Pasar Lasi

by | Aug 7, 2021 | Essai

Pasar Lasi merupakan pasar tradisional yang buka pada hari Selasa dan Jum’at. Pasar ini terletak di Jorong Lasi Mudo, Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Dahulu kecamatan ini masih tergabung dalam Kecamatan IV Angkek Canduang, namun sejak adanya otonomi daerah, Kecamatan IV Angkek Canduang dipecah menjadi dua kecamatan yaitu, Kecamatan IV Angkek dan Kecamatan Canduang.

Jika Anda berada di Jorong Sitapuang (Nagari Balai Gurah, Kecamatan IV Angkek yang berjarak lebih kurang dua kilo meter dari Pasar Lasi) sekitar tahun 1980-an sampai dengan tahun 1990-an, Anda tidak akan menemukan ojek. Yang ada hanya mobil angkutan umum dengan trayek Lasi – Aur Kuning, melewati Sitapuang, Biaro dan jalan lintas Bukittinggi – Payakumbuh.

Jika berjalan kaki dari Sitapuang ke Pasar Lasi, sambil menghirup udara yang masih segar, Anda akan melihat pemandangan yang indah di sepanjang jalan. Karena Anda akan ditemani rimbunya pohon bambu yang tinggi menjulang dan pepohonan lainnya yang tumbuh di kanan kiri jalan aspal. Warna kuning dari bunga matahari juga terlihat menghiasi pinggir jalan, sebagai selingan dari warna hijau yang mendominasi. Dan ketika hari cerah tidak berawan, tampak jelas Gunuang Marapi berdiri dengan kukuhnya jauh di depan Anda.

Anda akan tetap memilih untuk berjalan kaki seperti warga lainnya, dari pada naik angkutan umum, walau berjalan kaki di jalan aspal itu cukup jauh dan menanjak. Apalagi dengan berjalan kaki, Anda akan ditemani oleh suara aliran air yang sedang bermesraan bersama bebatuan di sungai kecil dan dangkal yang ada di balik rimbunnya pepohonan.

Anda baru akan menemui satu rumah papan di sebelah kanan jalan, ketika anda berada lebih kurang lima puluh meter sebelum memasuki pasar. Apabila cuaca cerah, di seberang rumah papan tersebut, akan terlihat hamparan padi yang dijemur oleh para pekerja heler “Mak Lenggang”.

Sesampainya di area pasar, di sebelah kiri jalan aspal, waktu itu belum banyak berdiri rumah warga, sehingga suasana pasar masih nampak jelas dari jalan. Dan di sebelah kanan jalan, sedikit turun dari bibir jalan, pasarnya malah berada di depan rumah warga. Di kanan kiri pinggir jalan banyak juga pedagang yang berjualan. Rata-rata para penjual memakai sepeda. Ada yang menjual mainan anak-anak, jualan es dan makanan anak- anak lainnya.

Sebelum memasuki lorong pertama Anda akan bertemu dengan ibu penjual mihun dan pensi. Kalau sebelum masuk lorong ke dua, Anda akan bertemu dengan ibu penjual gulo-gulo tareh (gula merah dibalur tepung). Pasar yang di sebelah kiri jalan mempunyai empat lorong, masing-masing lorong berjarak lebih kurang sepuluh meter.

Kalau Anda memasuki lorong pertama, di sebelah kiri akan terlihat tiga kios penjual pakan ayam dan keperluan lainnya untuk para peternak ayam. Kios itu berukuran tiga meter kali dua meter. Di depan kios tersebut, tepatnya sebelah kanan setelah memasuki lorong pertama, berdiri bangunan tinggi dengan tiang-tiang kayu, tanpa dinding, beratapkan seng, berlantaikan tanah. Nah di dalam bangunan inilah para pedagang berjualan. Di depan bangunan ini ada lagi satu bangunan yang sama, namun ukurannya dua kali lebih besar dari bangunan pertama.

