Pasca

by | Dec 1, 2022 | Tunas Muda

Oleh: Adlea Deanta

Kehilangan tak hanya mengambil darimu, namun mengubahmu dalam waktu yang sama. Kiranya aku belum mampu beradaptasi dengan perubahan itu. Entah apa lagi yang akan ia ubah setelah ini. Untuk jiwa yang kusayangi, bolehkah kubertanya, “Mengapa kau begitu cepat pergi?“ Tapi tidak mengapa, bila itu yang terbaik untukmu, dan mungkin untukku.

Meski ia timbulkan sehenyak kekosongan, mengapa aku justru melihat kesempatan. Kesempatanku mampu menentukan poros diri sendiri. Ketika ekspektasi dunia tak lagi terlampau tinggi, bolehkah aku memilih jalan lain bila begitu? Jalan yang begitu kuimpikan. Namun mengapa, ada sebersit rasa bersalah setelah itu.

Setelah sekian lama, surga mengetuk pintu hati. Mengucap salam padaku, sampaikan rindu bertemu. Serasa terlahir kembali. Menjadi diri sendiri, sejatinya yang sudah Dia tugaskan padaku. Ketika fitrah tidak mengingkari, mungkinkah itu tanda Ia meridhoi?

Bukan mudah, ketika angan yang sedari dulu dilangitkan mesti membumi mau tak mau. Merevisi mimpi, meluruskan visi, dan menggairahkan diri. Di sini, cinta perlu ditata kembali. Siapa yang harus didahulukan, atau diberi jatah sekedarnya saja. Karena cinta bisa disalahkan, siapa dia yang sok malaikat.

Inginku berjalan sekedarnya saja, bilamana hidup tak hanya sekali. Nyatanya, mati yang menungguku sekali. Menunggu untuk membebaskanku menuju sebenar-benar hidup. Ketika nanti aku tak punya kuasa atas apapun, getir menguasai diri. Entah akan berakhir di jurang siksa, atau pulang pada puncak kenikmatan.

Kehilangan, ingatkanku cara menjadi manusia. Sudah panjang aku kaitkan ini pada agama. Nyatanya ia memang luar biasa. Bagi mereka yang hanya mencari ketenangan, agama terasa merepotkan. Namun bagi mereka yang sadar bahwa hidupnya tak hanya sekali, agama justru adalah penolong yang paling dinanti. Harapan kita yang tertawan di dunia, penunggu mati, dan terdakwa yang nantinya akan ditanyai.

“Vonis mati telah jatuh atas tiap diri, tiada terkecuali. Mari nikmati ketertawanan sejenak di dunia dengan senyum dan karya, hingga tersurga. ” (Ust Salim A. Fillah)

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This