Sekelumit Kisah di Balik Tugu Soeharto

Dec 26, 2021 | Essai

Views: 0

Selain Solo, Semarang merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang layak dikunjungi saat liburan. Ibu kota Jawa Tengah ini memiliki banyak tempat menarik yang dapat dijadikan destinasi wisata saat liburan di Semarang. Lawang Sewu, Tugu Muda, Kota Lama, Kelenteng Gedung Kuno Sam Poo Tong, dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Sepertinya menjadi tujuan wajib bagi mereka yang berkunjung ke Semarang. Seperti halnya kami sekeluarga saat berkunjung ke Semarang sekitar Desember 2019. Namun ada satu tempat yang kami kunjungi juga di Semarang yang sebenarnya tidak sepopuler tempat-tempat tersebut dan mungkin namanya masih asing, bahkan mulai dilupakan orang. Namanya Tugu Soeharto.

Sebelumnya kami tidak mengetahui di Semarang ada tugu bernama Soeharto sebab yang kami kenal di Semarang hanya Tugu Muda yang berdekatan letaknya dengan bangunan bersejarah Lawang Sewu. Seperti halnya Tugu Muda yang merupakan sebuah monumen bersejarah kota Semarang yang dibangun untuk mengenang pertempuran 5 hari di Semarang. Tugu Soeharto pun memiki kisah bersejarah yang tak kalah pentingnya. Itulah makanya selesai menikmati sarapan nasi liwet di sekitar alun-alun kota Semarang kami pun bergerak menuju Tugu Soeharto dengan menaiki angkutan kota.

Tugu Soeharto merupakan lambang perjuangan Presiden Soeharto di Semarang. Letaknya di Jalan Menoreh Raya, Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Atau tepatnya berada di sebelah selatan Jembatan Tugu Soeharto. Namun sebagian warga menyebutkan lokasi Tugu Soeharto di daerah Sampangan.

Tugu Soeharto berada di titik tempuran atau pertemuan antara sungai Ungaran dari sisi timur dengan sungai Kreo dari sisi barat yang menyatu menjadi sungai Kaligarang Semarang. Nama Tugu Soeharto bermula saat Presiden RI kedua Soeharto yang kala itu berpangkat mayor bertugas di Semarang dalam perang melawan Belanda.

Saat itu Soeharto lari ke arah selatan kota yang masih berupa hutan, Soeharto melompat ke sungai yang merupakan pertemuan dua arus sungai, dan kemudian menancapkan tongkat dan berendam di sana. Di sinilah Soeharto melakukan kumkum. Kemudian di titik ini dibangun monumen yang bernama Tugu Soeharto yang berbentuk tiang bendera berwarna putih dengan ketinggian 8 meter.

Banyak masyarakat terutama aliran Kejawen melanjutkan tradisi berendam atau kungkum tersebut. Pada tradisi ini, masyarakat akan berendam di kelokan Kali Garang dan Kali Kreo di Kelurahan Bendan Dhuwur, Kecamaran Gajah Mungkur, Kota Semarang.

Menurut cerita, banyak sekali hal yang menarik di sekitar Tugu Soeharto. Seperti pertemuan antara kali garang dan kali kreo, dua arus tersebut memiliki perbedaan suhu apabila kita merendam tubuh di antara kedua arus tersebut menjadikan tubuh mejadi hangat. Kungkum dipercaya tidak hanya berefek secara mistis. Namun juga membangun kekuatan fisik agar lebih kuat dan tahan terhadap serangan penyakit. Seseorang yang rajin melakoninya akan menjadi lebih sehat.

Pagi itu Tugu Soeharto cukup sepi karena memang jarang dikunjungi orang. Namun udaranya cukup sejuk, hingga cocok pula dijadikan tempat olah raga pagi sambil menikmati udara di tempat terbuka.

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This