Surat Terbuka Untuk Presiden DMKT

by | Nov 15, 2021 | Opini

Dear Gus Baha, Gus Baharudin maksudnya. Presiden dari Desa Mandiri Tanpa Korupsi (DMTK). Ini saya baru saja mendapat pertanyaan dari seorang Suster. Suster X, sengaja saya rahasiakan namanya karena kalau ketahuan bisa jadi masalah.

Suster X menanyakan pada saya kenapa harga daging ayam di pasaran terus tinggi? Saya jawab dengan pura pura tidak tahu. Kalau harga tinggi kan berarti peternak untung besar? Apa masalahnya?.

Lalu Suster X menjawab bahwa kalau para peternak ayam rakyat kecil di tempatnya di Jawa Timur itu sekarang sudah bangkrut semua karena beberapa waktu sebelumnya harga daging anjlok.

Modalnya habis untuk memulai ternak lagi. Jangankan break event poin (BEP), bak buk atau impas, tapi bangkrut dan modalnya habis. Lalu harga daging yang terlalu mahal ini jelas merugikan warung warung kecil rakyat yang tidak mampu menaikkan harga ayam goreng dan makanan lainya karena daya beli rakyat kecil itu rendah. Mereka juga rugi.

Saya paham, apa yang dikeluhkan Suster, rakyat pemilik warung kecil itu bukan hanya jualan, mencari untung, tapi mereka itu sesungguhnya pebinis sosial sejati yang masih punya prinsip “tuno satak bathi sanak” (rugi tak masalah yang penting untung saudara). Tidak seperti restaurant mahal mahal dan sasar rakyat elit yang dimiliki anak anak muda anak orang kaya itu.

Baiklah, saya akhirnya coba jawab sepengetahuan saya yang hanya punya pengetahuan dari membaca keadaan untuk soal peternakan ini. Maksudnya setidaknya untuk memberikan bantuan analisa sedikit agar Suster bisa segera membantu rakyat peternak kecil kecil di lapangan. Setidaknya untuk memberi harapan baru.

Begini jawaban saya, “Suster X yang baik, terimakasih sudah turut memikirkan nasib para peternak rakyat kecil. Jadi begini, peternakan ayam broiler/pedaging kita memang dikuasai oleh mafia kartel, oleh tiga perusahaan besar konglomerat yang kuasai industri peternakan dari hulu hingga hilir dan termasuk ayam layer/petelur juga.

Mereka itu menguasai peternakan kita dengan cara memonopoli DOC (Day of Chicken) alias benih yang tak bisa kita tangkar sendiri, lalu mereka itu juga monopoli obat obatan (bahkan penyakitnya), pakan, hingga harga panenan.

Peternak, terutama di sektor ayam pedaging/broiler itu hanya kurang lebih 5 persen dari keseluruhan suplai daging ayam di pasaran. Sebetulnya para konglomerat itu bisa kuasai 100 persen suplai daging di pasaran. Tapi kalau seperti itu maka mereka akan mudah sekali langsung kena peraturan UU Monopoli. Karena akan langsung ketok melok melok, terang benderang. Makanya mereka masih tetap berikan kesempatan bagi peternak rakyat, tapi akan mereka terus kendalikan. Agar tidak membesar dan habisi kuasa monopoli mereka.

Caranya, mereka memainkan peran dengan membentuk perusahaan semu, perusahaan skala menengah yang sebetulnya itu milik mereka juga, biasanya dimiliki anak atau ponakan mereka. Perusahaan semu itu sengaja dimasukkan sebagai skala menengah agar masuk kategori Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Perusahaan semu itu fungsinya untuk sesekali menghantam harga daging di pasaran agar anjlok dan peternakan rakyat sesungguhnya bangkrut. Itu kenapa peternakan ayam rakyat yang hanya tinggal 5 persen. Nah, setelah itu maka perusahaan besar milik segelintir konglomerat itu menikmati untung besar harga di pasaran. Sehingga mereka kuat terus dan semakin kaya raya.

