Tampomas – 2

Oct 9, 2023 | Cerpen

Views: 0

Baca bagian pertama cerita bersambung “Tampomas”

MAKELAR

Sejak tinggal di Semarang, Istriku mulai terlihat lebih ceria. Tidak terlalu murung seperti saat masih tinggal di Boyolali. Di rumah kenangan pahit itu. 

Pagi hari dia disibukkan dengan banyak kegiatan. Dari belanja sayuran dan lauk ke pasar pagi, sampai memasak untuk sarapan kami bertiga. Siangnya dia sudah sibuk melatih perempuan-perempuan itu membuat aneka jajanan pasar. 

Sorenya dia sudah memberikan pelatihan mendalang dan nyinden untuk anak-anak remaja di sanggar budaya tidak jauh dari losmen. Malam hari dia juga masih juga sibuk membantuku untuk memilah barang-barang contoh yang aku gunakan sebagai modal untuk makelaran barang. 

Sampai saat yang paling asik adalah menghitung uang, ya uang hasil makelaranku. Kalau aku dapat uang banyak dari hasil makelaran, Istriku akan menyusun uangnya dengan rapi. Dikelompokkan dari yang logam sampai uang kertas dengan pecahan yang sama.

Istriku tak hanya muda dan cantik jelita. Dia memang multi talenta, paling pandai memasak dan membuat kue. Rasa masakannya aku kira tak ada bandingan di dunia ini. Dia selalu pandai untuk meracik bumbu bumbu khusus. 

Satu hal yang baru aku tahu sejak tinggal di Semarang adalah dia ternyata paling pandai menyanyi, nyinden dan bahkan yang tak aku ketahui sebelumnya adalah mendalang. Ya, memainkan wayang kulit. 

Menyanyi atau jadi sinden itu biasa. Tapi mendalang bagi perempuan itu sesuatu yang langka. Tapi Istriku itu paling pandai. Bahkan kalau di losmen dia sering teriak sambil memainkan wayang. Tetangga pasti terganggu, tapi tidak pernah ada yang komplain. Kupikir mereka jua malah menyukai. 

Jadi aku biarkan saja. Menurut ceritanya, ketika dia sekolah di Taman Siswa di masa remajanya, dia memang juga aktif belajar mendalang dan nyinden. Bahkan kakak iparku sering jadi tumbal untuk mengantar dia nyinden atau jadi asisten dalang untuk banyak pertunjukan. 

Kalau sudah sibuk, dia memang suka lupa waktu. Sampai sampai kadang lupa untuk urus anak laki-laki kami Narno. Sehingga anak kami kadang suka makan di tempat tetangga losmen. 

Tetangga kami memang sangat baik kadang tak hanya memberi makan anak kami, tapi juga memandikannya. Mengasuhnya seperti anaknya sendiri. 

Pernah satu ketika, pulang makelaran dari pasar siang hari, aku lihat Narno bermain dengan anak tetangga penghuni losmen. Dia sambil memegangi dan menikmati semacam tulang tetelan.  

Aku hampiri, dan tanyakan itu tulang apa padanya. Dia jawab dengan agak cedal dan girang “Ulang waung…” 

Aku kaget setengah mati sebab artinya dia sedang menikmati tulang anjing. Aku coba untuk rebut dari tangannya. Tapi dia malah menangis meraung raung. Dia cengkeram erat tulang itu dan lalu buru-buru dia klamut masuk ke mulutnya lagi.

Anak itu begitu menikmati, dikiranya aku akan meminta tulang itu untuk untukku. Akhirnya aku mengalah saja. Aku biarkan anak itu menikmati tulang tetelan daging anjing itu sampai habis sembari aku meneteskan air mata. Aku merasa diriku lah yang salah. Sejak peristiwa itu, aku selalu sempatkan untuk pulang memastikan dia makan siang bersamaku. 

__

Aku pagi ini mendapatkan rezeki yang sangat besar. Tidak pernah aku mendapatkan hasil makelaranku sebanyak ini, lima juta rupiah! 

Hasil menjualkan cengkeh impor Sansibar sebanyak lima truk. Harganya sangat murah, dan dibeli oleh pembeli pedagang langgananku sangat mahal. 

Istriku juga terlihat girang melihat uang hasil penjualan cengkeh itu. Dia bilang bisa disimpan untuk modal membuka toko dan biayai seluruh rencana usahanya kelak ketika saatnya tiba nanti di Aceh. Negeri yang tak pernah aku bayangkan sepenuhnya. 

Istriku memang luar biasa. Apa yang tak pernah aku bayangkan selalu ada saja di pikiranya. Dia katakan kalau nanti sampai di Aceh, dia ingin buka kios, lalu dia ingin biayai tetangga-tetangga untuk membuat semacam makanan industri rumahan. Dia juga bahkan sudah memikirkan bagaimana strategi untuk memasarkannya. 

Istriku memang bukan seorang ibu rumah tangga biasa. Dia memang suka berbagi ilmu pengetahuan dengan tetangganya. Bahkan dari sejak kami di Boyolali. Ketika aku pulang dari Semarang, dia selalu menagih buku-buku tentang tips-tips membangun usaha dan juga membuat aneka macam makanan, dan minuman yang dia pesan. Biasanya aku belikan di pasar loakan buku di Semarang ini. Kalau aku bawakan segepok buku itu wajahnya langsung berbinar-binar. 

Aku ini makelar, tidak suka hal-hal yang rumit seperti Istriku. Pikiranku setiap hari itu bagaimana mendapatkan orang yang kesulitan menjual barang dan aku bertugas untuk menjualkan barang mereka ke pembeli yang sudah paham reputasiku. Aku sering bahkan mendapatkan komitmen ganda, dapat persenan dari penjual dan pembeli. 

