c

by | Nov 21, 2021 | Essai

Pada tahun 1932 tiga klub sepak bola menemui MH. Thamrin di rumahnya di jl. Sawah Besar No. 32. Jakarta. Ketiga klub sepak bola yang datang itu adalah Cahaya Kwitang, de Bruiner, dan Sencaki. Ketiganya merupakan klub sepak bola pribumi. Mereka mengeluhkan tentang tidak adanya lapangan sepak bola yang bisa mereka gunakan.

Kemudian terjadilah dialog antara MH. Thamrin dan ketiga Klub sepak bola tersebut yang kental dengan bahwa Betawi.

“Pan ade Decca Park, Vios, BVC. Ga bisa ente pake?” tanya Thamrin.

“Pula’ kate pake, Bang, tibang ngelirik aje tempo- tempo kite digaplok,” jawab Sencaki. Thamrin pun bertanya lagi,”

“Anak Chine maen, dimane?” kini giliran Cahaya Kwitang menjawab, “Die enak Bang, punya lapangan sendiri, ade Petak Sinkian, ade Taman Sari.”

“Ade lapangan Blanwir (brandweer) di gang Ketapang, tapi Umum ga bisa pake.” ujar De Bruiner menambahkan.

“Gini deh entar cari tanah yang loas, kemudian ente lapor ke ane,” usul Thamrin kemudian.

Akhirnya dapatlah lapangan di belakang Roxy. Bang Thamrin pun membayarnya dan menjadikan lapangan tersebut menjadi stadion. Semua klub bola di Jakarta bergabung dalam Voetbal Indonesische Jacatra (disingkat VIJ). Potong letter VIJ, lapangan VIJ, hingga kini masih ada.

Lapangan Vios berada di Menteng. Vios merupakan nama klub bola juga. Pada tahun 1950-an stoper spil (center half) Vios yang terkenal adalah Boelard van Tuijl. Jika menendang bola tinggi sekali sehingga menurut orang Betawi tendangannya itu seperti “sepuhun kelape”.

Pada periode Gubernur DKI Sutioso (Bang Yos), lapangan Vios diubah menjadi Taman Menteng. Fauzi Bowo yang menggantikan Bang Yos, merancang stadion Persija di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat.

Akhirnya pada tahun 2011 stadion Tegal Alur pun rampung. Tapi setelah tahun demi tahun berganti ternyata stadion tersebut tidak pernah dipakai. Setelah saya tinjau lapanan tersebut, ternyata jarak dari titik 3 KM ke stadion jalannya sempit hanya cukup becak verwijzen. Namun Fauzi Bowo juga tak bisa disalahkan begitu saja karena dia hanya membangun stadion sesuai rencana. Mengapa DPRD hanya ketuk palu? Dan mengapa pula Kemendagri hanya mengangguk-angguk?

Syukurlah, Jakarta akan mempunyai stadion yang lebih hebat daripada stadion Madrid. Lokasinya berada di bekas lapangan BMW, Sunter. Namun bisa juga diakses dari jl. Papango (penjahit pakaian, idem Andara, atau di Minang: Biaro). Rumputnya juga OK. Jika suka jenis rerumputan ini, semacan tikim (sejenis tanaman merambat) yang bisa dimakan), bisa langsung dimakan tanpa dijadikan asinan terlebih dulu.

Tapi persoalan Madrid Sunter sama halnya dengan Tegal Alur, yakni akses jalan ke stadion. Kendaraan beroda dua tidak masalah tapi yang jadi masalah adalah mobil tidak bisa melewatinya. Beruntung muncul rencana susulan yakni MRT dan LRT yang siap menghantarkan dari titik-titik SKA yang akan ditentukan.

Persoalan perencanaan selanjutnya ada pada PT. KAI. Kapasitas penonton Madrid Sunter mencapai 100.000 orang. Barangkali kedatangannya bisa diatur, tapi kepulangannya yang sulit. Hal tersebut mengingat 100.000 penonton mau pulang as soon as possible, secepat mungkin, sedangkan pintu keluar stadion di Madrid Sunter cuma dua. Namun yang lebih penting adalah bagaimana fasilitas angkutan bagi kesebelasan-kesebelasan undangan. Termasuk wasit dan tukang kebut bertaraf international.

Ini cuma patungan (urun) pikiran.
Ém sori. RSaidi.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This