Tersenyum dalam Sepi di Kesendirian

by | Jul 23, 2022 | Pojok

Oleh: Mariska Lubis

Benar apa yang ada dalam lirik lagu berjudul “People Are Strange” yang dibawakan oleh The Doors, grup band terkenal di era ’60-an, dengan pentolan penyanyi sekaligus penulis puisi jenius, Jim Morrison.

“People are strange when you’re a stranger

Faces look ugly when you’re alone”.

Diriku merasakannya dalam waktu-waktu ketika merasa sendiri dan sunyi meski di tengah keramaian. Menengok ke kiri ke kanan, depan belakang, ke mana-mana menjadi sama saja. Entah apa yang harus diucapkan, apalagi tahu dengan siapa bisa bicara. Sementara orang-orang di sekitar tidak ada yang sendiri. Ada yang menemani, walaupun tidak saling bicara.

Seorang perempuan tua, kurus, terbaring lemah di tempat tidur. Kelihatan sudah sulit bernafas, namun meja di sampingnya tampak penuh terisi segala makanan. Tas, jaket, dan barang-barang lainnya pun berserakan di sekitar tempat tidur. Entah ada berapa orang yang menemaninya, barangkali anak mantu dan cucunya.

Bukan hanya perempuan tua itu yang didampingi baik seorang atau lebih. Dari awal  setiap masuk ke dalam Rumah Sakit, hampir tidak pernah diriku melihat pasien rawat inap yang sendirian. Walaupun sakit dan mungkin saja sudah hampir habis masa hidupnya, mereka sungguh beruntung. Ada yang menemani.

Sewaktu masih kecil dan remaja, diriku berpikir bahwa alah bisa karena biasa. Lama-lama akan terbiasa dengan kesendirian dan sunyi. Setiap kali sakit dan masuk rumah sakit pun tidak ada yang menemani. Paling hanya dikunjungi pada saat jam besuk, itu pun jika ada waktu. Seiring perjalanan waktu, tidak ada yang berubah, tetapi ternyata tetap terselip kerinduan untuk tidak merasa sepi dan sunyi. Bahkan bisa saja dianggap iri hati, diriku selalu iri melihat mereka semua.

Bukan hanya urusan sakit, urusan sekolah, pekerjaan, dan banyak hal lainnya tetap sendiri dan lagi-lagi sunyi. Untuk bicara saja terkadang takut, kecuali untuk urusan di luar pribadi. Terlalu banyak penghakiman dan tuduhan-tuduhan yang membuat bingung dan sedih. Diriku tidak pernah ingin menyakiti apalagi dianggap selalu salah dan salah,  menjadi sumber masalah. Apa pun yang dilakukan dan diucapkan adalah salah, bahkan diyakinkan bahwa diriku memang selalu salah, bersalah, dan membuat masalah.

Menangis sudah menjadi bagian dari keseharian. Bukan karena tidak bersyukur, namun diriku tetap manusia biasa yang bertakdir sebagai makhluk sosial. Walaupun keputusan untuk menarik diri dari hiruk pikuk keramaian, mencoba mulai bicara dan bercerita, tetap saja tidak mampu menghilangkan rasa kesepian itu. Apalagi bila sedang susah, gundah, dan sakit, begitu terasa dalam hati.

Diriku menyadari bahwa setiap manusia memiliki kehidupan dan prioritasnya masing-masing. Memiliki cara dan pilihan masing-masing juga. Tidak perlu diriku dimengerti sebab terlalu banyak yang harus dimengerti dan meminta dimengerti. Jika diriku pernah berharap bahwa akan hilang semua kesepian dan kesendirian ini, kini tidak lagi. Sudah lama tidak lagi berharap, diriku tidak ingin kecewa. Walaupun juga menyadari penuh, bahwa rasa sepi dan sendiri dalam sunyi, bisa membunuh jiwa secara perlahan-lahan. Tidak ada yang sanggup benar-benar sendiri.

Diriku terlalu buruk bagi semua yang ada dalam kehidupan ini meski diriku tidak pernah ingin menjadi pohon besar yang kuat ataupun menjadi bunga terindah. Biarlah diriku hanya menjadi pupuk yang tidak perlu tampak, paling tidak hanya itu yang mampu diriku berikan, untuk membuat diriku tetap memiliki keinginan untuk hidup. Tanpa harap, tetap dalam sunyi dan sendiri. Bahagia yang lain, senyum dan tawa di hadapan, jauh lebih penting dari diriku, dan yang mampu menghapus tangisku.

Tersenyum di kesendirian, semoga diriku mampu.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This