Sedekat Sahabat

by | Oct 8, 2021 | Essai

Aku baru mengenalnya beberapa minggu yang lalu, itu pun melalui medsos. Pada sebuah giat literasi online, belajar menulis dia (yang kemudian aku panggil sebagai T.M.) sebagai pembicara utama, atau lebih tepatnya sebagai pengajarnya. Penampilannya sederhana, namun itu tak menutupi wajah cantiknya.

Penyampaian materinya lugas, jelas, sangat mudah dipahami dan diikuti. Hal itu semakin menambah pesona cantiknya. Sebenarnya aku terlambat mengikuti kegiatan itu, dan baru bergabung di 40 menit terakhir. Bersyukur sekali aku masih sempat mengikuti penyampaian mengajarnya (mengajari/mengajak kami menulis).

Aku pernah mengikuti kegiatan belajar menulis. Tapi yang aku ikuti kali ini benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Semangatku untuk mengajak jari-jariku merangkai kata kembali muncul. Semangat yang sebelumnya sering timbul tenggelam.

Selang beberapa hari kemudian, betapa senangnya aku ketika ditawari untuk bikin acara berbincang T.M. Suatu hal yang tak pernah terbayang olehku, yang hanya seorang guru di sekolah pinggiran. Aku bahkan bahagia sekali.

Dan kebahagiaan itu lagi-lagi datang padaku. Ketika ada tawaran emas bahwa T.M. akan berkunjung ke sekolahku dan mengajari, mengajar siswa dan guru untuk menulis. Rasanya tidak percaya. Masak iya, seorang T.M. mau datang jauh-jauh dari Bandung ke sekolahku. Sebuah sekolah menengah atas, yang berjarak 15 Km dari pusat kota. Tapi ini nyata.

Setelah aku komunikasikan dengan pihak sekolah, gayung bersambut. Segera kupersiapkan siswaku yang akan mengikuti kegiatan itu. Juga teman-teman guru yang bersedia mengikuti. Sekitar 50 peserta siap berliterasi dengan T.M.

Hari itu tiba, T.M benar-benar datang ke sekolahku. Alamak.. cantik, berpostur tinggi, dan murah senyum. Ya, senyum yang sudah aku kenal beberapa waktu lalu, yang hanya bisa aku lihat lewat layar kaca handphone ku. Kini aku bisa melihat langsung senyum itu.

Senyum yang tulus. Kebersamaan T.M. dengan kami diwarnai dengan semangat dan serius belajar menulis. Juga diwarnai canda, tawa, dan keharuan. Emosi rasaku benar-benar kurasakan saat itu. Seorang T.M. begitu dekat dengan siswa-siswi ku. Peluk, cium, tepuk tangan, pujian, tak segan dia lakukan. Bahkan mata indahnya sering tergenang oleh air yang kemudian meleleh di pipinya. Haru. T.M., hadirmu bagai bunga yang siap mewarnai hari-hari kami dengan literasi, menulis, apa pun.
Menulis dengan hati.

T.M., kita memang baru jumpa, dan tak kenal sebelumnya. Tapi, kerendahan hatimu, keikhlasanmu, bagaikan sahabat.
Terima kasih banyak atas semua ilmu, semangat, dan inspirasi yang telah kau berikan pada kami, Teh Mariska Lubis.

馃檹馃槏

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This