Bangunan pertama lebarnya lebih kurang tiga meter dengan panjang sampai ke lorong nomor dua. Bangunan ini terbagi menjadi beberapa lapak. Lapak pertama ada penjual kambuik (tempat bawaan belanja yang terbuat dari daun pandan dan semacamnya), tampian beras dan lain-lain. Di lapak kedua ada penjual kopi bubuk, gula, teh. Pada lapak ketiga diisi oleh pedagang buah-buahan. Lapak ke empat dan lima diisi oleh pedagang peralatan dapur, seperti piring, gelas dan sebagainya.

Masing-masing pedagang menutupi sebagian lantai tanah itu dengan terpal untuk meletakan barang dagangannya. Kalau pedagang buah-buahan dan kopi pakai meja.

Jika Anda merasa lapar, maka datang saja ke bangunan yang kedua. Di sana bisa memilih makanan yang diinginkan, karena pada bangunan ini berjejer penjual makanan di kanan kiri yang tertutup kain seperti penjual pecel lele di pinggir jalan.

Di sebelah kiri berjejer lima tempat makan khusus untuk sarapan, seperti katupek (lontong), bubur kacang padi (kacang hijau), bubur putih, bubur ketan hitam, dan pecal. Kalau di sebelah kanan, ada lima tempat yang menjual nasi ampera.

Di belakang bangunan kedua ini, ada tempat pedagang berjualan daging, ikan, ayam, ikan asin, belut, udang dan bumbu yang sudah digiling. Posisinya di bawah karena tanahnya lebih rendah dari tanah tempat berdirinya bangunan. Kalau dari lorong pertama, jalan lurus saja ke depan, nanti akan sampai pada anak tangga yang sudah disemen untuk ke bawah.

Setelah menuruni anak tangga, di sebelah kiri ada beberapa rumah warga, tapi jaraknya sekitar sepuluh meter dari tangga dan sekitar dua puluh meter di depan ada bangunan seperti gudang. Ketika menginjakkan kaki pada anak tangga terakhir, Anda akan disambut oleh dua orang bapak-bapak penjual ikan asin.

Kalau jalan ke kanan setelah turun dari tangga tadi, Anda akan melihat beberapa pedagang yang berjualan. Jika terus berjalan menelusuri tempat pedagang yang berjualan, di sebelah kanan ada pedagang daging dan ayam yang berjejer, sedangkan di sebelah kiri yang terlihat pertama kali adalah dua lapak pedagang ikan. Setelah itu ada pedagang bumbu yang sudah jadi, terus pedagang belut, kadang ada juga yang berjualan cumi dan udang di sini. Tempat jualan yang ini panjangnya sama dengan kedua bangunan tadi. Di sini pedagang hanya pakai meja dan tenda payung.

Di ujung jalan dari tempat pedagang daging dan sebagainya tadi terdapat lapak penjual rempah- rempah, sayuran, cabe, bawang dan hasil kebun lainnya. Pedagang di lapak ini rata-rata ibu-ibu yang sudah berumur. Lapak ini cukup panjang, menghadap pedagang daging, ayam dan ikan. Lapak ini berbentuk panggung, beratapkan seng, lantai dan tiangnya terbuat dari bambu. Di belakang pedagang sayuran ini ada dinding tembok yang sudah mulai berlumut. Kalau tembok itu dibersihkan, mereka bisa jualan sambil bersandar. Depan lapak ini merupakan jalan tanah yang bisa menuju lorong nomor dua. Jadi kalau dari sini ingin ke jalan aspal melalui lorong kedua, Anda tidak akan melewati tangga, tapi akan berjalan di jalan tanah yang sedikit menanjak. Di sudut lapak panggung ini ada tangga untuk naik ke atas yang bisa menuju ke lorong ketiga dan lorong keempat.

