Sri

by | Oct 31, 2021 | Cerpen

“Nak, bisa seberangkan saya ke stasiun. Saya takut untuk menyeberang sendiri. Kendaraannya cepat-cepat.”

Aku yang sudah siap dengan jas hujanku tidak jadi pulang. Helm kembali kuletakkan pada spion dan aku ikat kencang. Tanpa ada rasa ingin menolak. Aku mengiyakan permintaan nenek itu.
“Inggih, saya bantu seberangkan Bu.”

Aku memeriksa kembali kunci motorku. Barangkali masih tercantol di sepeda beat hitamku.
“Pelan-pelan ya mas jalannya. Kaki saya sakit.”

“Inggih Bu.”

Kami turun dari pedestrian. Nenek itu menggandeng tanganku. Tangannya gemetar. Turun perlahan dan awas dengan lututnya yang sakit. Memastikan kanan dan kiri jalan raya dari arah Taman Trunojoyo. Kami menyeberang teramat pelan.

“Tuhan. Tuhan di mana? Saya sudah berjalan sejauh ini dan tidak menemukan-Mu.”

Nadanya lirih. Bergetar. Gemetar. Genggamannya begitu kuat.

“Tuhan ada di hati Ibu. Selalu ada di sana Bu.”, jawabku mencoba menenangkan.

Awan semakin mengepul gelap. Rintik hujan satu per satu turun. Merayu gundah untuk bersarang. Sedikit lagi sudah sampai stasiun.

“Nak, apa kamu bisa membelikan aku makanan? Saya belum makan.”

Aku merogoh kantong almamaterku. Berharap masih ada sisa uang jajan. Kantong kiri kosong. Kantong kanan. Ah, di saku sebelah kanan ternyata ada uang sepuluh rIbu. Sontak saja aku mengiyakan permintaan Nenek itu.

“Inggih Bu saya belikan.”

“Jangan berbohong ya. Saya tidak suka orang yang berbohong.”

“Inggih Bu.”

Kami pun naik ke atas pedestrian. Melangkah perlahan dan awas dengan lutut si Nenek.

“Ibu duduk dulu. Biar saya ambilkan menunya,” sembari menuntun si Nenek ke tempat duduk di sebelah kanan warung. Kemudian, aku mengambil daftar menu di kasir warung.

“Ini Bu menunya.”

Si Nenek melihat menu dengan seksama. Dan aku berharap uang yang aku punya bisa cukup untuk membayarnya.

“Saya pesan soto saja.”

“Inggih Bu, saya sampaikan ke kasirnya.”

“Oh iya, sama teh hangat ya.”

“Inggih Bu.”

Soto, tujuh rIbu. Teh hangat, tiga rIbu. Pas.

“Sudah saya pesankan Bu.”

“Terima kasih ya Anak. Semoga apa yang kamu perbuat mendapat imbalan yang lebih.”

“Amin.”

Pukul setengah lima sore dan rintik sudah berubah menjadi hujan. Latar suara kini bising dengan atap yang diguyur air hujan. Namun, hening bagi Nenek tua itu. Aku mencoba untuk memecah keheningannya.

“Kalau boleh tahu, Ibu namanya siapa?”

“Jangan tahu nama saya Nak.”

“Mengapa Bu?”

“Nanti murid saya malu. Kalau tahu gurunya seperti ini. Bisa-bisa pupus harapan dan masa depan mereka.”

Aku merenung. Hanyut dalam perkataan Nenek itu.

“Sebenarnya, saya pernah tertabrak mobil. Tabrak lari. Sudah beberapa kali operasi dan harganya mahal. Lutut dan pinggul saya sakit kalau berjalan.”

Aku tidak bisa berkata. Hanya memandang wajah si Nenek dengan trenyuh. Aku menghela napas panjang. Pesanan Nenek kemudian datang.

“Permisi, ini soto dan teh hangatnya.”

“Matur nuwun Bu. Mangga Ibu.”

“Kamu tidak makan juga?”

“Ndak Bu. Saya sedang puasa.”

“Oh Islam ya? Puasa senin kamis ya?”

“Iya Bu.”

Tangannya gemetar memegang sendok. Untuk sesuap saja perlu usaha yang besar. Soto masih panas. Kuharap mampu menghangatkan hati si Nenek.

“Boleh saya bantu suapkan Bu?”

