Pendam atau Ungkapkan

by | Jun 26, 2022 | Cerpen, Tunas Muda

Heri Prasetyo │ SMAN 1 Balong

            Wajah mentari mulai berani menampakkan. Detik waktu telah membungkam keheningan malam. Dalam selubung kehangatan, rumah joglo tua di pinggir jalan desa itu tetap saja menjadi payung besar para burung-burung perkutut untuk berteduh, juga menjadi lentera bagi Sapta. Seorang remaja berparas cantik  dengan rambut hitam yang sering diurai. Kulit putihnya seakan memantulkan cahaya ketika terkena sinar matahari. Sapta duduk di bangku SMA.

“Mbok, Sapta berangkat sekolah dulu.” kalimat setiap pagi yang keluar dari bibir manisnya ketika hendak mengais ilmu.

“Ya, hati-hati sayang.” balas Simbok dengan suara lembut.

Akses jalan ke sekolahnya cukup jauh, cewek manis dengan seragam yang cocok di badannya itu harus menapaki beberapa meter untuk mendapat angkutan umum mengingat arah jalan ke rumahnya hanya berupa tanah selebar satu meter. Setiap sudut desa itu  menyimpan banyak memori tentang seluk beluk perjalanan hidupnya. Jalan raya yang ingin ia tempuh telah sampai. Teriakan keras para pedagang yang menawarkan barang dagangannya saling bersahutan. Sapta menengok ke kanan kiri, tapi tak ada satu pun angkot yang lewat.

            Hembusan angin makin bersilir, menyeret-nyeret dedaunan kering ke arah tengah jalan ditambah kencangnya kendaraan yang melaju seketika membuat daun hancur berkeping-keping. Sekilas terlihat di tengah beningnya bola mata Sapta. Cowok berjaket hitam naik motor Ninja itu menyita banyak pandangan. Dari arah barat angkot yang biasa ia naiki datang. Tanpa berpikir panjang, Sapta bergegas masuk angkot tanpa terlupa ucapan doa. Begitulah yang diajarkan Simbok ketika hendak naik kendaraan. Pinggir jalanan yang dipenuhi pedagang kaki lima sesekali terlihat pohon yang tak lagi berdiri tegak di atas tanah. Terkadang membuat Sapta atau orang lain yang lewat merasa bosan. Gerbang sekolah mulai menyorot pandangan. Angkot berhenti tepat di pinggir jalan. Logo SMA terpampang megah, bilur awan menari dan menyapa. Cowok yang tadi ia lihat waktu di jalan ternyata satu sekolah dengannya. Akan tetapi, Sapta seperti mengenal cowok itu.

“Duh, ternyata dia toh. Kok sekarang makin handsome, perasaan dulu enggak deh.” gumamnya lirih.

Sapta cepat-cepat masuk ke kelas yang berada di lantai atas, berharap tidak ingin ketemu cowok tadi. Hijaunya sekitar sekolah, memberikan udara yang segar. Setiap orang yang masuk pasti dihantui rasa ingin singgah di tempat tersebut. Setibanya di depan ruang kelas, terbesit suatu kalimat yang membuat Sapta bertanya-tanya.

“Guys, kelas sebelah ada cowok ganteng nih.” ucap Loly. Cewek tengil yang sok cantik di depan semua orang dan suka godain laki-laki.

“Ha, masa sih?” sahut semua anak yang ada di ruang kelas.

Langkah kaki guru terdengar dari luar kelas, para siswa  duduk di bangkunya masing-masing dengan segala kesiapan untuk memperoleh ilmu. Hari itu kebetulan adalah jadwal bimbingan konseling dan membahas tentang pacaran. Karena hal itu, memori masa lalu Sapta beranjak pulih. Kenangan dengan cowok itu menjadi beterbangan di otaknya. Masa dimana selalu bersama, bersenda gurau, hingga memikirkan apabila nanti berkeluarga. Mungkin tak hanya Sapta, kita pun pernah mengalami hal seperti itu di kehidupan nyata. Memikirkan dia yang tak pernah memikirkan kembali tentang kita dan akhirnya membuat kita setengah gila. Tak terasa satu jam telah terlewat. Bel pergantian jam berbunyi keras, memantul di antara dinding-dinding kelas. Guru BK keluar, guru mata pelajaran lain masuk. Akan tetapi, raut wajah guru yang baru masuk itu seperti memiliki sebuah informasi yang penting untuk disampaikan kepada semua murid.

“Selamat pagi anak-anak.” sapa guru itu.

“Selamat pagi, Bu.” jawab para murid dengan bersamaan.

“Kalian tahu gak?  Kelas sebelah ada cowok yang menjadi idola satu sekolah loh. Pasalnya selain memiliki wajah yang handsome juga memiliki kepribadian yang ramah.” Ujar guru itu dengan rautnya yang terkagum-kagum.

Sekelas langsung ribut, semakin berbicara tentang paras cowok tersebut hingga ada yang ingin menjadi pacarnya. Tapi, berbeda dengan Sapta. Ia hanya termenung dan seakan ingin mengutuk keadaan. Pelajaran dilanjutkan dengan seperti biasa. Gesekan spidol dengan papan tulis mengisyaratkan bahwa ada materi yang harus dicatat. Bel panjang telah berbunyi, pertanda jam istirahat telah tiba. Sapta langsung menuju ke toilet dengan genggaman buku di tangan kananya. Ia berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Sapta terdiam menatap wajahnya di depan kilau cermin.

“Apa yang terjadi hari ini? Mungkinkah ini hanya sebuah mimpi.” bergumam sambil memegangi kedua pipinya.

            Hatinya sedikit mulai tenang, raut wajahnya tak lagi terlihat tegang dan khawatir. Ia keluar dari toilet dan bergegas ke kantin untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain.