Ketika Anda masuk melalui lorong ketiga yang diapit oleh rumah papan berlantai dua milik warga, di sebelah kiri akan terlihat satu kios pedagang beras dan telur. Di sebelah kios itulah tangga menuju tempat penjual ikan tadi. Setelah itu ada satu kios lagi yang menjual barang pecah belah.

Di depan kios pecah belah tersebut berdiri satu bangunan lagi yang luasnya kurang lebih sama sengan bangunan kedua di lorong pertama. Namun bangunan ini sudah terbagi dua, karena sisi kanan dan kiri dalam bangunan sudah ditinggikan lebih kurang setengah meter dari tanah dan sudah di semen. Di sini terkumpul para penjual perlengkapan untuk bertani dan berkebun seperti, cangkul, parang, sabit dan lain sebagainya. Dan ada juga pedagang batu akik serta penjual rokok nipah (rokok daun).

Di lorong pertama ada dua bangunan tanpa dinding. Kalau di lorong ketiga hanya satu bangunan saja, tapi di lorong ketiga ini ada kios kecil di sebelah bangunan. Kalau ditarik garis lurus, akan sejajar dengan bangunan pertama di lorong sebelumnya. Kios ini di isi oleh para penjahit pakaian. Di ujung kios ini merupakan jalan menuju lorong keempat, dan di pinggir jalan sebelah kiri, kalau Anda dari dalam pasar mau keluar melalui lorong keempat, akan menemui penjual kelapa dan santan. Nah di sinilah ujung dari Pasar Lasi.

Kalau area pasar yang berada di bagian kanan dari jalan, agak turun dari bibir jalan, banyak pedagang sayuran hasil kebun sendiri. Tapi pedagang lain juga ada, seperti padang ikan asin, bawang, cabe, buah-buahan. Karena lokasinya di depan rumah warga, jadi tidak terlalu ramai pedagang berjualan di sini. Apalagi tempat jualannya terbuka. Hanya ada satu atau dua pedagang saja yang pakai meja dan tenda payung, pedagang lainnya hanya memakai alas plastik saja.

Pasar Lasi ini ramai transaksi jual beli hanya dalam waktu tiga jam saja, yaitu pukul 06.30 sampai dengan 09.30 WIB. Lewat dari jam tersebut, pasar mulai sepi. Para pedagang sudah mulai berkemas, membersihkan sampah yang ada di sekitar lapak mereka masing-masing dan mulai mengumpulkan barang dagangannya. Di sore hari yang tampak masih buka berjualan hanya warung milik warga di sana.

Itulah kondisi Pasar Lasi sekitar tahun 1980-an sampai 1990-an. Dahulu banyak anak-anak yang datang ke sana, kadang hanya sekedar untuk bermain saja dengan teman-teman mereka. Namun sekarang, anak – anak lebih memilih duduk di rumah, dengan smartphone di tangan. Suasana pasar yang dulu sangat menyenangkan, sekarang sudah berubah.

Hijau dan kuning yang dulu menghiasi kedua sisi jalan menuju pasar pun, sudah mulai hilang dengan adanya beberapa bangunan rumah warga. Dan semenjak ada ojek, sekarang warga juga jadi malas berjalan kaki. Pasar yang dulu bisa sebagai tempat hiburan bagi anak-anak dan para remaja, sekarang benar-benar hanya untuk transaksi jual beli memenuhi kebutuhan rumah. Apakah pasarnya yang salah? Tidak, tapi perkembangan zaman yang mempengaruhi pola pikir. Dengan kemajuan teknologi yang tidak bisa dikontrol oleh masing-masing pribadi, membuat peradaban berubah.

Semoga saja suasana Pasar Lasi akan bisa kembali seperti dulu lagi. Di mana anak-anak dan remaja menjadikan pasar sebagai tempat hiburan dan pembelajaran tentang hidup bagi mereka. Hijau dan kuning semoga juga tidak habis dimakan bangunan.

Oleh : Rickardo Chairat

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This