Serial Resensi Buku Ketiga: Menyambut Kolokium Spiritualisme Dunia, Laku Tantra Purba di Zaman Modern

Aug 15, 2023 | Essai

Visits: 0

Ini adalah buku ketiga. Buku bertema spiritual yang dihadirkan untuk menyemarakkan kegiatan temu spiritualis dunia. Judulnya keren, “Tantra Yoga: Pengetahuan Suci tentang Diri, Tuhan dan Jagad Raya.” Isinya tentu saja keren dan beken. Penerbitnya Persaudaraan Matahari. Dicetak di kota Yogyakarta. Penulisnya guru spiritual ternama Setyo Hajar Dewantoro. Jumlah halamannya 464. Terbit pertama pada Februari 2021.

Baca Juga Serial Resensi Buku Pertama: Menyambut Kolokium Spiritualisme Dunia, Menyurgakan Bumi Indonesia

Tantra, Ilmu Tertua di Dunia

Penasaran dan mau tahu isinya? Tantra, sesungguhnya ilmu kuno nusantara yang diyakini sejumlah kalangan sebagai ilmu tertua di dunia. Ilmu spiritual kuno yang penuh getar pesona. Ini merupakan metode tentang pembebasan jiwa yang dilandasi pemurnian diri secara energi, karma, emosi dan persepsi (h.7). Ia juga bermakna jalan kesadaran sekaligus laku spiritual untuk melampaui keterbatasan-keterbatasan hingga menjadi diri yang setinggi mungkin.

Sebagaimana karya-karya lainnya, buku karya Setyo ini cukup lengkap, komplit komprehensif. Terdiri dari 3 bagian yang masing-masing bagian terdiri dari beberapa sub tema. Mulai dari diskursus ontologinya, epistemnya dan aksiologinya. Dari mikrokosmos (manusia), makrokosmos (semesta), dan isu-isu di seputar pembelokan substansi tantra.

Jalan tantra itu berundak: shanaya, shamballa, shangri la, shalala. Jalan ini membuat manusia mampu menyatukan mikrokosmos, makrokosmos dan mahakosmos. Mereka lalu menjadi jiwa ilahi, avatar, adhi budha. Mereka menjadi tubuh yang menuhan dan tuhan yang menubuh. Soal-soal pelik ini ditulis dengan apik dan elok sekali. Penulis terlihat sangat menguasai (literaturnya) dan mempraktikkan lakunya di keseharian.

Jika menilik dari sejarahnya, ilmu tantra sebenarnya sudah lama tertradisi di nusantara. Ia menggunakan aksara. Filosofi ajaran ini adalah jagat raya bermula dari kehendak misterius Sanghyang Suwung, yang tak terkatakan. Kehendak itu kemudian terekspresi melalui swara (sabda). Swara adalah getaran maha dahsyat yang membentuk ruang semesta dalam sebuah pola geometris yang kompleks.

Ketut Sandika, penulis buku, “Tantra: Ilmu Kuno Nusantara (2019),” mengatakan, melalui getaran swara itulah kehidupan tercipta. Swara yang meledak dari titik pusat semesta (Sanghyang Suwung) itu, menyebar ke segala arah, membentuk pusaran-pusaran energi utama. Oleh leluhur nusantara, 10 pusaran energi itu dilambangkan dengan 10 aksara atau Dasaksara.

Baca Juga Serial Resensi Buku Kedua: Menyambut Kolokium Spiritualisme Dunia, Bisakah Agama dan Agamawan yang Berbeda Bertemu?

Di mikrokosmos, juga terdapat Dasaksara, yang menempati organ-organ vital dalam tubuh manusia yang secara langsung terkoneksi dengan Dasaksara di jagat raya melalui matriks. Artinya, jika manusia mampu mengakses dan mendayagunakan kekuatan Dasaksara di dalam tubuhnya, maka ia akan “berkesadaran.” Yaitu kesadaran untuk menemukan hakikat diri. Dengan berkesadaran, seseorang bisa mencapai moksa (suci dan berdharma).

Membaca buku karya Setyo menjadikan kita menerima jutaan informasi soal tantra yoga dan berbagai diskursus di sekitarnya. Termasuk pengetahuan bahwa para leluhur mewariskan peradaban spiritual yang demikian agung. Peradaban itulah yang membawa nusantara kuno pada puncak kemegahannya. Penduduk yang kuat, canggih dan bijak; negeri yang damai, sentosa dan surga di Timur.

Pada peradaban tersebut kita harusnya mewarisi, berguru, mengembangkan untuk menjadikan hidup pribadi maupun negara lebih baik, lebih jenius dan avatar peradaban dunia. Buku ini mengajak kita semua untuk menerapkan ajaran para leluhur di zaman modern; membantu kita mengoptimalkan peran dalam kehidupan; terus bahagia di mana saja.

Terlebih, sejarah mencatat kalau tanah nusantara pernah menjadi salah satu mercusuar tantra dunia yang luar biasa. Dari zaman ke zaman paradigma, praktik dan tradisi spiritual tersebut sudah menjadi pegangan para raja, pandita dan penekun spiritual nusantara dan dunia.

Tentu saja, metode tantra yoga sebagaimana diimani penulis, adalah jalan menuju pembebasan jiwa (individu maupun komunitas, bahkan negara). Ini adalah ajaran kuno tentang perluasan kesadaran dan pemurnian diri yang memastikan setiap orang terbebas dari penderitaan; setiap bangsa terbebas dari kepariaan; setiap negara merdeka dari penjajahan.

Refleksi Buku 

Lembaran-lembaran dan tesis-tesis di buku ini akan membantu kita semua membuka banyak tabir dan kesalahpahaman mengenai tantra yoga, sekaligus praksis pematrialisasiannya. Tentu saja, tantra yoga bukan hanya milik kelompok agama tertentu, melainkan milik semua orang di dunia, terutama milik nusantara untuk bangkit kembali.

Tantra Yoga sebagai bagian penting dari spiritualitas, pasti memberikan solusi holistik bagi seluruh masalah kebangsaan yang sedang terjadi. Ia menjadikan peri kehidupan kita lebih santun, rendah hati, penuh penghargaan, dan kasih sayang, sambil terus berkarya, bekerja keras, berdisiplin, serta pantang menyerah dalam menghadapi berbagai persoalan.

Terlebih, spiritualitas apa pun bentuknya pasti terkait dengan masalah kebangsaan dan kenegaraan yang plural; terhubung dengan nilai-nilai kemanusiaan; tertantang pada problema global yang makin pelik dan rumit. Semoga kita makin sentosa dengan tantra. Ayo hadir di kolokium jika tertarik membangkitkan Indonesia agar jaya.(*)

Yudhie Haryono

Presidium Forum Negarawan

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This