Dalam jawaban saya itu, juga saya sampaikan kalau pernah jadi narasumber di Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU), mereka itu, para mafia kartel itu terus mencoba membuat semua peraturan terkait peraturan anti monopoli itu agar lemah, dan prosesnya gugatannya dibuat agar tidak mudah tersentuh.

Begitulah yang disebut dengan korupsi mutakhir, kekinian itu. Bukan mengutil uang APBN atau APBD langsung tapi melalui peraturan dan kebijakan. Operasi lapangan mereka itu rapi, mereka kuasai asosiasi atau organisasi terkait, lalu membayar Profesor dan doktor dari kampus kampus hebat yang tidak punya nurani lagi, untuk membela kepentingan konglomerat itu.

Lalu bagaimana cara melawanya? Caranya tidak bisa kalau masih ikut sistem mereka. Bagaimana mau melawan kalau DOC, pakan, obat, dll masih harus bergantung sama mereka. Peternak ayam rakyat itu selamanya hanya akan jadi tumbal. Dibuat hidup segan mati tak mau.

Kalau saran saya adalah giatkan ternak ayam kampung kembali. Sebab ayam kampung itu bisa kita benih sendiri, pakan juga bisa kita tanam sendiri dan jangan pakai jagung hibrida yang tidak bisa kita benih. Juga kita giling sendiri pakannya.

Ayam kampung itu bukan hanya daging dan telur manfaatnya, bahkan ayam bangkok itu bernilai estetis dan mahal harganya untuk dilombakan. Juga sehat untuk dikonsumsi dan lebih enak.

Tapi bukan tanpa tantangan, seperti dulu ketika flu burung yang digembar gemborkan secara heboh oleh pemerintah itu ternyata kan virus buatan yang disebarkan dari negara adikuasa dan ketahuan karena dibongkar ibu Siti Fadilah Menteri Kesehatan kita kala itu. Ingat, kita waktu itu disuruh beli vaksinnya, dan juga orang jadi takut piara ayam kampung di rumah-rumah. Sehingga rakyat kita kehilangan sumber pendapatan, sumber gizi yang murah dan manfaat lain lainya.

Kalau tetap ingin ternak ayam, cobalah ternak ayam kampung. Carilah ceruk pasar yang pasti dan langsung seperti ke restauran tertentu. Atau buat produk hilirnya seperti nugget, bakso, dan lainnya yang baiknya dipasarkan langsung ke konsumen. Saran saya agar semakin kuat diorganisir dalam bentuk koperasi.

Suster, ekonomi kita terutama pangan memang ingin terus dikuasai oleh mafia kartel dan negara maju, agar rakyat kita ekonominya tidak mandiri dan mudah dikuasai terus menerus. Dalam seluruh sektor kehidupan kita baik ekonomi dan politik serta kebudayaan.

Bung Karno pernah katakan, hati-hati dengan apa yang kamu makan, karena apa yang kamu makan itu tentukan seberapa daulat kamu. Begitulah tantanganya.

Demikian jawaban saya yang tak berpengalaman dalam bidang ternak menternak ini Gus, tapi menurut saya penting untuk saya sampaikan kepada Gus Din. Agar jadi bahan perhatian Gus Din selaku Presiden DMTK. Sebab saya kira kalau saya sampaikan kepada Presiden Republik Indonesia sudah diwakili oleh Saudara Suroto, peternak kecil dari Blitar yang saya kira belum juga ketemu solusinya.

Gus Din dan warga DMTK saya kira punya komitmen yang lebih baik untuk perjuangkan agar UU anti monopoli diperkuat, dan regulasi lainya yang ada di sektor perternakan dan pertanian. Juga agar mendesak kebijakan Pemerintah yang ada itu memihak kepada rakyat banyak.

Salam hormat,

SUROTO
Wargamu

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This