Parade Fiksimini Para Sahabat Tinta Emas Negeri (TEN)

by | Sep 16, 2021 | Cerpen

Netty Patryana
Batu hitam di sungai tua, tergerus waktu, entah sejak kapan dia berada di sana. Setiap hari menghadapi derasnya air yang mengalir dan akar tanaman yang terus menggodanya untuk mengikatkan diri.

Alfiah Santi
Cantik, semampai, pandai, hancur terburai. Hatinya remuk. Teringat rasa tulus sampai mampus, dicampakkan tak bernilai. Memberi hati kepada lelaki yang datang penuh harapan. Cinta pertama, pesona dan dewasa. Penuh impian. Hari-harinya berwarna pelangi. Dering gawai bernyanyi meluluhkan hati. Ternyata hujan membuka tabir kepalsuan. Lelaki itu aktor kawakan. Dia hanya mencari tempat persinggahan. Sial, si cantik hanyalah selingkuhan dan harus menelan kata ‘maaf’.

Fika Bil Choir
Bapak, hari ini aku menangisimu. Menangisi ketidakhadiranmu dalam setiap peristiwaku. Dan nyaris hanya alpa kulihat dalam presensi kehadiranmu.

“Andai saja Bapak ada, tentu tak akan seberat ini beban yang kutanggung.”
keluhku tiap kali beban bergelayut di kaki kecilku.

Kecilku yang selalu berhati-hati namun kurang bisa menilai mana ketulusan mana kebusukan. Kehati-hatian hanya sebatas tidak terjatuh dan tidak melukai. Ceroboh akan bahaya yang siap melumatku.

Namun, lagi-lagi keajaiban Tuhan senantiasa memberikan kesempatan untuk menghindar.

Pril Huseno
Mirna tak berani menatap meja tempatnya memotong-motong hati. Hancur sudah. Dia pasrah. Yang dibelah-belahnya adalah hatinya sendiri yang terlanjur punah…

Mariska Lubis
Di pangkuanku dia menutup mata dengan nafas tiada. Para biadab itu sudah membunuhnya dengan keji. Kepala dihantam batu, perut ditonjok, vagina sampai anus terobek-robek. Dihinakan dan dibuang di tepian jalan tanpa ada yang berani menolong. Telah lebih dari 20 tahun silam, gadis mungil yang diperkirakan berusia 5 tahun itu dikubur. Kini masih terbayang di pelupuk mata, tanpa nama, tanpa tahu siapa orang tuanya. (base from true story)

Mariska Lubis
Sarimin katanya pergi ke pasar. Bawa payung, bawa gerobak, kaca mata hitam. Bedil dibawa hanya sekedar untuk gaya. Sebagai pelengkap, seuntai rantai panjang melingkar di lehernya. Mata memelas tidak bisa dilepas. Tebar pesona tidak pernah berarti. Merdeka hanya untuk mereka yang melihatnya menjadi tontonan dan budak.

Mariska Lubis
Malam itu perutku sakit, tapi aku takut. Jalan ke sungai sangat gelap dan banyak cerita aneh kurang enak. Belum lagi aku sempat membuka pintu bambu penutup, tiba-tiba kulihat sepasang mata terbelalak. Kututup mataku.

Plung!
“Aaahhh!!!”

Halagh!!!

Pril Huseno
Desta kelimpungan. Air mata Susi, istrinya, tak henti tertumpah. Deras mengalir bak air banjir. Berteriak teriak keras. Meminta tolong. Rupanya Desta tak sengaja menginjak kaki istrinya…

Sri Martoyo
Sarimin berkuasa sangat berkuasa. Terkenal seantero Bonbin. Muka masam iya, jelek udah dari lahir, soal tajir pasti tetangga lewat lah.
Soal gaya, pokoke tiada duanya.
Hidup sarimin, sang penghibur recehan!

Netty Patryana
Dusta
“Aku harus pergi. Aku akan kembali,” Darma menutup ponselnya. Sudah terbayang hal apa yang akan dihadapinya. Sebuah suara mendekat.
“Mas Darma, silakan turun untuk penghormatan terakhir.”
Darma turun ke tempat peristirahatan abadi untuk mengumandangkan adzan terakhir untuk Ratri, istrinya.
Tak berapa lama ponsel Darma berbunyi.
“Desain undangan sudah dibuat. Kapan mas sempat kepercetakan?” tanya sebuah suara di ujung telpon. Ceria bak bunga mekar. Mekar di taman berduri.

Sri Martoyo
Seperti roda tua, tradisi meja dadu sangkuni.
Kesatria pilih tanding terkunci kukus, jamuan nikmat tawa para durjana.
Harga diri bugil tak tersisa.

Netty Patryana
Lepas Kendali
Sakit sekujur tubuhku. Melipat pekat masa ranumku. Ku tak diinginkan. Lahir pun tak diharap. Bapak menyeretku hingga terlepas jiwaku.Tercecer di bawah kaki lelaki tua pemilik lahan. Kehormatanku tergadai. Senyum kepuasan terlihat jelas di wajah bapakku. Hutang lunas. Meja judi kembali panas. Senyum mereka, kematianku.
Machmud Soleha
Wajahnya kelihatan sejuk Sorot matanya teduh menyejukkan. Tanda hitam didahinya berlipat disebakan sujud. Bibirnya tidak berhenti bertasbih munyucikan Tuhannya. Serasa surga berada bersamanya.

End—

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This