Peran PLTS Terapung Cirata dalam Pencapaian Zero Carbon

by | Aug 5, 2021 | Opini

Sebagai salah negara yang ikut meratifikasi kesepakatan Paris (Paris Agreement) terkait perubahan iklim, Indonesia juga berkewajiban melakukan berbagai upaya untuk memangkas emisi karbon (carbon emission) hingga mencapai zero carbon pada 2050. Untuk itu, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dituntut untuk memberikan kontribusi signifikan dalam pencapaian zero carbon di Indonesia.

Salah satu syarat untuk mencapai zero carbon adalah seluruh Pembangkit Listrik PLN harus sudah menggunakan 100% energi baru terbarukan (EBT). Padahal hingga akhir 2020, bauran energi primer untuk Pembangkit Listrik masih didominasi oleh batubara sebesar 57,22%, disusul gas 24,82%, BBM 5,81%, sedangkan proporsi EBT mencapai sebesar 12,15%. Kendati proporsi EBT relatif masih rendah, namun PLN tampaknya punya komitmen tinggi untuk meningkatkan EBT dalam dalam bauran energi.

Komitmen PLN itu diwujudkan dengan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu dan Tenaga Surya, dan Tenaga Listrik Atap (Rooftop). PLN juga telah mengembangkan berbagai inovasi terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batu bara, sehingga PLTU-PLTU itu menghasilkan listrik yang lebih ramah lingkungan. Baru-baru ini PLN juga membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata, yang pertama dibangun di Indonesia. PLTS Terapung Cirata merupakan PLTS Terapung terbesar di ASEAN, dengan kapasitas 145 MWAc, yang akan beroperasi komersial (Commercial Operation Date) pada November 2022. Pada saat PLTS Terapung Cirata beroperasi, PLN akan ikut berperan dalam pencapaian target EBT dalam bauran energi nasional sebesar 23% pada 2025 dan zero carbon pada 2050.

Mengingat sektor kelistrikan termasuk penyumbang carbon emission yang cukup besar, PLN dituntut untuk tetap konsisten dan terus-menerus dalam menerapkan berbagai langkah strategis untuk mencapai 100% EBT bagi seluruh pembangkit listrik. Dengan pencapaian itu, tidak diragukan lagi PLN akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian zero carbon di Indonesia pada 2050, sesuai dengan Paris Agreements.

Fahmy Radhi
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This