“Tidak apa-apa, saya bisa sendiri.”

Perlahan namun pasti. Meski susah karena tangannya terus gemetar Nenek itu tetap teguh dengan usahanya sendiri. Sesuap demi sesuap mengundang senyum bagiku.

“Panggil saja saya Sri.”

“Inggih Bu.”

“Kamu Jawa banget ya?”

“Inggih Bu. Mungkin karena terbiasa dan diajarkan oleh orang tua untuk sopan ke pada yang lebih tua.”

“Sudah jarang. Jarang anak muda seperti kamu. Semoga diberi imbalan ya Anak.”

“Amin amin amin Bu.”

“Kamu sekolah di mana?”

“Saya sekolah di SMA 4 Malang Bu, dekat dari sini. Di dekat tugu kota.”

“Jurusan apa?”

“Saya jurusan bahasa Bu.”

“Oh, bagus-bagus.”

“Inggih Bu.”

”Oh ya, saya sempat proyek di Jepang. Waktu itu saya fokus pada pengembangan roket di sana. Belajar banyak bahasa itu bagus.”

“Wah, kebetulan saya suka belajar bahasa Jepang di sekolah.”

“Cita-citamu apa Nak?”

“Kalau saat ini, saya ingin berkuliah di Jepang Bu. Mungkin ingin menjadi guru atau dosen.”

“Semoga kelak tercapai. Kadang dunia tidak berjalan seperti yang kamu inginkan. Dunia itu tidak adil. Ketidakadilan ada di mana-mana. Tuhan juga Maha Tahu. Maha Adil. Ketika saya masih memiliki segalanya dan menjadi orang yang mampu memberikan ilmu, kini semua hilang tiba-tiba. Semua direnggut tiba-tiba. Tapi saya tahu. Tuhan punya alasan untuk semua ini. Dan akhirnya saya bertemu dengan kamu.”

“Semoga Tuhan masih memberi kasih kepada kita Bu. Insya Allah semua bisa dilancarkan oleh-Nya.”

Hujan sedikit mereda. Kuah soto sudah surut. Dan berpindah pada teh hangat yang siap untuk diminum yang kuharap bisa mencerahkan senyum Nenek itu.

“Saya sudah berjalan jauh dari rumah. Anak-anak saya sudah hidup sendiri-sendiri. Untuk kembali pun saya lupa jalannya ke mana. Dan akhirnya saya bertemu dengan kamu. Mungkin Tuhan sudah merencanakan ini. Setelah ini Kamu langsung pulang saja. Jangan kembali mencari saya. Nanti rezekinya bisa hilang. Jangan juga kamu ceritakan saya kepada orang lain kecuali kepada orang terdekatmu.”

“Inggih Bu. Setelah ini saya langsung pulang ke rumah.”

Tersisa rintik-rintik di langit. Juga tersisa haru yang singgah dalam hatiku. Mengisi harmoni pertemuan yang tiada dapat diduga. Aku melihat sosoknya begitu tangguh. Berjalan tanpa tujuan untuk mencari sosok-Nya. Yang Nenek percaya mampu menuntunnya kembali kepada-Nya.

Jamuan sudah usai. Kini waktunya pulang untukku. Dan kembali berjalan untuk Nenek itu.

“Bu. Pakai jas hujan saya. Semoga bisa menemani perjalanan Ibu.”

“Tidak usah, tidak apa-apa.”

“Tetapi masih hujan Bu. Terima saja jas hujan milik saya.”

“Kamu bagaimana?”

“Saya masih ada jas hujan cadangan Bu.”

“Baiklah saya terima, sungguh saya berterima kasih Nak. Semoga Tuhan memberkati.”

“Amin Bu. Semoga Allah selalu melindungi langkah Ibu.”

Kembali aku tuntun langkahnya menuruni pedestrian yang cukup tinggi bagi si Nenek.

“Hati-hati Bu.”

Punggungnya mulai menjauh. Berjalan lurus. Tanpa tujuan. Namun, percaya bahwa akan dituntun oleh-Nya.

Sri namanya. Nama yang tidak akan terlupa olehku. Meski sebenarnya ia melarang aku untuk menceritakan ini. Namun, aku kira kisah ini terlalu apik untuk aku simpan sendiri. Aku selalu mendoakanmu Bu Sri. Semoga kita berjumpa lagi. Semoga.

Malang, 28 Oktober 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This