Rasa dalam Menulis

Sep 26, 2021 | Opini

Visits: 0

Ingin menulis, ya tulis saja apa yang ingin ditulis. Masalah orang nanti membaca atau tidak jangan terlalu anda pikirkan. Asalkan tulisan anda tidak menyimpang dari adab dan punya etika serta tidak melanggar peraturan yang berlaku.

Dalam menulis ada “rasa”, yang akan melekat dalam diri. Berbeda dengan berbicara, apa lagi berbicara yang hanya mengoceh melepaskan kekesalan atau hanya untuk membela sesuatu yang anda sendiri kadang tidak paham. Karena itu kadang sering merasakan penyesalan setelah berbicara sesuatu yang bertolak belakang dengan diri sendiri atau setelah mengetahui kebenaran dari sesuatu yang diucapkan itu merupakan kekeliruan.

Kalau menulis, anda bisa terlebih dahulu berfikir apa yang akan anda tulis. Ada sepersekian detik anda berfikir saat tulisan itu dimulai. Ketika anda mulai menulis, anda akan secara langsung membaca tulisan anda sendiri, saat itulah fikiran akan bekerja yang akan membuat anda untuk mebaca ulang tulisan tersebut setelah selesai ditulis.

Jadi dengan menulis akan meningkatkan kreatifitas dan pola pikir anda sendiri. Tulisan itu sendiri adalah cara untuk menyampaikan maksud agar tercapai tujuan yang ada dalam diri si penulisnya. Orang yang benar-benar menulis akan sering melakukan koreksi pada dirinya. Setiap tulisan yang dia buat, dia akan mengingatnya dan membacanya kembali untuk membuka cakrawala berfikir.

Orang yang suka menulis bukanlah orang yang tertutup, tapi sebaliknya, ia adalah orang yang terbuka. Orang yang bisa menerima kritikan dan masukan dan siap berdebat dengan karya bukan dengan bicara. Sebagai contohnya saja, bagaimana Bung Hatta, Buya Hamka dan tokoh-tokoh lainnya di masa perjuangan dan di masa carut marutnya perpolitikan Indonesia. Coba perhatikan, tokoh-tokoh tersebut, semuanya menulis dan semuanya punya prinsip hidup. Para pejuang tersebut dahulu banyak berbuat untuk kepentingan umat dan mereka selalu meluangkan waktu untuk menulis. Dan tulisan-tulisan itu tidak mati sampai sekarang. Bahkan banyak isi dari tulisan-tulisan mereka yang dijadikan referensi.

Itulah dahsyatnya menulis, mengalahkan dahsyatnya bicara. Apalagi bicara dengan teori belaka yang bertujuan memaksa orang lain agar sependapat dengan yang berbicara. Sering kita lihat dan kita baca di media sekarang, seperti ucapan-ucapan dari mereka yang mengaku kelas elit, “Kita harus tindak pelaku korupsi, bla ,bla, bla…”. Sekalinya bulan depan yang cuap-cuap malah ditangkap karena korupsi. Mungkin itu salah satu orang yang kurang “ngopi” dan “jarang pulang pagi” dulunya (istilah teman saya), juga jarang menulis tentunya. Kalaupun ada tulisannya, berarti yang dia tulis adalah tulisan “palsu” yang bukan dari hati dan menulis “tanpa kepala”. Yang dia ingin dari tulisannya hanya pengikut saja dan agar dibilang pintar.

Pintar pintarnya menipu, karena tulisan, ucapan dengan dirinya sendiri tidak singkron. Dia sudah mudah menipu dirinya sendiri.
Yuk, menulis dari hati dan pakai kepala walaupun satu kata, Bismillah.

Bungo, 25 September 2021

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This