Muka Tebal

by | Nov 23, 2021 | Essai

Perlintasan waktu berputar bagai jarum jam, tanpa henti, berhenti jika batu cashnya habis, lemas dan mati. Sirkulasi manusia juga indentik dengan berputarnya jarum jam, diawali proses percintaan, mengandung, melahirkan dan seterusnya.

Menarik untuk disimak dibayangkan dan direnungkan perjalanan kehidupan dari tidak ada menjadi ada dan tiada. Saat menjadi manusia seutuhnya, yang bagaimana sesungguhnya, jika manusia sudah belajar, penguatan, bekerja, memiliki rasa tanggung jawab, didasari iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana ajaran yang dianutnya oleh masing-masing berdasarkan kepercayaan dan keyakinan.
Landasan yang menguatkan tentunya iman yang ada pada diri manusia, tentunya sudah disadari masing-masing. Mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak boleh. Jika dilakukan dengan sesadar-sadarnya dianggapnya benar merupakan tanggungjawab secara pribadi, jika berkelompok sengkuyunglah secara bersama-sama.

Dari berbagai kurun waktu, rasanya tindakan yang tidak tepat selalu mewarnainya, demikian kembali pada diri manusia dalam menjalankan kehidupan, dan segala resikonya. Apakah seperti ini dari masa ke masa dan kedepannya.

Rasanya saat ini segala persoalan yang terjadi terus menggelinding dan tidak surut, hal-hal menyangkut sisi uang dan persoalan lainnya. Dan rasanya menyangkut hal sisi uang, kayaknya diburu entah normal dan tidak normal menjadi rebutan, tatkala terjerat kayaknya menjadi hal biasa tidak adanya rasa malu. Kena apa demikian, hal ini menjadi sangatlah sensisitif dalam kehidupan sosial masyarakat.

Hal ini menjadi pembelajaran yang sangat terburuk, oleh karena sekali berjalan akan berjalan seterusnya. Dan semakin kuat dan besar menjadi lebih terjaga dengan sempurna, seperti tidak ada apa-apa, tidak terjadi apa-apa dan dianggapnya benar.

Walaupun banyak orang yang mengetahui kebenaran, namun karena terjaga dengan baik pada lingkaran dalam kekuasaan, tetaplah tidak berdaya. Nah, kalau terjadi seperti hal tersebut, tetap saja siklus dijalankan dianggapnya selembar kertas putih.

Dengan demikian bagaimana, adanya perubahan revolusi mental dan kembali pada titik nol, dalam artian ada perubahan secara totalitas. Oleh karena revolusi mental terarah pada revolusi akhlak tentunya menuju revolusi keimanan pada jati diri manusia menjadi lebih baik.

Hal demikian tentunya sudah sangatlah mendasar, sudah diketahui oleh siapa saja, namun pada kenyataannya digiring dan penggiringan terus berlanjut, sehingga sulit akan dilepas, sesuatu hal yang diraihnya walaupun menabrak rambu-rambu hukum, ekonomi, budaya serta azas-azas etika dan adab selaku insan manusia yang seutuhnya.

Rasa malu sepertinya hilang pada diri manusia, jika disimak dari raut wajah, tindak- tanduknya, sepertinya kebal muka dan menjadi hal biasa. Mengapa demikian hal ini menjadi pembiasan begitu dalam, ibaratkan sudah adanya contoh masih menjadi-jadi.

Kebal muka hilang rasa malu pada diri manusia, menjadi hal yang sangat tragis dan memalukan, namun malu menjadi malu-malu kucing, seakan tidak mau dimakan juga. Katanya pepatah orang tua terdahulu.

Sda, Nopember 2021
Yudi E Handoyo

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This