Terlenakan

by | Oct 25, 2021 | Essai

Perhelatan manusia sepanjang masa dan waktu silih berganti, tidak akan pernah berhenti bagaikan pusaran angin, pusaran air dan pusaran panas. Diibaratkan Tiadanya 100 orang meninggal dunia, muncullah 1000 pengganti terlahir dihadapan alam semesta, tentunya kira-kira begitu.

Berdasarkan data Administrasi Kependudukan (Adminduk) per Juni 2021, jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 272.229.372 jiwa, dimana 137.521.557 jiwa adalah laki-laki dan 134.707.815 jiwa adalah perempuan” (Zudan,07/08/2021).

Pada Nopember 2020 tercatat sebanyak 170.278 bayi lahir. Sebulan berselang, pada Desember jumlah bayi yang lahir sedikit menurun menjadi 146.693 jiwa.

Kemudian awal tahun 2021 pada Januari tercatat jumlah bayi lahir sebanyak 113.057 jiwa. Pada Februari 2021, jumlah bayi lahir turun menjadi 71.291 jiwa. Sehingga selama 4 bulan sejak Nopember 2020 hingga Februari 2021 jumlah pertambahan penduduk Indonesia sebanyak 501.319 jiwa.

Tinjauan dari hal tersebut diatas, menunjukkan bahwa sirkulasi terus bergulir dari berbagai masa dan peradaban. Tidak akan berhenti berlomba berkompetisi, berjuang dalam segala hal, adanya kematian juga kelahiran. Mati dan hidup takdir dan kodratnya, perjuangan dalam kehidupan, penghidupan atas kerja keras dan nasibnya, teriringi do’a.

Dalam sebuah perjuangan tentunya diniati dengan hati yang ikhlas, oleh karena mengemban sebuah amanah, jikalau perjuangan dilandasi dengan berbagai hal yang kelabu, kembali pada jati diri manusia yang menjalankan jalannya. Kesemuanya disadari, tidak ada yang lupa, namun manusia berusaha mencoba-coba dengan niatan yang sudah diolah dalam pikirannya dan bukan tiba-tiba.

Kata tiba-tiba banyak dilantunkan, seakan apa yang dilakukan tidak terpikirkan sebelumnya, padahal sesungguhnya yang paling mendasar, sangat sederhana ada pada kesetiap harinya. Oleh karenanya tidak ada kata “Bermain Sulap”, kesemuanya direncanakan, diagendakan, dikumpulkan hal yang akan dibahas, diolah dan disajikan.

Tinjauan dari data angka kelahiran, kematian tentunya sebagai sandingan secara nyata perkembangan jumlah penduduk, dihadapkan pada situasi berbagai aspek kedepannya dan kesiapan akan datang, dan belum diketahui perubahannya sejauh apa, hal-hal diluar perkiraan yang menjadi ancaman, tantangan, hambatan, gangguan. Tentunya jika tidak ada kesiapan dan solusi yang tepat manfaat, tepat guna mengantisipasi hal-hal kedepannya, maka seperti dihadapkan adanya gunung meletus, gempa bumi yang tidak mampu diprediksi dengan cepat dengan alat tekhnologi yang canggih, dengan dasar berkaitan sesuatu hal diluar kuasa manusia.

Pada dasarnya dari sekian banyak manusia terlahir di bumi pertiwi, satu kata menaikkan harkat dan martabat dan kemakmuran tidak semu dan merata dinikmati secara utuh, bagi anak negeri menjadikan suatu kebahagiaan yang sejati. Apakah hal tersebut bisa duwujudkan dengan sesungguhnya!. Dengan berbagai hal bertahun-tahun seperti menyalakan sebuah lilin, berganti lilin dan belum berganti yang lebih terang.

Terlenakan dengan sebuah keadaan yang dianggap nyaman, walaupun pertarungan di bawah kasat mata dan yang terpendam siap-siap, ancang-ancang melakukan serangan. Dominasi manusia secara sifat kemandirian pribadi tiupan Allah Taala saat pertama dihembuskannNya, berbeda satu dengan yang lainnya. Bagaimana tiupan awal olehNya, pada insan manusia lebih egois hanya dirinya sendiri yang terpenting ada dalam genggamannya, dan bertalian pikiran sama dalam ikatan tertentu dalam mengejar duniawi. Yang dilakukan atas kekuatan, kekuasaannya lebih diutamakan dengan berpikiran “Kapan Lagi Mumpung Bisa”, dan mengutamakan garis keturunannya, sehingga semua mapan dan tidak susah.