Walaupun pikiranku simpel, tapi aku punya kesamaan visi dengan Istriku. Aku tak boleh menekan harga terlalu murah ke petani. Makanya aku selalu usahakan berkontak dengan petaninya langsung dengan sesekali lakukan tebasan. 

Dikarenakan visi ini, aku juga setuju jika kelak nanti kami sudah sampai di Aceh, kami akan koordinir petani untuk menjual lewat kami dengan berikan harga yang lebih layak dibandingkan ketika dibeli tengkulak lain. 

Tak hanya itu, Istriku bilang akan ajari perempuan perempuan istri-istri petani itu cara mengolah hasil pertanian dan dia nanti yang tanggungjawab untuk menjualnya.

Istriku memang ketika di Boyolali tidak pernah lagi berdagang dan urus anak kami tiga orang. Aslinya, Istriku adalah juga pedagang hebat. Dia mewarisi bakat dari ayahnya. Ayah mertuaku. Ayahnya adalah pedagang besar dan rumahnya itu bak industri. 

Di rumahnya yang besar di kampungnya itu berjalan kegiatan seperti membuat tali tambang, membuat barang barang peralatan rumah tangga dari bahan bambu, membuat arang dan menjual bahan bahan baku untuk pabrik dari petani langsung. 

Orang-orang di rumah mertuaku itu seperti pekerja sebuah perusahaan. Jumlahnya banyak sekali dan sulit aku memastikan jumlahnya. Silih berganti orang datang bekerja, belajar dan lain-lain. 

Rumah orang tua Istriku itu sebetulnya lebih layak disebut sebagai company ketimbang rumah sih. Jadi Istriku bukan orang awam soal dagang, dia bahkan sesungguhnya paling berperan untuk memberikan saran saran strategi makelaranku. Lalu aku jadi semacam eksekutornya.

_

Istriku hamil sudah sembilan bulan. Aku dengan deg-degan menunggu detik-detik kelahiran anakku. Namun hal yang sangat mengkhawatirkan adalah dalam minggu ini aku tidak dapat meninggalkan pekerjaan mengantar langsung barang barang yang telah dibeli oleh pabrik di Surabaya. Ini adalah rekanan lamaku yang sangat bonafid. 

Aku bolak balik bertanya pada Istriku apakah aku dibolehkan pergi ke Surabaya. Hal yang mengagetkan adalah aku disuruh saja pergi. Dia bilang penjualanku ke pembeli yang yang satu ini akan memberikan keuntungan besar dan aku harus pastikan tidak ada komplain sampai di tempat nanti. 

Aku ikuti saran Istriku, pergi ke Surabaya. Begitu urusan selesai aku langsung balik ke Semarang naik kereta api. Di kereta aku sudah sangat khawatir dengan kondisi Istriku yang menunggu detik-detik kelahiran anak kami. 

__

“Plak!” tiba tiba tamparan benda keras melayang sangat keras ke mukaku ketika aku baru sampai di losmen tempat tinggal kami. Aku lihat perempuan yang tinggi tegap dengan muka merah padam di depanku. Dia seperti Batara Kala yang siap menelan mentah-mentah diriku. 

“Masno …kamu itu kemana saja???!!! Luar biasa ya kamu?? Istrimu melahirkan tapi kamu malah minggat!!!” 

Aku baru menyadari beberapa detik kemudian setelah sempat hampir hilang kesadaran karena tamparan gagang parut kayu itu. Dia adalah kakak sepupuku, Bude Lasmi. Istri Jenderal yang tinggal di Semarang ini. Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa tiba tiba muncul di losmen, padahal aku maupun Istriku tidak pernah memberitahu keberadaan kami di Semarang. 

“Itu lihat Istrimu yang tergolek tak berdaya?? lihat baik baik dengan matamu?? dia sangat kesakitan karena Asi-nya membengkak!!”

Aku langsung buru-buru lari peluk Istriku yang tergolek tak berdaya di ranjangnya. Aku peluk dan elus elus kepalanya. Aku tak tega, rasa sakit pedih di pipi kananku tiba-tiba tak terasa lagi. Pipiku langsung banjir oleh air mata begitu melihat mata sayu Istriku seperti tak berdaya. 

Aku langsung teringat mata anakku Nani, ketika dia meregangkan nyawa. Sungsum bayuku langsung terasa lemas. Aku bisa menahan rasa sakit apapun, tapi tidak rasa sakit kehilangan orang-orang yang aku cintai. 

“Mas….,” suara lirih itu keluar dari mulut mungil Istriku. Lalu telunjuknya menunjuk ke kotak bayi yang telah kami siapkan sebelumnya. Aku lepas tangan Istriku dan bergegas melihat si bayi. Bayi laki laki, sehat dan terlihat sangat merah. Dia belum bisa melihat, dia tertidur pulas. 

Oh anakku….

Aku kembali hampiri Istriku dan aku ciumi sehabis habisnya. Kakakku terlihat sambil berdiri tegap bak satpam. 

“Mbakyu…. maafkan aku ya mbak. Terima kasih sudah datang.” 

“Tolong itu kamu pompa susu istrimu yang membengkak. Dia sangat kesakitan sekali itu…” 

“Baik mbak,” Aku bergegas mencari pompa yang dimaksud, aku memang sudah terbiasa dengan peralatan kelahiran. Terima kasih Gusti, kamu berikan anugrah seorang anak yang sehat. 

Aku bantu pompa asi Istriku dan aku pandangi dia terus menerus. Matanya memang masih sayu, tapi aku lihat ada senyum bahagia di bibirnya. 

Aku peluk dia erat erat sambil kubisikan padanya, 

“Kita segera ke Aceh ya sayang…” 

Bersambung

Jakarta, 7 Oktober 2023

Suroto

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This