Perlintasan

by | Sep 3, 2021 | Puisi

Aunika (sinar matahari pagi) tertempa di wajah, rasa sejuk pagi
Percikan air embun menetes, di sudut belahan bibir
Sebening intan berkilauan,
kilauannya memancarkan sinar, raut wajah rupawan
Berkaca-kaca tersorot secercah sinar warna-warni.

Duhai, bidadara-bidadari pagi, siap mengepak bertengger memainkan angka.
Perlawanan menembus serat hawa, tak bisa dirasa
Berbaur apa saja, tak ada perasa dan makna
Hambar terbawa angin, menggelombang ke segala arah

Cahaya merangkak cepat, pancarkan hawa dirasa panas
Seiring hawa nafsu yang melekat, di jiwa insan manusia
Genderang permainan dikumandangkan dan digadaikan
Tergadaikan tak kunjung padam, terus terangsang

Dirangsang tak pernah pudar, mengiris lembut kesenangan
Kebanggaan berputar seperti kekehan, cepat lambat tidur terlelap
Benang alat pelengkap menjerat leher cepat disayat
Batas kepala dan leher, hendak banyak sedikit sama saja pahala dan dosa.

Surabaya, 02 September 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This