bentuk “angka”. Kemudahan seperti adanya ATM Online, Fintech, dan Web Money memang mempermudah manusia di dalam bertransaksi, tetapi juga memiliki dampak negatif yang banyak tidak disadari, penjajahan dan penghancuran lewat manipulasi perbankan dan ekonomi lebih mudah dilakukan. Apalagi sistem sentralisasi masih diterapkan, sehingga kontrol atas semua ini adalah terpusat. Indonesia sebagai contoh, rakyat tidak memiliki wewenang untuk mengontrol bahkan mengawasi, tidak ada keterbukaan bahkan larinya ke mana uang yang disimpan di bank. Digunakan untuk apa?! Dipergunakan siapa?!

Sekitar tahun 2009, muncullah teknologi Blockchain yang mendobrak dan mampu menghancurkan sistem desentralisasi yang selama ini diterapkan dan diyakini benar. Sistem desentralisasi ini fokus pada keterbukaan terutama perbankan dan ekonomi, sebab pencetakan uang yang berlebihan bisa memicu inflasi, nilai uang menjadi rendah, sesuai prinsip supply demand. Selain itu, juga sistem ini membuat uang dikuasai dan dikontrol sepenuhnya oleh rakyat.

Tentunya banyak yang tidak suka dengan perkembangan ini, kerakusan, ketamakan, dan ingin berkuasa tidak mudah dipatahkan begitu saja. Bank terancam bangkrut dan korupsi serta penipuan di dalam perbankan dan ekonomi bisa sulit dilakukan, rakyat menjadi berkuasa penuh. Oleh sebab itu, teknologi Blockchain dianggap paling “disruptive”, perkembangannya pada akhirnya dikacaukan dengan banyaknya penipuan dengan dalih teknologi ini, dan nilai uang kripto, yang semestinya tergantung pada rakyat pengguna, menjadi masih tergantung pada pasar uang kripto. Siapa yang memiliki uang paling banyak, tetap yang berkuasa.

Biar bagaimanapun teknologi dan perkembangannya tidak bisa dibendung, hanya soal mau bersiap atau kemudian dipaksa oleh teknologi itu sendiri. Perubahan di dalam sistem ekonomi dan perbankan tidak bisa ditahan, dan hal ini tentunya disadari penuh, terutama oleh negara-negara yang tetap ingin berkuasa dan menguasai. Efek dari “ketakutan atas perubahan” ini, yang barangkali memicu terjadinya “perang ekonomi Dunia” setelah era perang dingin usai. Konsep globalisasi dengan segala skenarionya, bisa dipatahkan oleh perkembangan teknologi. Berbagai cara bisa dilakukan agar tidak segera terjadi perubahan, politik ekonomi tidak semudah yang dibayangkan.

Seperti contohnya saja, bagaimana rakyat Indonesia sendiri sudah mulai menyadari nilai emas yang lebih berharga dibandingkan uang, juga mulai kembali lagi kepada sistem Syariah yang berbeda dengan sistem Syariah atau muamalat selama ini. Selama masih berbentuk bank dan sentralisasi, sistem ekonomi Islam yang sejalan dengan teknologi Blockchain, tidak akan bisa diterapkan begitu saja. Peperangan di batin dan pemikiran, banyak menemukan kendala, butuh proses dan waktu untuk menyadarinya dan menerapkannya.

Pandemi Covid-19 membuka semua bobrok, kegagalan, dan kesalahan manusia selama ini. Perang meski diakui tidak diakui, disadari atau tidak sudah terjadi. Pendidikan yang diagung-agungkan tidak mampu memberikan solusi. Dunia terbukti semakin menderita dan perlu ada perubahan, bila ingin mendapatkan kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Bukan hanya pemerintah yang perlu melakukan perubahan, tetapi setiap pribadi yang hidup di dunia ini, semestinya paham.

Bandung, 25 Juli 2021
05:29 WIB

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This