Sumpahku Bukan Sumpah Serapah

by | Oct 28, 2021 | Pojok

Keadilan bisa ditegakkan bila ada adab dan etika dengan perikemanusiaan yang diterapkan dengan sebenar-benarnya. Kehormatan diri dan sebuah bangsa nampak jelas dari bagaimana adab dan budayanya. Jika bicara asal saja bicara, semaunya saja, seenaknya saja, maka bagaimana ada keadilan dan bagaimana juga memiliki bisa memiliki kehormatan? Para pejuang yang mendirikan negeri ini, tidak perlu banyak sumpah serapah. Sumpah Pemuda jelas menunjukkan “kelas” mereka.

Rasanya sedih sekali membandingkan bagaimana hilangnya adab dan etika dalam berkata dan berbahasa saat ini. Jika dibandingkan dengan kemampuan berkata dan berbahasa di masa lalu, masa perjuangan, bahkan sampai di era Orde Baru, rasanya betul-betul tidak ada apa-apanya. Padahal pendidikan sekolah semakin tinggi, teknologi semakin canggih, dan bahkan begitu mudah mendapatkan segala informasi ilmu pengetahuan dengan adanya teknologi internet. Apa yang salah?!

Coba perhatikan media sosial dan bahkan media online, juga tulisan-tulisan lainnya, seperti sudah tidak punya adab dan etika saja. Tidak tahu aturan. Selalu merasa benar dan merasa “paling benar”, asyik saling tuding dan menuduh, menjatuhkan. Yang paling parah adalah tidak memiliki dasar yang kuat dalam berpendapat, tidak juga bertanggung jawab atas apa yang sudah diutarakan. Betul-betul “sakarepe ndewek”.

Banyak sumpah yang dilontarkan bahkan hanyalah sumpah serapah tidak karuan. Bila pun tidak ada niat buruk, tetap saja merusak dan menghancurkan. Tidak bisa hanya sekedar niat lalu salah cara dan salah jalan. Orang melakukan ibadah, tidak bisa sembarangan, kan? Apa kalau sudah niat maka selanjutnya bisa seenaknya saja?!

Pikirkan kenapa para pemuda di masa lalu mampu mencetuskan Sumpah Pemuda hingga ada negara Indonesia ini. “Satu Bahasa, Bahasa Indonesia”, apa hanya sekedar sumpah tanpa ada arti dan makna yang berguna dan bermanfaat bagi negeri ini? Apa tidak paham bahwa bahasa menunjukkan bangsa?! Bangsa yang beradab dan terhormat, tidak akan sembarangan di dalam berkata dan berbahasa.

Barangkali jika para pendahulu pencetus Sumpah Pemuda masih hidup, mereka akan marah dan berkata, “Sumpahku bukan Sumpah Serapah!”. Meski ini hanyalah khayalan tetapi hendaknya menjadi pemicu dan pengingat bagi semua. Malulah dengan mereka! Kita hanya tinggal mengisi dan menikmati kemerdekaan saja, masa tidak mampu berbuat lebih baik, bahkan dari kata dan bahasa.

27 Oktober 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This