Tersembunyi

by | Jul 1, 2022 | Cerpen, Tunas Muda

Oleh: Varisha Sharleez Simatupang

Suara jangkrik menghiasi malam ini. Udara yang panas rupanya mampu menggerakkan Tera untuk menyalakan pendingin ruang dengan suhu dua puluh satu derajat. Gunting dan koran berserakan, remah-remah lilin mengotori lantai, gumpalan kertas yang dibiarkan teronggok di lantai merupakan kondisi kamar Tera saat ini. Jika Ibu sudah melihat keadaan yang seperti ini, habislah Tera diceramahi tujuh hari tujuh malam.

Namun, bukan perihal itu yang menjadi masalah sekarang. Tugas seni budaya yang seharusnya dikumpulkan esok, rusak dalam sekejap. Proyek membuat patung dari lilin bukanlah pekerjaan yang mudah. Tera sudah puas menangis tadi siang ketika melihat patungnya pecah berkeping-keping karena ayam tetangga. Ingin rasanya Tera menyembelih dan menggoreng habis ayam itu, tapi mau bagaimana lagi. Nilai jelek tak bisa ia hadapi, maka dari itu ia bergegas bikin yang baru.

“Astaga,” Tera menggigit bibir tatkala leher angsa tersebut tidak tegak ke atas dan berakhir patah. Sungguh, musibah pecahnya patung Tera sudah cukup, sekarang ditambah lilin yang tampaknya tak mau bekerja sama dengannya. Kemarin patung angsanya bisa berdiri dengan baik, namun sekarang sepertinya ia sedang ditimpa kesialan.

Perut yang berbunyi merengek minta diisi diabaikan olehnya. Dahi Tera mengerut, bibirnya melengkung ke bawah, gaya duduk dengan kaki menekuk seperti bapak-bapak di warteg. Rambutnya sudah berantakan tak karuan, lengkap dengan kulit kusam karena ia belum mandi sore. Tiba-tiba, suara dering ponsel masuk ke rungunya, membuat kegiatan membentuk leher angsa Tera terhenti sejenak. Setelah melihat nama yang tertera, bola matanya memutar.

“Apa?”

Hei, baru ku telepon nada bicaramu sudah mengerikan. Lagi pusing tugasmu pasti?

Tera berdecak, menyalakan mode pengeras suara agar tidak perlu menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya. “Kalau kau hanya ingin mengganggu, enyahlah.”

Suara kekehan terdengar dari seberang sana. “Di rumah ada Ibu, kan?” Tanyanya, dijawab dengan deheman. “Oke.

Sambungan telepon terputus, namun tak dihiraukan Tera. Gadis itu terlewat fokus, sampai akhirnya leher angsa pun jadi. Gumaman riang keluar dari mulut, kaki yang pegal diluruskan olehnya. Dan ia baru sadar, sambungan telepon sudah diputus secara sepihak sepuluh menit yang lalu.

“Ngapain nelpon coba,” gumamnya, membuka media sosial sebentar untuk menghadiahi kerja kerasnya membuat leher angsa. Padahal, patungnya belum sempurna selesai.

“Ra! Hadi datang!” Panggilan Ibu menghentikan Tera dari aktivitas menelusuri media sosial. Tera segera bangun, kemudian turun ke lantai satu. Benar saja, seorang laki-laki berambut cepak itu menyengir di sofa ruang tamu ketika melihat dirinya. Tangannya menenteng sebuah plastik berisi makanan.

“Sumpah, kau ngapain kesini?” Tanya Tera, berkacak pinggang menatap Hadi sinis.

“Heh, Hadi kesini kok malah ditanyain begitu. Makasih, ya, Hadi udah datang. Dari tadi Tera di kamar terus, tuh,” Ibu mendorong Tera. “Ibu tinggal dulu, ya.”

“Iya, Bu!” Sahut Hadi, kemudian menyodorkan bungkusan plastik tersebut. “Martabak.”

Sudut bibir gadis berambut pendek itu naik, tangannya menyambar bungkusan tersebut, menyengir lebar. “Tumben baik,” sedetik kemudian, kepalan tangan Hadi mendarat di kening Tera membuat empunya mengaduh.

“Aku sering mengirim ini hampir tiap minggu, bodoh.”

Tera mencibir, mulai melahap satu potong martabak keju cokelat kesukaannya. Sepotong martabak saja sudah bisa memperbaiki suasana hatinya. Ditambah teh manis, lengkap sudah kenikmatan yang hakiki.

“Mana, sih, tugasnya? Kubantu sini,” Hadi mencomot sembarangan martabak, sekejap kemudian dihadiahi tepisan keras dari Tera. Pemuda itu berdecak. “Tak tahu terima kasih.”

“Jangan borok sikutan,” desisnya, kembali melahap martabak. “Hanya tinggal membuat dataran dan hiasannya, sih. Sumpah, aku masih dendam sekali dengan ayamnya. Dia punya mata atau tidak, sih?! Masa benda seperti itu saja tidak bisa lihat.”

