Pilih Merdeka atau Merana?

Aug 27, 2021 | Essai

Views: 0

Dalam suatu dialog antara dua orang rekan kerja kantoran :
Sintia : Ran, yuk anterin aku shopping ya pulang kerja
Ran : Bukannya minggu yang lalu kamu sudah shopping Shin?
Sinti : Aku mau beli jam tangan baru
Rani : Yang kamu pakai itu kan belum ada setahun? Lhah kemarin kamu bilang masih punya utang di koperasi kantor?
Sintia : Santai ah, cicilan mah urusan belakangan

Anda punya teman atau tetangga seperti Sintia? Atau Anda bahkan adalah Sintia Sintia lainnya yang jumlahnya bertebaran di muka bumi?

Zaman sekarang ini banyak orang salah melangkah dalam mengelola keuangannya. Banyak yang tidak bisa membedakan antara kenginan dan kebutuhan. Semua maunya dipenuhi tanpa melihat kapasitas diri. Atas nama gaya hidup, mengikuti sesuatu yang sedang jadi trend, semua hal tak penting dicoba meski harus mengada-adakan budget yang sebetulnya tidak ada.

Pinjaman online merebak dimana-mana. Dengan bunga yang mencekik leher selalu saja ada kasus baru yang muncul. Asal meminjam tanpa tahu aturan. Asal dapat uang saja untuk memenuhi keinginan bukan karena kebutuhan. Alhasil baru terasa di kemudian hari dikejar-kejar oleh umpatan debt collector yang terus menagih cicilannya. Belum lagi bunganya yang setiap hari terus bertambah. Ngeri.

Suatu hari saya ke rumah teman dan saya mendapati di pintu depan rumahnya terdapat cap yang ditempel ke pintu. Tulisannya adalah ‘orang ini belum melunasi hutangnya’. Duh miris melihatnya. Rumahnya yang satu sudah terjual untuk melunasi hutangnya yang dulu masih juga meminjam lagi. Saking namanya sudah diblacklist list banyak pihak karena hutangnya yang dulu-dulu belum dilunasi. Saya hanya mampu berdoa semoga dia kuat menghadapi semua ini.

Hedonisme menjadi gaya baru manusia jaman kini. Kesuksesan diukur dari materi. Punya pekerjaan, punya rumah, punya mobil, keluarga lengkap. Hobbynya jalan-jalan di akhir pekan dan pergi liburan, sesering mungkin nongkrong di cafe dan mal, nonton, dan kesenangan-kesenangan lain. Hidup dalam kesederhanaan hanyalah sebuah ucapan tanpa fakta.

Sebenarnya tidak ada yang salah kalau kita menginginkan semua kemewahan hidup. Semua orang ingin hidupnya sejahtera dan bahagia. Mengapa sejahtera dan bahagia hanya diukur dari materi semata? Rumah mentereng. Kendaraan bagus. Pekerjaan menjanjikan. Tabungan bermiliar-miliar. Tanah di mana-mana. Semua mengejar materi dengan cara apapun. Tak perduli halal haram. Untuk apa semua itu kalau pada akhirnya saat mati semua tak ikut dibawa pergi.

Mengejar dunia boleh. Tapi sewajarnya saja. Kita memang harus kaya raya agar kita bisa banyak beramal. Membangun masjid. Menyantuni anak yatim. Tangan di atas selalu lebih baik dari tangan di bawah. Tapi kadar rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Memberi.

Kalaupun anda memang kaya tetaplah hidup sederhana. Kalau Anda miskin tidak usah berlagak bak orang kaya. Hiduplah apa adanya.

Kita ini hidup di negara yang sudah merdeka
Mengapa Anda lebih memilih terkungkung dalam penjajahan bernama pinjaman?

Mana yang Anda pilih sebenarnya?

Hidup merdeka atau merana?

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This