“Terimakasih Guru”, Sebuah Refleksi di Hari Guru

by | Nov 26, 2021 | Essai

Guru menjadi salah satu subyek penting yang ikut menentukan masa depan peradaban sebuah bangsa. Selain tentunya faktor keluarga sebagai entitas pertama yang membentuk pola perilaku dan karakter anak. Tetapi peran guru sebagai pendidik sehari-hari di sekolah berperan besar dalam pembentukan tingkat intelektualitas anak, budi pekerti dan berkebudayaan. Interrelasi antar teman dan cara bersosialisasi serta membangun mimpi-mimpi anak didik agar siap dan mempunyai kemauan besar untuk menggapai cita-cita anak sesuai bakat dan keinginannya.

Sosok guru pula yang menjadi panutan anak. Menjadi tokoh yang dikagumi, diimpikan untuk diduplikasi dalam perilaku keseharian, berikut tata wicara dan kebijaksanaan yang ditunjukkan oleh guru di hadapan anak didik. Di sini guru menjadi the next person setelah sosok orang tua yang diimpikan dan dikagumi. Anak-anak selalu mengikuti apa arahan guru, baik dalam mata pelajaran ataupun hal-hal terkait pembentukan watak sosial yang ingin dibangun oleh sekolah kepada para muridnya. Juga dalam rangka membangun sikap-sikap positif untuk merangsang aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa didik (Bloom,Benjamin, 1956).

Tidak heran saking menjadi sosok idaman, kadang seorang alumni sekolah tingkat dasar, pertama dan menengah selalu terkenang-kenang akan kebaikan gurunya. Kelembutan dan kesahajaan serta sikap bijaksana yang diperlihatkan dan dicontohkan, menjadi figur melekat dalam pikiran anak didik dan terbawa sampai dewasa.

“Mengenangmu guru, adalah kesejukan dan hangatnya sinar mentari.”

Mengingat peran teramat penting para guru, negara-negara di dunia menempatkan sosok guru sebagai figur terhormat dan diberikan segala privilege dan tunjangan kesejahteraan yang tinggi. Tak lain agar para guru dapat fokus mengajar dan membangun karakter unggul para generasi penerus bangsa. Satu demi satu generasi unggul diharapkan terus diciptakan oleh para guru per periode tahun ajaran. Tak heran Kaisar Hirohito pun menanyakan berapa orang guru yang masih ada ketika Jepang hancur lebur sebagai pihak yang kalah dalam Perang Dunia 2.

“Guru, tak hanya membangun individu berkualitas, tapi juga merekayasa suatu peradaban unggul. Jelas bukan kerja sembarangan.”

Namun, peran dan intensi guru tetap mengikuti strategi besar dari sistem pendidikan sebuah bangsa yang ditatalaksanakan dalam sebuah sistem pendidikan. Sistem pendidikan berikut pola pengajaran dan kurikulum bagi siswa didik menjadi panduan dalam penerapan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) para guru.

Indonesia telah sebelas kali membongkar pasang kurikulum pengajaran siswa sejak masa orde baru sampai kini. Para guru harus lintang pukang menyesuaikan setiap terjadi perubahan kurikulum. Wajib ditelusuri betul, apakah negara-negara maju sesering kita dalam membongkar pasang kurikulum pelajaran. Finlandia misalnya, negara yang masuk 10 besar PISA menjadi negara yang siswanya paling moncer selain China dan Singapura, jumlah mata pelajaran tidak “seabrek-abrek” seperti kita. Penyesuaian mata pelajaran bagi tingkat sekolah dasar hanya agar anak didik mengerti huruf dan angka, lainnya adalah mapel kesenian, musik, menggambar dan hal ringan lainnya. Begitu pula China dan Singapura. Baru setelah berada di tingkat Menengah konsentrasi pada mapel sangat ketat dan menekan. Para siswa di Korea Selatan terkenal memiliki banyak masalah akibat tingginya persaingan yang berdampak pada angka bunuh diri, perilaku kriminal geng, dan lain-lain.

“Harumnya amal bapak-ibu guru, adalah parfum kehidupan paling wangi, yang membawa kenangan seumur hidup.”

Dari seringnya berganti kurikulum, menjadi tak jelas lagi siapa yang salah. Menjadi pertanyaan besar, mengapa sejak dulu kualitas pendidikan Indonesia menurut PISA selalu “setia” di urutan 10 dari bawah. Hasil riset PISA 2018 Indonesia pada urutan ke 74 dari 79 negara yang disurvei soal kemampuan membaca dan matematika, sains. Padahal sudah gonta ganti kurikulum dan bongkar pasang Menteri Pendidikan. Para pengamat menyatakan, rendahnya posisi PISA Indonesia adalah akibat “keseringan” ganti kurikulum. Hingga tak jelas lagi mana sasaran, target dan mana daya jangkau siswa, serta kesiapan tenaga pendidik.

Rasanya, penelusuran interdisiplin ilmu dibutuhkan untuk pembenahan total sistem pendidikan saat ini. Terlebih semasa dan paska pandemi covid 19, sebagai sesuatu yang tidak pernah dialami para guru yang perlu menyesuaikan strategi baru dalam KBM.

Tinjauan segi antropologi, budaya, gen, sosial ekonomi, dan lain-lain mutlak harus dilakukan agar siapa tahu setelah dilakukan riset serius, Indonesia dapat menemukan formula jitu mengejar ketertinggalan. Perbedaan letak geografis negara kepulauan yang saling berjauhan, sedikit banyak mungkin berpengaruh terhadap kualitas para pendidik dan juga para murid antar daerah. Kualitas siswa didik di Pulau Jawa diketahui berbeda level dengan kualitas siswa didik di luar Jawa, sehingga siswa pindahan luar Jawa yang bersekolah di Yogya misalnya, harus menjalani turun “grade”.

Tetapi apapun, guru tak bisa disalahkan. Guru sesuai dengan prasyarat dan syarat-syarat akademis yang dilaluinya lolos menjadi seorang guru, tentu telah memiliki kualifikasi tersendiri dan khusus. Sistem pendidikan dan pola kurikulum yang akhirnya harus mereka ikuti.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya manusia unggul dalam tingkat intelektual dan kecerdasan sejak dulu kala. Jenius Habibie dan Soekarno, Sudjatmoko, dan banyak lagi ahli-ahli terkemuka asal Indonesia yang akhirnya mengabdi di kampus-kampus terkemuka luar negeri, menjadi bukti. Juga para siswa jenius yang berserak kita miliki.

Akhirnya, kepadamulah jua wahai para guru, harapan kami tumpahkan. Agar nasib peradaban bangsa besar ini tetap menyinarkan kilaunya di tangan-tangan saktimu…

Selamat Hari Guru!!!

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This