Hadi hanya tersenyum, mendengarkan ocehan gadis itu yang masih berlanjut. Noda cokelat yang tertinggal di sudut bibirnya menambah kesan menggemaskan bagi Hadi. “Kalau makan cemong gini, bagaimana reaksi pacarmu nanti.”

Tera memutar bola mata, meski dalam hati cukup cemas. Apakah laki-laki di depannya akan jijik atau tidak suka dengannya. Penampilan Hadi yang terbilang cukup tampan ini dapat mendebarkan hati Tera. Rambutnya yang sudah pasti tidak disisir, kemeja flanel dijadikan luaran, kaus hitam, serta celana bahan merupakan penampilannya saat ini. Apalagi, aroma parfum maskulin Hadi yang menguar menambah tingkat ketampanan. Oh, ayolah, Tera. Apa yang kau harapkan dari seorang sahabat lelaki? Tak kan ada perasaan yang tertambat di hatinya.

“Mau duduk-duduk di teras?”

***

Tera tergelak keras, perutnya sakit bukan main. Air matanya bahkan jatuh saking kerasnya ia tertawa. Si pelaku pun ikut tergelak, menyeruput teh panas yang tadi disediakan Ibu. Hadi memang tidak pernah gagal dalam membuat lelucon. Setiap berada di sisi Hadi, mustahil Tera tidak tertawa barang sekali pun.

“Tidak terasa, sudah mau lulus, ya. Kau jadi SMA dimana?”

Tera yang tadinya masih tertawa, lantas terdiam. Sebulan lagi menuju upacara kelulusan, Tera hampir melupakan itu. Ia tersenyum tipis. “Aku sudah diterima di SMA Negeri.”

“Iyakah? Parah sekali, kau tidak memberitahuku. Aku ini apa bagimu?” Sinis Hadi, kembali menyeruput teh yang sudah dingin. “Nanti, kita jangan sampai putus kontak.”

Pembicaraan seperti ini, Tera benci. Rasa takut dan sedih akan berpisah dengan Hadi. Ia tahu, Hadi akan melanjutkan sekolah ke luar kota, karena kerja ayahnya. Mau tak mau sekeluarga harus pindah. Hadi pun sudah diterima di sekolah tersebut, Tera bisa apa. Lagi-lagi, ia kehilangan sahabat kecilnya.

“Kau sedih?”

Tera memukul lengan lawan bicaranya. “Masih bertanya? Padahal sudah jelas aku sempat menangis waktu kau berkata akan pindah ke luar kota. Dasar bodoh.”

Hadi mendesis. “Kukira kau akan berubah pikiran. Siapa tahu, aku pernah menyakitimu, lalu kau akhirnya bersyukur akan segera berpisah denganku.”

“Aku tidak sejahat itu. Kau kira aku akan rela berpisah denganmu? Oh, atau malah kau yang senang kita berjauhan nanti?” Ujar Tera, matanya sedikit berkaca-kaca membuat Hadi terdiam. “Bisa tidak, sih, jangan bercanda soal perasaan? Aku sedih, sedih sekali sampai rasanya ingin memaksamu tetap di sini.”

Sebulir air mata Tera jatuh menyusuri pipi, wajahnya merah pertanda ia sedang menahan emosinya. Sementara, Hadi menunduk dalam. Ia sadar, Tera benar-benar sedih. Rasa bersalah kian membesar di relung hatinya kala Tera terisak. Tangannya yang semula hendak memeluknya, urung dilakukan. Akhirnya, ia hanya mengusap-usap bahu Tera.

“Maaf, aku tahu kau sedih. Maafkan aku,” Hadi berlutut di depan Tera, berusaha mengintip wajah yang berusaha Tera sembunyikan. “Hei, lihat sini.”

Gadis itu menatap Hadi. Sedetik kemudian, ia menangis kencang membuat Hadi terkejut. “K-kau jangan lupakan aku di sana. Cari sahabat yang lebih baik dariku.”

Hadi tersenyum tipis, mengusak rambut Tera. Tak dapat dipungkiri, Hadi ingin menangis tetapi ditahannya. Bisa-bisa, besok ia akan diledek mati-matian karena menangis. “Iya, nanti aku akan cari yang lebih baik.”

“Ih!” Tera melotot, memukul lengan Hadi sementara pelakunya hanya tertawa. “Aku ingin mengantarmu ke bandara nanti. Hubungi aku jika kau benar-benar akan pergi.”

Hadi mengangguk, senyumnya masih terpatri di wajahnya. “Tunggu aku. Aku akan kembali nanti. Belajar yang benar, jangan bermain terus.”

Dua manusia itu saling tersenyum, menyembunyikan satu perasaan yang tak seharusnya ada. Perasaan yang rela dipendam, tak diungkapkan. Rasa tidak ingin kehilangan satu sama lain mengalahkan rasa suka. Dan pada akhirnya, hanya mereka dan Tuhan yang tahu perasaan masing-masing.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This