Pengukiran

by | Dec 7, 2022 | Prosa

Oleh : Yudi Ento Handoyo

Hidup itu menarik. Pelik, susah, bahagia dan berat serta penuh tantangan pada saatnya mengukir diri. Pengukiran tentu dimula merangkak di masa belia, kemudian beranjak remaja lalu dewasa. Kedewasaan, artinya mulai merasakan apa yang dihadapi di depan adalah kasat mata. Warna seutuhnya terjadi pada setiap insan manusia, entah apa saja yang menjadi tujuan kehidupan.

Silih berganti tapakan, pijakan, daya pemikiran, daya nalarnya dan apa saja yang dilakukan semakin ke depan, maka masa sebelumnya yang menjadi landasan, parameter tidak disentuhnya lagi. Hanya mereka yang mendahului dan hal-hal yang masih melekat dan belum berubah, masih dalam ingatannya tertambah perkembangan keadaan di depannya. Dengan demikian lebih utuh dan lebih lengkap, untuk menguliti sesuatu hal yang tidak tepat dan yang tepat. Patut disadari pula kekuatan, kemampuan tidak semuanya ada di dalam setiap insan individu, tentu saling memberi, mengisi, melengkapi berbagai insan manusia lainnya serta saling memperkokoh.

Tidak jauh berbeda jika diresapi, dilihat, dirasakan dengan seksama isi alam semesta, salah satu hal sebagai perumpamaan, sejenis serangga yang sangat kecil sekali, dengan nama sebutan “Tungau Scabies”,warna merah atau sebutannya Sarcoptes Scabiei, menimbulkan rasa gatal, dan bersembunyi pada lipatan kulit, seperti pada lipatan kulit kantung zakar. Jika terselip di lipatan kulit rasa gatal memuncak, apabila digaruk dapat menyebabkan iritasi kulit dan menimbulkan pembengkakan. Reaksi Tungau Scabies memberikan dampak sekujur tubuh dan tidak menjadi tenang. Dan sangat pulalah mengganggu walaupun gatalnya pada sisi luar namun memberikan rangsangan yang tidak menyenangkan. Dan membuat rasa sakit ekses dari serangga Tungau Scabies dimaksud.

Dapat dibayangkan beragam insan manusia, yang memiliki daya di dalam jiwa raga, memiliki tujuan, kehendak, tentunya apa yang menjadi harapan dalam menempuh kehidupan oleh karena merupakan kodrat yang wajib dijalankan. Entah kemudian pada setiap jalan yang dilalui selalu berpikir, berkembang, mengembangkan apa yang ada mengikuti perkembangan situasi dan keadaan yang begitu cepat. Kembali lagi memiliki daya saing sehingga menumbuhkan pemikiran lebih, bagaimana berjuang sesuai pada porsi-porsinya.

Jika memacu niatan yang lebih, paling tidak fokus pada hal yang digeluti untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan, tidak hanya sebuah harapan, harapan merupakan titik landasan awal sebagai pemicu semangat untuk melangkah, berbuat dengan perjuangan yang keras, walaupun hambatan, tantangan, kerugian, kegagalan selalu sebagai warna yang ada. Tidak hanya itu hal-hal yang tidak terduga menjadi sebuah ancaman nyata, yang dapat menimbulkan malapetaka baik menyangkut dan berawal permasalahan kecil bisa terarah lebih besar, sebagaimana ancaman dan bobotnya.

Sebagaimana serangga yang sangat kecil Tungau Scabies, dapat melakukan pemberontakan dari yang menggelikan, rasa gatal yang sangat, dan dapat pula membuat kesakitan ekses iritasi pada kulit. Tidak ubahnya dengan niatan manusia, mewarnai perilaku pemberontakan sudah adanya proses mengawali walaupun dari yang teringan. Dengan tidak disadarinya pembentukan sifat mulai beranjak merangkak dan bisa dirasakan, secara pelan dari perubahan perilaku.

Dengan demikian, untuk tidak menjadikan salah langkah, tentu berpikir sedini mungkin beranjak untuk mencari solusinya sejak dini pula. Oleh karena pengukiran telat, secara alami didahului oleh sifat pembentukan yang tidak disadari pula.

***

Menapak berpijak melangkah, ayunan dua kaki berjalan pada jalan yang tepat

Tiada terasa ribuan kilo meter, tulang terbalut daging, otot dan kulit mengayun

Perjalanan tertuntun sesuai tujuan, kehendak lain berkesinambungan

Apalah arti semua teraih di genggaman, saatnya terbui di serat-serat jiwa

Terpaan guncangan silih berganti, pemikiran bagaikan sumber energi

Ditapakkan di setiap jangkah, persaksian melekat di lapisan tanah

Tidak akan terlepas, bagaikan lekatnya kulit dan daging terbalut duri

Kesadaran diri terlenakan, saatnya terkoyak jiwanya sepanjang hembusan nafas

Dipandang seakan tiada duanya, bagaikan tungau scabies menebar bulu racunnya

Mengoyak menjalar seakan tidak punya rasa, membuat guncangan jiwa lainnya

Alangkah kejam dan rakusnya, jarum tajam sebagai senjata

Kesakitan merajalela, seraya hembusan angin menabrak ke penjuru arah

Mata hati mati rasa, merasa bangga dengan kepalan lima jarinya

Terbius dan tebar kekuatan, sorot mata, senyuman menaklukkan

Terjerembap teriringi malapetaka, terlabel di angkasa raya

Alangkah jiwa tungau scabies, racun bulu berbalik meracuni

Semesta Raya, 30 Oktober 2022

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This