Sawahku Sirna

by | Oct 13, 2021 | Essai

Seiring berjalannya waktu, bagiku penggilingan padi kini hanyalah sepenggal kenangan di masa kecil…. Dulu aku sering dibonceng kakek naik sepeda dan duduk di atas karung berisi padi menuju tempat penggilingan pagi.
Sambil menunggu giliran padi digiling aku bermain di tumpukan dedak hingga kakek sering melarangku karena dedak bisa membuatku gatal-gatal.
Namun saking asyiknya seringkali larangan itu tak kuturuti.
Kini apa yang mau digiling?
Sawah kakekku tak ada lagi, bukan cuma itu, hamparan sawah yang dulu tempat aku “ngabuburit” saat bulan puasa sudah tak ada lagi.
Pematang sawah yang sering kususuri bersama nenek saat mengantarkan makanan untuk para pekerja di sawah pun sudah musnah.
Tak ada lagi orang-orangan sawah pengusir burung pipit yang memakan padi.
Yang kutemukan sekarang hanya hamparan rumah dan rumah. Yang kulewati sekarang adalah pematang beton alias jalan tol….
Ya semua tinggal kenangan, tapi aku bersyukur karena dulu pernah menjadi bagian kenangan itu meski hanya bermain di tempat penggilingan padi.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This