Teras

by | Nov 18, 2021 | Essai

Jong Java, merupakan salah satu organisasi pemuda yang ikut dalam proses pencetusan Sumpah Pemuda. Organisasi ini di ketuai oleh Dr. Satiman Wirjosandjojo, dengan wakil ketua Wongsonegoro, sekretaris Sutomo dan anggotanya Muslich, Musodo dan Abdul Rahman.

Menjelang lahirnya Sumpah Pemuda, beberapa organisasi Pemuda yang ada di Nusantara, termasuk Jong Java, sibuk memikirkan sesuatu yang bisa menjadi pendongkrak semangat perjuangan.

“Dul, sudah kamu siapkan berkas untuk kita bawa besok?” tanya Satiman kepada Abdul.

“Sudah. Kuletakkan di atas meja Mas Sutomo. Baru saja Mas Wongso melihat-lihat berkasnya,” jawab Abdul.

Satiman lekas melihat berkas yang sudah disiapkan Abdul untuk kongres di Batavia. Satiman melangkah ke teras depan sambil membawa berkas yang sudah rapi itu.

Duduklah ia di kursi cokelat tua dari kayu jati dengan ukiran yang sederhana.

Satiman mulai sibuk membaca berkas yang sudah disiapkan untuk pertemuan besok. Setelah membaca begitu lama dari halaman awal hingga akhir, memilah kata demi kata agar poin yang ia sampaikan besok dapat diterima dengan baik. Puas dengan hasil berkas tersebut, Sutiman menata kembali berkas gagasan yang rapi tersusun oleh mesin ketik.

“Bagus. Besok kita menuju Batavia. Tabrani sudah menghubungiku kemarin. Malam di Gedung KJB,” dengan penuh semangat Satiman memberitahu Abdul.

“Rapat itu?” tanya Abdul pada Satiman.

“Ya. Kukira pemuda dari seluruh negeri ini tiba berkumpul. Kabarnya sudah merantai ke mana-mana,” jelas Satiman sambil menyerahkan berkas gagasan kembali ke meja Sutomo.

Jarum jam menunjukan pukul 19:30 Wib. Terlalu siang untuk mengakhiri hari. Satiman kembali menuju teras. Duduk merenung ditemani langit yang terkungkung kemerdekaannya. Tegang di kursi, sendiri. Berkecamuk dalam gelisah karena masih berada dalam cengkeraman penjajah.

Abdul yang selesai dengan mesin tiknya, melihat temannya menghadapi malam yang mengganggu kedamaiannya. Mungkin juga kedamaian bangsa. Bahkan dunia.

“Kok ngelamun sendiri, Mas?” Abdul menepuk pundak Satiman.

“Oh, ndak. Cuma merenung sedikit,” ujar Satiman membalas.

“Sedikit atau banyak?” kembali Abdul bertanya.

“Kurasa dunia masih belum siap,” jawab Satiman singkat.

“Belum siap?” tanya Abdul agak heran.

“Ya. Untuk mencapai hidup damai saja, kita perlu menumpahkan darah sebagai bayarannya. Lihat saja langitnya. Luas. Tapi tidak bebas,” imbuh Satiman menjelaskan.

“Makanya besok kita bersatu Mas,” kata Abdul memberikan semangat.

“Ya. Itu satu. Aku juga tahu bangsa ini punya anak muda yang perkasa dan berjiwa besar,” balas Satiman.

“Atau berjiwa ciut yang dibesar-besarkan dengan ¬cuatan tanpa isi?”

“Bisa saja kamu Dul. Kalau kamu melihat seabad dari hari ini. Apa yang tergambar olehmu Dul?” Satiman balik bertanya pada Abdul.

“Wah angel jawabannya ini. Kalau seabad dari hari ini ya. Mungkin kita menjadi bangsa yang besar?” jawab Abdul memberikan bayangan.

“Besar belum tentu baik. Kalau ngguling?” pungkas Satiman.

“Ya berdiri lagi, berjalan dan ngguling lagi, hahaha,” kata Abdul sambil tertawa.

“Sebentar, Aku mau ke belakang dulu,” Satiman pergi meninggalkan teras. Abdul kini sendiri menghadapi langit, meja, kursi yang diam dalam sendirinya.

Abdul, 23 tahun, perjaka yang tergabung dalam organisasi pemuda dan menumpahkan jiwanya untuk perjuangan. Meski bukan dari keluarga terpandang seperti Satiman, Abdul tidak segan untuk srawung kepada banyak orang.

Semasa kecilnya, Abdul ingat betul, bapaknya pernah marah karena ia memakai minyak rambut hingga luber. Bagaimana bapaknya tidak marah, wong yang dipakai minyak jelantah. “Biar mirip seperti orang terkenal, Pak.” Abdul cekikikan.

Tidak lama berselang, Satiman kembali menuju teras sambil membawa secarik kertas.

“Lihat.” Satiman menunjukkan coretan gagasannya kepada Abdul di secarik kertas.

“Apa ini, Mas?” tanya Abdul kebingungan.

“Impian,” jawab Satiman.

“Impian?” Abdul makin bingung.

“Aku ingin mendirikan pesantren. Ya hanya angan saja. Lebih baik ditulis supaya tidak luntur.” Ujar Satiman sambil tersenyum.

Satiman lahir dari keluarga yang taat beragama di Surakarta. Kehadiran lembaga pendidikan tinggi Islam menurutnya sebuah kemestian.

“Mau mendirikan di mana, Mas?” tanya Abdul penasaran.

“Di tanah kelahiranku. Aku ingin menawarkan para pemuda untuk belajar Islam dengan jenjang yang lebih tinggi,” kata Satiman menjelaskan.

“Semoga tercapai Mas.” Abdul mendoakan impian Satiman.

“Impianmu apa, Dul?” gantian Satiman yang bertanya pada Abdul.

“Sederhana saja, Mas. Kelak anakku bisa hidup tanpa bayang-bayang ketakutan. Di sini aku berjuang untuk itu. Untuk bangsa, untuk rakyat. Lewat perkumpulan pemuda inilah, kita semua bersatu to, Mas?” jawab Abdul.

“Ya ya ya. Aku setuju, Dul,” balas Satiman singkat.

Di depan teras mereka berbincang tentang masa. Masa kini. Masa depan. Dua pemuda. Dua pikiran. Satu impian. Impian mulia pemuda yang masih liar pikirannya. Mendobrak keterbatasan dan tidak takut untuk melangkah. Satu yang kini mereka mau, melihat langit yang bebas dan hidup dengan damai. Tapi, apa yang lebih menakutkan daripada kebebasan tanpa batas?

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This