Srikandi Lelah

by | Sep 29, 2022 | Essai

Oleh: Siska

Butuh satu jam saja aku untuk mencintaimu, dan butuh berapa lama aku untuk melupakanmu, aku tak tahu karena kamu hari-hariku semakin indah tapi kini telah menjadi sebuah impian saja. Dan aku takkan melupakan semua kenangan terindah yang telah kita lewati bersama, hanya doa yang aku panjatkan ke kamu, tetapi apa doaku bisa sampai ke kamu, agar hubungan kita bisa kembali seperti dulu? Karena Tuhan kita yang berbeda.

Cinta telah kita rajut bersama kasih sayang, rindu beradu satu, kau beranikan diri untuk datang ke rumahku, di saat hari besar umat muslim sedunia, “Idul Fitri”, kamu datang temui aku dan keluargaku, mesti aku tahu perayaanmu berbeda dengan aku, Natal yang engkau tunggu. Kita tunjukkan rasa cinta dan kasih kita meskipun kita berbeda religi, Engkau Puja Tuhan Yesusmu dan aku sembah Tuhan Allahku satu.

Sempat terlintas di benakku, untuk ikuti jejakmu dan orang tuamu yang dulu saling berbeda agama, untuk menjadi seorang pengikut Kristus. Sempat terlintas dalam benakku, untuk aku tinggalkan Tuhanku dan keluargaku demi kamu dan Tuhanmu.

Tetapi kamu melarangku, kamu takut aku tersakiti karena keluargaku. Kamu tahu semua risiko aku, jika aku ikuti langkah orang tuamu dulu, kamu tidak mau dan tidak tega melihat aku yang akan terbuang dari keluarga muslimku, karena aku ingin berpindah bersamamu.

Oh, Ya Allah apa perbedaan kami sehingga kami tak bisa menyatukan rasa yang telah Engkau berikan pada kami, kenapa Tuhan ciptakan rasa ini ke aku dan dia? Yesus pun umat-Mu, mereka menganggap Isa adalah perantara doa kepada-Mu. Semua hanya firman-firman Tuhan yang telah mengalir dalam nadi umat Kristus.

Tuhan izinkan kita hidup bersama tetapi kita semua itu tidak mungkin. Cinta kita telah rapuh termakan perbedaan pendapat tentang Tuhan, dan kita tak bisa kembali satu. Begitu benci Ibuku dengan hubungan kita ini, sempat terlintas di benakmu untuk mengajakku mempersatukan hubungan kita dengan cara pintas, agar kita bisa hidup bersama, tetapi kita tidak sebodoh yang remaja lain melakukan, restu orang tua yang kita butuh, jika ingin hubungan kita sempurna itulah kesan yang tak terlupakan darimu, untuk kita.

Tetapi perbedaan dalam cinta kitalah yang membuat rasa sayang kita selalu tumbuh meskipun kita tahu ada dinding pembatas antara kita, terlalu tebal dan kuat untuk kita robohkan.

Apa aku salah mencintaimu?

Apa kamu yang salah karena telah memilihku?

Atau Tuhan Allah dan Tuhan Yesusmu yang salah karena telah memberi rasa cinta dan kasih kita ini?

Kediri, 13 Desember 2012

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This