Nilai Bukan Segalanya, Nak!

by | Dec 16, 2021 | Pojok

Bila kebanyakan orang tua barangkali senang bila anaknya ketakutan mendapat nilai buruk di sekolah, saya justru kebalikan. Saya merasa tidak nyaman bila anak menjadi stress dan panik hanya karena takut nilainya jelek. Bukan nilai yang semestinya dikejar di sekolah, begitu juga di dalam lingkungan sehari-hari, tetapi ilmulah yang harus selalu “diburu”. Percuma nilai tinggi bila tidak berilmu, gelar dan ijazah, bahkan uang dan jabatan, nilai-nilai manusia tidak menjamin kualitas keilmuan seseorang.

“Sekolah biar pintar” bagi saya hanyalah sebuah euforia yang bisa menjerumuskan, sebab bukan sekolah yang membuat pintar tetapi belajar. Orang yang tidak sekolah dianggap bodoh, padahal belum tentu demikian. Apalagi mengingat saat ini begitu mudahnya mendapatkan ijazah dan sertifikat, cukup memiliki uang saja bisa dapat. Kualitas pendidikan begitu buruk, bahkan untuk mampu mengamati, analisa, dan mengkaji pun “nol besar”. Meski bisa saja ini dianggap sebagai sebuah hipotesa dan pemikiran yang salah, namun dari kualitas bahasa masyarakat saat ini saja sudah menjadi bukti rendahnya kualitas manusia. Bahasa bukan sekedar sarana komunikasi, tetapi juga bukti dari peradaban, etika, cara berpikir, pola pikir, dan struktur dalam berpikir.

Anak-anak yang “dipaksa” belajar pelajaran-pelajaran sebelum waktunya, juga menjadi bukti rendahnya kualitas pendidikan. Anak-anak bahkan diwajibkan sudah bisa membaca dan menulis untuk bisa diterima di Sekolah Dasar, padahal itu justru merusak. Anak-anak tidak dipersiapkan untuk siap belajar, mampu memaksimalkan panca indera untuk mengamati, menganalisa, dan berpikir, tetapi dijejali oleh teori dan hafalan semata. Orang tua pun anehnya seringkali memaksa, dan bahkan malu, membandingkan anaknya sendiri dengan yang lain. Bukannya mencari tahu apa kelebihan anaknya, meski sayang dan merasa sudah memenuhi kewajiban, tetapi malah merusak anaknya sendiri.

Sekolah sudah dibuat seperti sebuah prosedur protokoler yang “wajib” dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan pekerjaan. Seperti mencetak robot, “bekerja” dalam arti menjadi “pegawai” diutamakan dan dipentingkan, bahkan dijadikan patokan kesuksesan. Sekolah mahal dianggap pasti berkualitas, padahal belum tentu. Menjadi peneliti, seniman, pengusaha mandiri yang membuka lapangan kerja bagi orang banyak, bukan pilihan utama. Terlalu banyak alasan untuk mengurung kemampuan berpikir lebih luas dan merdeka, sehingga secara tidak langsung, ilmu pun “disunat secara paksa”.

Cara saya mendidik anak-anak saya mungkin sangat berbeda dengan kebanyakan orang, namun bukan berarti saya tidak sayang. Justru karena saya sangat sayang, saya ingin mereka sanggup menghadapi masa depan dengan tantangan yang berbeda dengan sekarang dan masa lalu. Jika terus berkutat dengan apa yang sudah dilakukan di masa lalu dan sekedar untuk saat ini, bagaimana mereka mampu memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Visi atas masa depan perlu dicermati dan dianalisa, dipikirkan baik-baik dengan bijaksana. Tanpa ilmu, tidak akan mampu.

“Apapun yang terjadi dan bagaimanapun, kalian tetap anak-anakku tersayang. Nilai bukan segalanya, Nak! Yang utama adalah berani menjadi diri sendiri dan berpegang teguh pada kebenaran. Percuma nilai bagus bila tidak berilmu dan tidak mengerti, fokus pada ilmu dengan belajar. Kalahkan kemalasan dan kesombongan diri. Orang malas dan sombong tidak akan pernah pintar, apalagi cerdas. Hidup bukan untuk nilai-nilai di mata manusia, tapi di mata Allah”.

Surabaya, 15 Desember 2021

Baca Juga

0 Comments
  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This