Terbelah Sebelum Raya

Sep 7, 2023 | Essai

Views: 0

Ini bukan kisah. Ini kenyataan. Benua Nusantara begitu sangat strategis, subur makmur dan kaya raya. Kondisi ini selalu menjadi pusat perebutan kekuasaan di antara orang/suku/kerajaan pribumi dan pendatang. Maka, hibridasi dan amalgam (bhineka tunggal ika) itu keniscayaan. Walau kini kita menyembah fundamentalisme dan konflik tak berkesudahan.

Karena salah kurikulum; salah sekolahan; salah kepercayaan, benua ini panen pengkhianat. Bertindak khianat artinya tidak menepati janji. Ungkapan ini juga digunakan kepada orang yang suka mengambil hak orang lain, juga korupsi, kolusi dan nepotisme.

Para pengkhianat selalu bermental munafik. Para munafikun selalu bertumpu pada karakter selingkuh. Ini jenis gejala gangguan mental kepribadian ambang atau borderline personality disorder (BPD). Jenis gangguan kesehatan mental ini membuat penderitanya memiliki suasana hati, emosi, hubungan, dan perilaku yang berubah-ubah. Tak bisa dipercaya dan suka meremehkan: bohong, nipu dan culas.

Karakter selingkuh menghasilkan sikap khianat. Perilaku pengkhianatan adalah bentuk pemutusan, perusakan, atau pelanggaran terhadap suatu kontrak praduga, persetujuan, kerja sama, kepercayaan, atau keyakinan, yang menciptakan konflik secara moral dan psikologis dalam hubungan antar individu, antar organisasi, atau antara individu dan organisasi.

Tentu yang paling menjijikkan dari khianat, munafik dan selingkuh adalah apabila dilakukan terhadap negara dan warganegaranya. Tiga kelakuan terhadap negara dapat diartikan sebagai suatu pertentangan terhadap konstitusi negara. Maka, pelakunya disebut penjahat negara, makar dan musuh abadi kenegaraan (enemy of the state).

Musuh negara adalah orang yang melakukan kejahatan ipoleksosbudhankam terhadap negara, pemerintahan dan bangsanya. Hukumannya eksekusi mati sebagai upaya melindungi keamanan nasional negara dan bangsa.

Hadir dan menjamurnya musuh negara yang kini justru menguasai negara (menjadi elite negara) mengakibatkan bangsa dan negara ini terbelah. Kita kini dirundung situasi volatile, uncertainty, complex, and ambigue (VUCA) terhadap food, fuel, financial, frequency, dan forces of army, forces of law (krisis 5F).

Keterbelahan ini merupakan kondisi di mana Indonesia kaya akan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM), tetapi sebagian besar rakyat Indonesia saat ini masih hidup dalam kemiskinan, kepengangguran dan ketimpangan (3K).

Karena terbelah, kita berada dalam keadaan yang sangat rawan. Banyak elite kita yang jadi pejabat bermental penjahat karena korup, minta disogok, minta dibeli. Akhirnya, elite yang terpilih tidak menjaga kepentingan rakyat, tidak mengamankan kepentingan rakyat, tidak menjaga dan mengamankan negara, tetapi menjual negara kepada pemodal dan oligark yang jahat bin serakah.

Ketika negara dan demokrasinya dikuasai pemodal dan oligark serakah maka strategi ekopol yang disuburkan adalah model pecah belah (divide et impera). Rakyat sibuk saling berkelahi sehingga bertumbangan dan tersingkirkan dari gelanggang ekopol nasional saat yang sama SDA kita sudah beralih kepemilikan.

Epistema keserakahan kini riil di kehidupan kita. Tentu ini sifat yang tak pernah merasa puas dengan apa yang sudah diperolehnya. Sebab, serakah dan tamak adalah kecintaan terhadap harta dunia secara berlebihan. Tapi ingat, serakah merupakan penyakit hati yang bisa menjangkiti siapa saja.

Ini sikap anti Pancasila sebab padanya melekat ciri-ciri anti ketuhanan; anti kemanusiaan; anti kesemestaan karena terlalu mencintai harta yang dimiliki; semangat berlebihan dalam mencari harta tanpa memperhatikan waktu dan kondisi tubuh; terlalu pelit dan iri dalam membelanjakan harta; merasa berat untuk mengeluarkan harta demi kepentingan sesama; mimpi dan mendambakan kemewahan dunia.

Belum kita menjadi negara sejahtera, yang terjadi justru terbelahnya kita semua. Belumlah jadi negara raya bin jaya, yang terhadirkan justru negara paria. Warganya makin ke sini makin terbelah dan paregreg saja kesukaannya.(*)

Yudhie Haryono

Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This