The Art of Politics; Alamsyah vs Daoed Jusuf

by | Oct 26, 2021 | Essai

Kalau Rhoma Irama terlibat politik, dia memang punya perhatian dan kecintaan pada politik. Violist beken Idris Sardi di masa akhir hidupnya suka menghadiri diskusi politik.

Politik dan seni sebenarnya harus bertemu. Retorika presiden-presiden Amerika semua menarik. Di Indonesia terutama di era reformasi seni sudah hilang dari politik.

Tapi bagaimana Be, di era Orde Baru Menteri Agama Alamsyah menampar Mendikbud Daoed Joesoef dalam rapat yang dipimpin Menko Surono?

Sepertinya tidak ditampar, kalau tampar ke muka, kalau jitak ke embun-embunan kepala, ini tangan Mendikbud yang “digeprak” karena interupsi ketika Alamsyah bicara. Lebih jernih kita merujuk pada biografi Alamsyah Ratuperwiranegara yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan thn 1995.

Dubes Saudi ajukan niat mau mendirikan sekolah bahasa Arab. Kelak terkenal sebagai LIPIA. Dalam percakapan telpon, Mendikbud merespon: Buat apa kursus bahasa Arab, umat Islam Indonesia itu sudah fanatik, bagaimana kalau dikursus Arab?

Daoed Joesoef pada 1971 ikut mendirikan CSIS. Menag konsultasi ke Mebdikbud karena izin kursus dan semacamnya mereka yang keluarkan. Di setiap forum Daoed menolak kursus Arab, padahal kedubes-kedubes Perancis, Belanda, Spanyol membuat kursus di sini, kok kedubes Saudi Arabia tak boleh.

Menlu Muchtar Kusuma Atmaja punya gagasan bahwa karena kursus ini terkait kegiatan kedubes, izin bisa dikeluarkan Deplu. Ide Menlu dibahas rapat terbatas yang dipimpin Menko Surono. Menag Alamsyah bicara lebih dulu, Rusia dan China yang komunis boleh buka kursus, kenapa Saudi tak boleh?

Alamsyah belum selesai Daoed terus-terusan berusaha interupsi. Alamsyah “geprak” dia, kacamata Daoed terlempar. Pelanggaran etika rapat dilakukan Daoed dulu. Harusnya ini peristiwa dapat dicegah seandainya pimpinan tegur Daoed sebelum Alamsyah bertindak.

Di tahun-tahun terakhir kehidupannya saya acap ketemu Daoed di pelbagai kesempatan. Bahkan ketika dalam suatu acara di mana saya tak tahu kalau ada Daoed, saya bernyanyi keroncong “Rindu Malam” dalam kesempatan itu. Usai nyanyi eh Daoed hampiri saya memberi apresiasi. Lalu ia mengajak berfoto bertiga isterinya. Lalu kemudian dari pada itu saya mendengar Daoed Jusuf meninggal.

Penyesalan memang menyiksa diri.

RSaidi

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This