Payung Fantasi

by | Sep 23, 2022 | Essai

Oleh : Ridwan Saidi

(Foto Samira Saidi)

Lenggang mengorak

menarik hati serentak

Ai ai ai siapa dia

Wajah sembunyi di balik payung fantasi

Ai ai ai aku rindu

Sebait lirik lagu Payung Fantasi yang biasa dinyanyikan Bing Slamet pada tahun 1950-an. Lagu ini mewakili semangat jaman. Di era itu di jalan-jalan pandangan mata kepergok wanita berpayung fantasi dengan ragam hias aneka bunga bertabur di selebar lapis payung.

Puja-puji empat besar Presiden di dunia, juru damai dunia, bagai payung fantasi karena begitu hujan turun payung langsung dilipat karena lapis payung berbunga dari kertas tebal, bukan kain.

Mantan Presiden SBY menggelar pendapatnya tentang politik mutakhir, langsung dikata mantan Presiden tak layak bicara. Mantan Presiden yang bicara politik terus-terusan Gus Dur dan Megawati. Kok yang dianggap salah cuma SBY?

Mantan Wapres Drs. Moh Hatta menulis buku Demokrasi Kita tahun 1960-an ketika Demokrasi Terpimpin bermaharaja lela.

Perkembangan situasi kini yang makin runyam juga menjadi perhatian akademisi. UGM memprakarsai pertemuan rektor baru-baru ini. Pertemuan ini positif dan menelurkan usul mendasar untuk perbaikan negeri.

Lantas saya teringat Seminar Trace Baru yang digelar di UI atas prakarsa guru-guru besarnya di awal tahun 1966. Sejurus kemudian Sukarno jatuh.

Baca Juga

0 Comments

Submit a Comment

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This