Nasibku Telah Tergariskan

by | Aug 20, 2021 | Puisi

“Ah, lagi-lagi sendiri malam ini“.
“Kok bisa sih dia lagi? ‘Kan aku lebih pintar darinya“.
“Kenapa aku belum menikah ya? Padahal aku nggak jelek-jelek amat“.
“Sampai kapan sih Pandemi ini? Usaha bangkrut, keluarga berantakan“.
Keluhan di atas selalu terdengar saat dihadapkan dengan situasi seperti ini. Betapa dengan mengeluh seolah ujian yang sedang dipikul menjadi ringan. Padahal dengan keluhan tersebut, mental kita akan semakin jatuh dan terasa sangat sulit untuk ikhlas dalam menjalaninya.

Ya, La Tahla sebagai “Notice” kecil dari Allah Swt. La Tahla berarti jangan mengeluh.
Kita harus terbiasa untuk mengucapkan Istirja ataupun Istigfar ketika menghadapi kesulitan hidup termasuk di dalamnya adalah ujian dan peringatan.
Nasib tidak bisa kita tebak sebelumnya.
Namun masih bisa kita rubah sehingga diperlukan usaha yang kuat dan konsistensi diri dalam prosesnya.

Seperti dalam QS Ar Rad : 11 yang sering dipotong untuk motivasi diri sehingga kita berusaha semaksimal mungkin dalam hidup,
yaitu; Sesungguhnya Allah Swt tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan mereka sendiri.

Dalam tafsir Fidzilail Qur’an, Seorang Said Quthb memberikan pemahaman bahwa sesungguhnya Allah Swt telah mengutus malaikat pendamping untuk melihat dan mengawasi apa yang diperbuat oleh manusia di dunia terutama ketika proses merubah keadaan dan dirinya.
Jika disadari, Allah Swt telah menggariskan Qadha dan Qadhar kita, sehingga wajib kita percaya dan imani dengan ikhlas. Allah Swt menggariskan Takdir yang didalamnya ada nasib baik dan buruk yang bisa kapan saja berubah sesuai perbuatan manusia itu sendiri.

Hal ini yang sering tidak disadari bahwa jika kita membaca dan mengamalkan keseluruhan ayat itu, kita akan paham bahwa Nasib bisa berubah dari baik menjadi buruk ketika kita sebagai manusia melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt, begitupun sebaliknya.

Nasib seperti ini sebagaimana telah terjadi pada umat terdahulu yang berada dalam kemuliaan tetapi secara tiba-tiba berubah menjadi kehancuran atas ulah mereka sendiri.
Contohnya adalah kaum Nabi Hud As yang semula diberikan kemuliaan namun berubah menjadi keburukan karena mereka telah melampaui batas yaitu dengan semakin menjadi-jadi dalam kemaksiatan dan kesyirikan.

Begitulah ketika Allah Swt telah hinakan makhlukNya dengan memberikan bencana hujan selama tujuh hari tujuh malam beserta angin kencang, sehingga memporak-porandakan wilayah mereka dan membinasakan mereka yang tetap mendustai Allah Swt. Sungguh nyata balasan yang diberikan atas kemungkaran yang terjadi.

Semoga semua dari kita memahami bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati proses. Maka dari itu sejak sekarang tetapkan apa yang telah menjadi target awal dalam hidup ini. Petakan menjadi sebuah mind map yang bisa dilihat setiap hari agar kita tidak keluar dari target awal.

Jangan lupakan juga, Istiqomahkan ibadah wajib dan sunnah sehingga dengan perpaduan Usaha dan Do’a maka hasil akan dengan ikhlas diharapkan dari Allah Swt.

Sadari dengan baik, sebagai makhluk kita hanya perlu berusaha dan berdo’a, selanjutnya utuk hasil adalah hak prerogatif Allah Swt.
Yuk, bisa yuk ! Semangka ya semuanya, Semangat karena Allah pastinya.

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This