Sepuh, Kok, Masih Sombong

by | Nov 21, 2021 | Cerpen

Kisah menarik yang saya anggap, memiliki nilai bagi generasi muda, generasi penerus dan pemikiran ke depan. Hindari beranggapan bahwa umur berlebih, hidup sudah mendahului, kiprahnya luar biasa, pengetahuan di segala bidang pada jamannya. Sementara secara fisik, badan dan raga sudah menurun kekuatannya, sudah keriput sana sini. Merasa juga selama ini sudah banyak “makan asam, garam”, tapi tetap seperti anak kecil. Pemikirannya masih keras, pelit, tidak mau tahu bersikap menghadapi orang di hadapannya. Selalu merendahkan, menghinakan, tapi tetap minta dihormati, dijunjungtinggi, dan dipuja puji.

Saat itu dalam ikatan bersama-sama, hendak jalan-jalan ke wilayah Lumajang, entah lupa desanya, mengarah pada sisi utara dengan kondisi alam berbukit, dan terlihat gunung dengan sebutan “Gunung Fuji”, alam yang indah, menawan, hawa sejuk.

Di sana ada sebuah tempat peristirahatan. Ada yang menyebutnya padepokan, ada juga yang menamakannya pondokan. Tempat ini sungguh nyaman, dan saya baru pertama kali singgah di tempat tersebut. Banyak juga masyarakat berbagai daerah berkunjung ke sana, menikmati alam yang nyaman, damai, dan tenang di sana.

Dalam benak dan terlontar kata-kata ke kawan-kawan, “Mantap juga lokasi ini, bisa melihat gunung setara antara bumi dipijak dengan puncuk gunung”.

Seorang kawan menjawabnya, “Ya, betul, asyik dan luar biasa alam ini, rasanya sayang, jikalau alam ini rusak, dirusak, dan tidak terjaga dengan baik”.

Tak lama, pada waktu yang tepat, kami lalu bersama-sama memasuki padepokan itu. Kami melihat-lihat banyak foto-foto yang terpajang, di dinding yang terbuat dari kayu. Tidak ingat siapa saja yang fotonya terpajang di sana. Ada banyak.

Saat tengah malam, pemandangan alam begitu damai sekali, tidak ada pikiran yang berbaur berbagai masalah kehidupan, yang ada dalan kalbu meresapi alam, berbagai pepohonan entah apa, namanya, tersebar di sepanjang bukit, cekungan, lembah, dan puncak gunung. Sampai terpesona dan terdiam menyaksikan semuanya.

Keesokan harinya, banyak orang-orang berkunjung di area tersebut. Entah apa yang menjadi tujuannya, apa melihat keindahan dan keagungan Sang Pencipta atau untuk tujuan lain. Rasanya tidak hanya sekedar menikmati alam, ada maksud lainnya, mungkin perenungan jiwa raga.

Pikiranku pun jadi melayang ke kehidupan di masa lalu. Mungkin saja tempat itu dulu pun digunakan sebagai tempat persinggahan para petapa yang menepi di kesunyian. Mereka mencari tempat tenang untuk bisa mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Penguatan diri.

Sedang asyik berkhayal, tiba-tiba muncul seorang lelaki tua berpakaian serba hitam. Kepalanya diikat udeng. Kata orang-orang di sana, dia namanya “Mbah Ctr”. Konon dia adalah pejuang di masa perang kemerdekaan dan banyak membantu masyarakat sekitar dan selalu ada banyak orang-orang yang datang bersilaturahmi.

Dalam pembicaraan yang terjadi, aku merasa. ada hal yang kurang pas apalagi saat kawan bertanya dan mohon nasehat ke Mbah Ctr.

Hal yang disampaikan oleh kawan saat itu, hanya sederhana sekali, “Mbah, Nasehat untuk generasi muda?”.

Dia menjawab singkat saja, “Tidak ada nasehat!”. Jawabannya tentu saja membuat kawan-kawan tersentak dan terkejut. Lalu diam semuanya.

Di hati dan pikiranku saat itu, “Masa orang tua tidak punya nasehat untuk generasi muda? Orang tua macam apa itu?!”.

“Siapa yang tau, siapa yang menyuruh, saya berada di tempat ini”, Mbah Ctr lalu bertanya kepada semua.
Tidak ada yang menjawab kecuali salah seorang kawan, “Tidak tahu Mbah!”.

Kemudian Mbah Ctr menjawabnya, “Saya berada di tempat ini karena Gusti Allah”.

Kembali semua kawan-kawan diam saja. Entah apa yang terkandung di hati masing-masing sebagai tamu dan bersilaturahmi. Jawaban yang demikian tidak perlu juga diutarakan, semua sudah tahu. Sebagai orang tua, semestinya punya jawaban lain, paling tidak ada penjelasan.

“Tidak usah jadi orang tua jika tidak mau memberikan ilmu dan nasehat. Jika hanya mau dipuja, dilayani, diberi segala macam, bukan orang tua namanya. Bilang saja mau cari duit gampang. Toh semua cerita perjuangan bisa saja hanya sekedar cerita belaka,” pikirku dalam hati.

Oleh karena waktu sudah dirasa cukup, maka kami berpamitan pulang.

Sebelum pulang, saking gemesnya, aku tidak mampu menahan diri. “Sudah tidak beres orang ini”.

“Mohon maaf, aku juga anak pejuang dan tidak pernah merasakan makan enak di perut. Kalau cuma ngomong saja, sih, mudah! Mengaku-aku pejuang tapi kelakuan seperti ini”, kataku sambil kuinjak kakinya.

Gantian, Mbah Ctr yang kali ini terkejut. Barangkali belum pernah ada yang berani melakukan hal ini sebelumnya. Sambil bergetar dia menjawab, “Iya Nak! Iya Nak!”.

“Biar tahu dia, jadi orang tua belum tentu benar!” dalam hatiku.

Selang seminggu kemudian, kami dapat kabar, Mbah Ctr meninggal. Apakah masih banyak orang-orang berkunjung ke sana lagi? Sepertinya tidak. Bukan alam ternyata yang mereka nikmati.

Sby, 19 Nopember 2021
Yudi E Handoyo

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This