Mungkinkah Kawaja dan Khawaja Sebuah Cocoklogi?!

by | Nov 5, 2021 | Essai

Masyarakat Ambon dikenal sebagai masyarakat “mestizo” (masyarakat atau orang-orang yang berdarah campuran) di Nusantara yang memiliki perpaduan warna kulit berwarna dan putih (kaukasoid). Jadi bisa dibayangkan betapa uniknya masyarakat Ambon ini, dengan mestizo dan kaukasoidnya.

Masyarakat Ambon merupakan salah satu dari sekian banyak masyarakat yang menggunakan bahasa kreol. Salah satu penyebab berkembangnya bahasa kreol adalah karena adanya kumpulan orang dengan latar belakang yang berbeda-beda yang datang pada suatu daerah.

Dalam pergaulan sehari-hari, orang Ambon atau orang yang pernah tinggal di Ambon mungkin sering mendengar kata “Kawaja” yang berarti pelit/kikir. Kata “Kawaja” sering terlontar dari mulut seseorang, apabila permintaan orang tersebut tidak digubris oleh orang lain, seperti “Bang, minta rokoknya Bang…” Orang yang dimintai rokok tidak menggubrisnya atau diam saja. Karena tidak adanya respon dari orang yang dimintai tersebut, maka orang yang meminta rokok tadi dengan spontan berucap, “Ose (kamu) kawaja (pelit).”

Apakah kata kawaja dalam bahasa Ambon ini terpangaruh oleh kata “Khawaja” (orang Koja)..?! Jangan dulu keburu menafsirkan cocoklogi ini. Kalaupun benar, berarti ini merupakan hasil dari perpaduan multi kultur yang mewarnai negeri kita, tapi kalau salah, ya tidak apa-apa juga.

Menurut penulis, kata “Kawaja” hampir tidak ditemukan asal usulnya dari rumpun bahasa yang ada di Maluku, seperti Bahasa Tanah yang merupakan bahasa asli Maluku, di mana kata Tanah itu sendiri mungkin menafsirkan tentang asal muasal manusia. Dalam bahasa Melayu Ambon juga tidak diketahui bagaimana asal usul kata “Kawaja” tersebut, padahal bahasa Melayu Ambon adalah salah satu bahasa kreol melayu yang ada di dunia.

Dalam sutu catatan akun @potert lawas, di suatu masa ketika Nusantara mulai dikunjungi para pedagang bangsa Arab dan India, tersebutlah koja yang merupakan istilah untuk para pendatang muslim dari daratan India. Jika “Kawaja” dalam bahasa Ambon itu artinya pelit/kikir maka kata “Khawaja” yang berasal dari bahasa Persia, merupakan semacam panggilan hormat untuk pandit, saudagar dan sebagainya. Dari kata “Khawaja” inilah lahirnya kata “koja”. Jonathan Rigg (1862), (Dictionary of the Sunda Language of Java (@potretlawas). Orang Koja umumnya berdagang. Soal itu ada gambaran menarik dalam Suluk Mas Nganten (1818), wong Koja busananira cara Arab kadi santri, pantese atine pethak tan pati amikir dhuwit. Suprandene yen anuju nagih potang yen wus mangsane samaya, anggujeg tan sidhang siring, yang artinya disebut orang Koja berbusana putih macam Arab. “Harusnya hatinya pun putih, tak terlalu pikirkan uang. Tapi jika menagih hutang akan nampak wataknya yang sulit kompromi. Apalagi jika ditangguh, ia akan terus menagih.” Ini terkait kebiasaan orang Jawa mengulur pembayaran hutang. Kalau berkaca dari suluk tersebut, dengan sendirinya muncul interpretasi kita, bahwa para pandit itu kawaja/pelit, penuh perhitungan dalam berbisnis. Walau tidak bisa dinafikan kebiasaan meminjam dengan memberi janji palsu juga salah satu perilaku yang salah besar.

Akan halnya kaitan kata kawaja dan khawaja dalam hubungan India dan Ambon memang sulit kita dapatkan dalam arti sebenarnya. Andaikan salah satu kampung di Ambon yang bernama Mardika bisa dikatakan jejak para Mardijkers, itu belum tentu juga. Karena dari literatur bahkan jejak nam atau fam (marga) hampir tidak ada berkaitan dengan orang India. Walau kita tidak bisa menafikan bahwa masa penjajahan kolonial banyak budak dari India yang kemudian dimerdekakan yang dikenal dengan istilah Mardikjers. Bahkan para keturunan India sendiri dari kaum Mardijkers (para budak yang dimerdekakan) asal India. Menurut Sejarawan Simon Maelissa dalam Jelajah Pusaka Bahari Teluk Ambon yang digelar oleh Balai Arkeologi Maluku, sampai sekarang masih sulit ditelusuri, baik keturunan maupun tempat-tempat yang pernah dihuni oleh mereka. Sejauh ini belum ada peneliti yang berhasil menemukan jejak Mardijkers di Ambon, ia mengatakan sulitnya menelusuri jejak Mardijkers asal India Selatan dan Nepal, disebabkan oleh pembauran yang terlalu mendalam, seperti perkawinan campuran antara mereka dengan masyarakat lokal dan bangsa Portugis yang seharusnya menjadi proses asimilasi budaya, tapi tidak terjadi demikian.

Diduga akibat dalamnya pembauran tersebut, para Mardijkers juga mengganti nama dan marga mereka mengikuti bangsa Portugis dan masyarakat lokal, sehingga menyebabkan tidak adanya ciri khas tradisi, budaya maupun kesenian khas India maupun Nepal yang ditinggalkan. Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan bahwa rata-rata para Mardijkers menganut agama Kristen Katolik mengikuti bangsa Portugis, tapi kemudian berganti menjadi Protestan setelah Hindia-Belanda mengambil alih Ambon. Perkawinan campuran memang memberi pengaruh besar. Tidak ada catatan penggunaan nama dan marga asli mereka, sepertinya mereka juga mengubahnya untuk menyesuaikan diri. Ciri tradisi dan budaya juga tidak bisa ditemukan,” katanya.

Sementara menurut Annas Salim (VIVA co.id di Masjid Pekojan, Semarang, Rabu, 8 Juni 2016), salah satu sesepuh Kampung Pekojan, awal cerita kampung dan Masjid Pekojan di Semarang bermula semenjak 150 tahun silam, di mana banyak saudagar Pakistan dan India yang memilih menetap di Kota Lumpia ini. Koja sendiri memiliki arti kampung yang didiami oleh suku-suku sempalan dari India dan Pakistan. Suku-suku terdahulu memang memilih hijrah dan syiar Islam di sejumlah tempat. Semarang salah satunya.

Sejarawan Maelissa mengungkapkan sulit mencari jejak kaum Mardijkers asal India sampai saat ini, tapi ada informasi turunan pekojan India/Pakistan muslim kini tinggal 1 atau 2 fam/marga yang kini masih bertahan di Ambon, turunannya itu masih memakai marga India itu sampai sekarang, mungkin generasi ini adalah generasi baru saat datang ke Ambon. Wallahu Alam…

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This