Ratusan juta penduduk jika semuanya dicipta dan terlahir di bumi, sama-sama egois bagaimana saya menang dan unggul, tentunya tidak ada yang mengalah maka tentunya kerusakan merajalela, sebagaimana kejahatan kriminal. Kejahatan kriminal berkembang sebagaimana pola pikir yang diutamakan, dengan berbagai cara dilakukan untuk menghasilkan, entah merugikan sesamanya, membawa korban tidak ambil pusing bagi mereka, yang terpenting memiliki dengan cara yang tidak syah.

Warna dari perilaku, tingkah laku manusia tentunya sangat berbeda, bagaikan warna dari cat rumah, dengan kualitas yang berbeda. Tinggal pilihan bagi manusia hendak dibawa oleh jiwa dirinya sendiri kemana arahnya. Anggaplah juga bagai lapisan bumi, melihat dibagian atasnya saja menunjukkan suatu hal yang berbeda, ada ketinggian, lembah, cekungan, ketajaman.

Pada saat diri manusia berebut atas kekuasaan, dengan perjalanan kehidupan, penghidupan yang diperjuangkan pada titik puncak, tentunya sifat diri bermunculan, tidak berkehendak jatuh, jungkir balik, kembali pada titik kejatuhan. Sifat bermunculan pada hanya titik isi kepala, bagaimana bertahan, diperjuangkan kelanjutan lebih berkiprah, dan lebih eksis, tidak mau kalah, kalau bisa gunung dibeli, samudra dikuasai, awang-awang sebagai batas kepemilikan antara bawah dan atas.

Pada saat titik dipuncak tidak jarang lagi melihat di bawah, yang dilihat di bagian atas, di bagian bawah dibuat bukan berkelas, tidak ada artinya, diperlukan jika hanya saat tertentu, “bagai budak”, selesai budak dilepas, entah hidup, dan mati bukan urusannya lagi. Hal demikian menjadi kenyataan, bukan fatamorgana belaka.

Insan manusia sangat misterius sebagaimana kodratinya, saat awal kondisinya biasa saja, tatkala mengalami perubahan, melejit terlupakan dan melupakan jati dirinya sebagai insan manusia. Mencoba belajar atas lingkungannya membuat jarak pemisah, berkatapun keluar bebas tidak ada penyekat pantas dan tindaknya.

Adakalanya diam namun membunuh, sifat angkara murka, keganasan bermunculan di setiap arena gelanggang, hal ini terbesit dalam dirinya semua sudah digayuhnya, tidak akan susah lagi dalam kehidupan, penghidupan. Belajar kesewenang-wenangan mengklaim tidak ada dirinya, tidak akan bisa makan, tanpa dirinya tidak ada perubahan, tidak ada dirinya akan mati tidak berdaya.

Hal lain sifat-sifat menguasai membangun di bawah permukaan, membuat kekuatan perkuatan dan membentuk kekuatan lembaran-lembaran diatasnya, yang dikendalikan, digerakkan dan dimainkan sesuai kehendaknya. Tujuan menguasai segala hal dengan kaki tangannya, bagaimana sebuah “Piring Besar”, dalam naungannya, mereka tinggal diam memainkan mulut, jarinya berputar-putar, tertawa terbahak-bahak, dengan umpatan dengan bangganya “Goblok’, matilah dikau, mereka tinggal berselancar menurut kehendaknya, semuanya sudah tertata dengan kuatnya, tidak akan runtuh selamanya.

Kembali sebagai jatidiri anak bangsa, terlahir di bumi pertiwi syurgawi, berpijak berbagai peradaban yang sangat tinggi peradaban nilainya. Inginkah! Menegakkan semangat hati nurani, hati terdalam mempertahankan, ketahanan yang sesungguhnya ketahanan sejati. Berpulanglah kembali ikatkan jemari, hati bertalian anak negeri satu nusa, satu bangsa, satu bahasa bangsa indonesia. Tidak semu, tidak kelabu, harkat dan martabat anak negeri bumi pertiwi atas perjuangan masa lalu, sangat mahal nilainya, kemakmuran merata dan tanamkan sebagai tonggak sejarah sebagai tolak ukur, parameter yang tidak tergadaikan, digadaikan menjadi reruntuhan mental, moral jati diri Bangsa Indonesia.

Merdeka Sejati.

Sby, 21 Oktober 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This