Pemaksaan Kehendak dalam Gerak Langkah

Sep 8, 2021 | Essai

Views: 0

Keadaan situasi perubahan begitu cepat, dari berbagai hal yang tentunya diketahui secara nyata dan riil, dalam kehidupan manusia. Tentunya tidak semua manusia bisa mengayuh keadaan dengan perubahan begitu cepat dan bisa diikuti dengan cepat pula, mengingat pembuat program selalu berpikir ada perubahan yang sudah dipersiapkan dengan matang dan waktu yang cukup panjang.

Kemenangan bagi seseorang, kelompok yang selalu berpikir bagaimana membuat terobosan, memanfaatkan peluang dalam penggunaan Piranti Keras IT untuk membuat hal-hal baru, yang berorientasi bisnis, ekonomi, dan dapat memengaruhi masyarakat sebagai pengguna IT dan trend yang dicintai dan menghasilkan.

Tidak hanya terobosan dalam sisi oriented bisnis tapi bagaimana membuat terobosan yang memililiki kehendak secara ter-silent terkait masalah antarlintas batas, dan atau kehendak internal lintas batas negeri. Kondisi semacam ini bisa terjadi dan sudah terjadi di dalam perhelatan kepentingan, yang tidak terdeteksi dengan jelas kebenarannya. Bagaimana terdeteksi namun tidak mampu berbuat oleh berbagai pertimbangan. Apakah misi tetap berjalan atau misi diberhentikan? Tentunya akan timbul pertanyaan bagaimana, adakah keberanian yang total menghadapi kondisi tersebut?

Tidak hanya yang bersifat kritis dengan gerak langkah jangka pendek, menengah, dan panjang. Bagaimana juga dalam hal yang bersifat level medium, yang memiliki kehendak dengan misi negatif dengan arah tujuan, membuat kerasukan psikologis antarinsan manusia, yang mudah terprovokasi dan mudah tersulut dengan sebuah hal yang belum tentu kebenarannya. Hal demikian menjadikan potensi permasalahan dan selalu hadir dalam momen-momen tertentu. Sungguh menjadikan tingkat saling menyerang dan atau bermain petak umpet sendiri saja, dalam satu meja untuk menggiring massa yang rentan menjadi objek dan subjek sasaran potensi konflik.

Sangatlah memilukan dengan kondisi geografis begitu luas bisa menjadikan hal yang sangat berpeluang bagi kehendak ter-silent dan berleluasa begitu sangat besar, dengan target di depan mata dan memainkan pergerakan dengan sangatlah bebas. Kondisi demikian sudah tidak menjadikan hal yang asing, namun menjadikan ledakan tatkala sudah waktunya permainan digeser pelan dan pasti. Lalu kerusakan pun tidak dapat dihindari. Hal ini terjadi karena waktu sudah dianggap selesai dan ledakan dibiarkan masif.

Kapal besar bertarung dengan badai di tengah lautan bebas. Masihkah yang menumpangi damai dan tenang? Tentunya, nakhoda dan perangkatnya lah yang dapat memegang dengan kuat di setiap ruang kendali dan operasional. Mereka berpikir keras dan memainkan hatinya yang kuat yang dapat merasakan penumpangnya adalah keluarga besar dari berbagai titik negeri yang besar. Jika ada penumpang yang jelas dan tidak jelas menghampiri dengan berbagai kepentingan, tentunya seribu kali dipikirkan ke depannya, yang menumpangi Kapal Besar yang harus diselamatkan sampai akhir zaman.

Kapal besar dengan kendali yang kuat dari kaki langit ufuk Timur menuju Barat Baitullah, dengan sebuah amanah yang diembannya, tentunya sulit diraihnya secara hakiki. Amanah diemban tanpa ada pengekangan diri sebagai kendali dan bersama-sama menggerakkan benteng-benteng yang kokoh. Penjaga setiap berbagai sudut Kapal, termasuk dalam hal sisi dalam mesin-mesin, harus dijaga dengan kata kunci “amanah”. Apakah hal tersebut bisa terwujud?Ya, tentunya bisa jika melepaskan label-label bara api yang melekat pada setiap wadah. Kendali dan perangkat kendali akan rusak secara pelan dan terus-menerus, kehancuran menggerogoti dari sisi dalam sangatlah berbahaya, tinggallah menuju kepompong bergelayutan.

Terlihat adanya perubahan sisi fisik. Sangatlah hal yang biasa dan terlalu mudah dilakukan setiap orang, hanya sifat lahir, bagaimana jika kehancuran lebih besar dan kualitas sangat rendah dan terjun bebas. Hal itu tidaklah menjadikan kebahagian hanya semu belaka, kerusakan sisi dalam merupakan bom besar sudah membias, namun tidak berbunyi ledakan. Ledakan diterima penumpang Kapal yang menanggung beban berat seumur garis keturunannya. Hal demikan yang terjadi saat ini, penumpang kapal sebagai penonton rasa berat disanggah bertahun-tahun. Hanya kekuatan jati dirilah yang menjadi proses pembelajaran lahiriah yang pahit dipertahankan seadanya dengan rasa pahit pula. Bukan berarti bahagia. Bahagia dengan apa yang dibahagiakan hanya senyuman dan suka-suka bangga, namun pikiran dan hatinya sangatlah menjerit.

Molekul-molekul hanya menjalankan pertahanan perut, pikiran, dan hatinya yang saling pandang memandang, menjadikan sebuah hiburan lahiriyah. Pengaruh yang begitu besar yang tidak dirasa melewati, mengiris, mengoyak tidak diketahui, tapi dianggapnya sebuah hal biasa-biasa saja. Namun, sesungguhnya kendali Kapal dan perangkat mati suri. Apakah hal tersebut dibiarkan begitu saja? Tentunya dibiarkan, jika hal itu tidak menjadikan kebaikan dan kebesaran senyumlah bahagia mereka semua.

Sidoarjo, 28 Agustus 2021

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This