“GRUBAKK !!”

Sapta menabrak seseorang yang baru saja keluar kelas. Buku antologi cerpen yang berada di genggamannya langsung terjatuh ke lantai. Ia menunduk dan mengambil bukunya. Helai rambut yang lurus menutupi setengah wajahnya. Ketika ia beranjak berdiri dan meneruskan langkahnya, di luar dugaan. Ternyata yang ia tabrak Rendy, selama ini namanya berloncatan di bibir-bibir semua orang. Dengan perasaan yang tidak enak, Sapta mencoba mengeluarkan untaian kata dari mulutnya.

“Eh, sorry gak sengaja.” Penuh perasaan gugup.

“Iya, santai aja.” Senyum tipis menghiasi wajah Rendy.

Sapta mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut. Tapi, ternyata malah ditahan oleh Rendy.

“Bentar-bentar, lo kan…” raut wajahnya dipenuhi rasa keraguan. Takut apabila yang diduga ternyata salah.

“Hmmm.”

“Iya, gue Sapta. Ternyata lo masih ingat.” Jawab Sapta dengan berlagak tenang meskipun hatinya deg-degan.

“Udah lama gak ketemu, gimana kabar lo?” tanya Rendy dengan penuh harapan menerima jawaban yang baik.

“Gua baik-baik saja kok.” Jawabnya tanpa menanyakan kabar balik.

“Lo mau ke kantin? Yaudah ayo barengan!” ajak Rendy.

“E e e e enggak kok. Aku ke kelas dulu.” Sambil berlari meninggalkan tempat tersebut dan melupakan keinginannya untuk ke kantin.

Sapta terdiam di kelas, ditemani kipas angin yang tak juga mau berpihak kepadanya. Helai rambutnya terkibas. Aura cantiknya tampak jelas. Ia semakin teringat dua tahun yang lalu. Ternyata perasaannya masih sama hingga kini. Gadis pintar itu belum bisa move on. Selama ini cowok tersebut terus saja menghantui perasaannya setiap malam.

“Sap, lo baik-baik saja kan? Lo gak lagi sakit kan?” tanya Lili. Sahabatnya dari kecil yang tahu seluk beluk bagaimana karakter Sapta yang sebenarnya.

“Enggak kok Li, gue baik-baik saja.” Untaian kata yang membohongi perasaannya sendiri.

“Lo tadi ke mana aja gue tungguin di Kantin?” tanya Lili.

“I i i itu, gue tadi ke Toilet.” Jawabnya gugup.

“Kenapa lo gugup seperti itu?” tanya Lili dengan rasa khawatir.

 “Gue ketemu Rendy, cowok gua dulu. Terus sebenarnya gue masih sayang sama dia. Gimana ini Li? Bantu aku dong cari solusinya!” pintanya.

“Ha!” Lili kaget.

“Lo masih suka sama dia? Padahal dia udah nyakitin lo dulu. Kalau menurutku sih mending gak usah deket-deket lagi deh.” Saran Lili dengan harapan agar sahabat baiknya tidak lagi tersakiti.

Sapta bingung dengan apa yang dikatakan Lili, pasalnya saran dia kontroversi dengan apa yang diinginkan. Gadis cantik itu melamun dengan dipenuhi bayangan mantan yang menghantam keras di benaknya. Yang diomongkan Lili benar, sahabatnya itu tak hanya melontarkan kalimat semata. Tapi, Sapta tetap bersikeras dengan pendiriannya. Waktu menunjukkan pukul satu siang. Pelajaran telah usai. Murid-murid keluar dan bergegas pulang. Tak seperti biasanya, Sapta keluar paling akhir. Ia berharap ketemu Rendy. Tanpa direncanakan, mereka berdua berpapasan di Gang sekolah.

“Eh Rendy tunggu.” Panggil Sapta dengan sedikit basa-basi.

“Oh ternyata elo, ada apa nih?  Tumben manggil gue.”  Ujar Rendy.

Mereka saling berbicara dan berbalas tanya dengan biasa tanpa adanya sedikit rasa canggung di antara keduanya.

“Lo mau pulang?” tanya Sapta.

“Nggak! Gue mau ngosek WC. Ya mau pulanglah.” Jawab Rendy sedikit bercanda.

“Iiih, elo dari dulu suka bercanda deh.” Wajahnya memerah.

“Cepetan lo mau ngapain manggil gue tadi!!” sedikit geram karena basa-basinya Sapta.

“Semenjak kita putus, tak ada yang menghiburku lagi setiap harinya.” Ujar Sapta.

“Terus?” Rendy dengan enteng melontarkan pertanyaan tersebut.

“Hari ini gue mau mengatakan sesuatu.” Rasa gugupnya seketika kembali.

Beribu keraguan di dalam diri Sapta mulai beranjak menyerang seolah ingin mengeroyok dan menghantam. Keringatnya mulai menetes. Tapi, ia tetap akan mengatakan hal yang sebenarnya di luar nalar itu.

“Gue selama ini masih sayang sama lo. Lo mau kan balikan lagi?” hatinya sedikit lega karena kalimat yang selama ini berputar di kepalanya akhirnya dapat keluar.

“Maaf Sap, gue nggak bisa nurutin permintaan lo. Soalnya gue udah punya pacar baru.” Kata Rendy dengan rasa tidak enak.

Sapta terdiam, membalikkan badannya dan lari menjauh dari Rendy. Senyum di wajahnya melebur. Bulir air matanya mengintip di balik kelopak siap untuk beranjak keluar dan membasahi pipi. Menyesal! Sapta yang mengabaikan saran dari sahabatnya itu hanya bisa berandai-andai. Setiap kali ia ingin tidur air mata selalu membasahi selimutnya.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This