Tidak Perang Tidak damai, Biden-Jin Ping 3,5 Jam

by | Nov 23, 2021 | Essai

Apa yang kurang dari Indonesia, punya Mandalika, yang kata buzzer, terhebat di dunia. Tapi hampa penonton. Lalu muncul stadion di Sunter, tak kalah hebat dengan Madrid. Madrid Sunter lokasi dekat Gedong Rubu, gua yang roboh karena erosi sodetan Sunter. Sunter artinya air.

Madrid Sunter sebulan lagi “klaar”. Tapi akses ke stadion masih dalam pergulatan pemikiran eskatologis dan teknis.

Apa yang kurang dari kita? Tabib Prof Fachrudin ahli herbal Sawah Besar, JakPus, sejak 1950-an telah berkata:

Nafsu besar tenaga kurang, ibarat bubuk makan kayu.

Minumlah pil Jarianol.

Kok Amerika beda sih? Seorang gadis téngténg gitar berdiri di tepi jalan dan ia lantunkan sebuah hit dari Gloria Gaynor I will survive, orang satu-satu menghentikan langkah. Akhirnya ratusan. Itu tiap hari. Itulah Allie Sherlock, street singer. Cantik jangan ditanya, tapi warna vocalnya tiada dua. Ia keliling Eropa. Buka U-tube, tak ada panel tanpa Allie. Musisi beken gantian ke jalan dampingi Allie. Itulah spirit of frontier yang besemi di dada Allie. Sedang kebanyakan kita asyik ber-ayun-ayun bersama dongeng dan sekali-sekala membaui aroma kemenyan di kuburan orang yang sakti tak kira-kira.

VOA melaporkan pertemuan virtual Presiden USA Biden dan Presiden China Jin Ping selama 3,5 jam beberapa hari lalu, dan tidak hasilkan kesepakatan apa-apa yang terkait soal-soal dasar yang dipertikaikan dua negara, melainkan keduanya sepakat tidak gunakan senjata pemusnah massal.
Situasi tidak perang tidak damai, sesuai spirit of frontier, tidak disukai USA. Empirik tahun 1967, dia dobrak juga Mesir. Tentu ini tak mengenakkan dunia Islam.

Perang Amerika vs China tentu meletus, be sure of this. Perang akan nengimbas negara sekitar, termasuk Indonesia. Cufras cafres? Better U forget it. Whether U like it or not.

It can be understood kalau beberapa orang beken Indonesia pergi ke USA. Mungkin urusan berobat, mungkin ada yang bertobat, mungkin ada juga yang eratkan bersahabat.

Saya ingat Chairil Anwar, kami sempat tinggal bersebelahan rumah di Sawah Besar. Saat itu aku masih kecil. Kukutip sebait sajaknya;

Cemara berderai sampai jauh//Terasa hari menjadi akan malam//Ada beberapa dahan ditingkap merapuh//Dipukul angin yang terpendam.

RSaidi

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This