Tanjung Priuk : U-Turn

by | Jul 10, 2022 | Essai

Oleh : Ridwan Saidi

(Foto pantai Sampur tahun 1988)

Priuk artinya U-Turn, putar balik. Priuk bukan dieja periuk, bukan pula priok. Toponimi di Priuk itu berasal dari Melayu yaitu Bendungan Melayu, Rorotan Malaka, Pasar Selésa bukan (hari) Selasa. Itu sebutan lain dari pasar Koja. Selésa artinya nyaman. Tirem dan Bambu itu sungai sebutannya, bukan kali. Kali Baru itu baru.

Pengaruh Melanesia kuat pada bahasa Melayu yang digunakan di wilayah yang dalam peta Panembong XVI M disebut Nusa Kalapa berbatas barat kali Sedane (lurus) dan di timur kali Citarum (pengorbanan hewan).

Di Priuk ada toponimi Sampur (akses) Le Guha atau Legoa itu Goa. Marunda terrazering, Kramat Tunggak monument stone. Rorotan Malaka keturunan Malaka, Warakas sakti.

Ada juga imbuhan atau partikel “Le”  untuk sebuah toponimi. Le Nong untuk pertunjukan, Le Deng bukan dari leding, Deng merupakan julukan untuk ketua adat. Le Deng ada di Jakarta Pusat dan ada pula di Tangerang. Kalau di Petojo disebut dengan Che Deng, dibaca cideng, ada juga cidéng.

Kalau dilihat dari segi linguistik jelas pengaruh Melani kuat, India yang katanya dari abad-IV dalam linguistik tak ada pengaruhnya. Kata-kata Nehi Mohabbat, tidak kasihku, dipungut dari Bollywood, bukan migran India yang baru kesini tahun 1873.

Keindahan Priuk sudah meredup. Pantai Sampur tinggal kenangan. Belanda klaim sampur dari zandvoort. Tidak ada hubungannya, di Tangerang disebut Sampora.

RSaidi.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This