Muak Saja Tak Cukup

by | Oct 31, 2021 | Essai

Kadang kejenuhan sudah demikian stagnan. Melihat para badut, mereka para psikopat politik yang bebal dengan kebodohan yang dipertontokan. Maunya aku menjerit, merentang urat leher. Mereka para loyalis rezim yang nyaman dengan kebobrokan. Memuji kebodohan demi keberlangsungan hidupnya sendiri. Tidak berpikir komprehensif jauh ke depan. Rujukan mereka hanya ideologi semu yang sudah terkubur, namun dibongkar kembali tanpa kemudi dan arah yang jelas. Kita diminta membangun “berhala” yang entah apa gunanya. Sementara, berserakan masyarakat mengais karena lapar.

Negeri ini seperti hendak dimiskinkan dengan sistimatis. Siapa lagi yang jadi panutan? Presiden demikian terbatas kemampuannya, namun dipaksakan. Kapasitas dan kapabilitas begitu minim bagi negeri majemuk dan njelimet dengan pelbagai persoalan struktural. Mereka yang berpikir waras duduk di pinggir sambil meminta-minta. Mengemis hanya untuk menunjukkan kepeduliannya. Para hulubalang pemerintah selalu mencari dalil untuk membenarkan sepak terjangnya tanpa peduli. Sulit mencari pengamanan diri, karena alat pengaman sendiri telah menjadi anjing peliharaan dan bagian dari mempertahankan status quo picik.

Sekarang mereka berusaha mempertahankan kondisi “parah” ini. Memuji diri dengan tabel-tabel semu. Kebenaran hanya bagi mereka sendiri. Dibuat sebuah desain dari saat ini, agar mereka tetap berkuasa. Bila perlu selamanya. Mengesampingkan semua pakem-pakem kebenaran, kebijakan kemanusiaan. Mengidolakan figure kekafiran, bahkan menjunjung tinggi kelicikan sebagai alat kekuasaan. Bangga dengan kesalahan. Celakanya, tak terlontar kata maaf dari mulut atas kesembronoan mereka. Masyarakat dijadikan laboratorium percobaan sosial tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan kewarasan. Berbohong seperti dihamini. Mereka menganggap rakyat demikian permisif dan pemaaf. Korupsi dijadikan cara lain mempekaya diri. Bahkan, mereka memandang itu sebagai hal lazim. Jika demikian, mari kita budayakan korupsi. Korupsi mau dijadikan identitas bangsa. Puiiiiiih…..

Hutang menjadi trade mark. Tak berhutang tak seksi. Tak gaul. Lalu, berlomba-lombalah menadahkan tangan. Ga peduli generasi ke depan yang jadi beban. Padahal, negeri ini telah tergadai. Kekayaan alam yang seharusnya demi kemaslahatan rakyat, telah tergadai untuk berpuluh-puluh tahun ke depan kepada 4 persen penduduk negeri ini yang jelas-jelas merupakan parasit raksasa. Kita tak punya hutan, laut atau kebun. Kita akan tetap jadi jongos. Dan, mereka berusaha menjaga ini sebagai stabilitas nasional. Menjadi uang sogokan tanpa limit sebagai alat menguasai negeri ini. Sementara, disudut sana sambil senyum sinis kekuatan kuning siap-siap mencengkram negeri ini. Mereka lebih bangsat dari begundal di pemegang kekuasan ityu sendiri.

Lantas, haruskah kita diam? Menunggu tanpa beraksi? Teriak saja ga bakalan merubah kondisi. Kita perlu perubahan radikal. Apapun itu namanya, revolusi atau rekonstruksi. Maka, jadilah bagian sejarah perubahan negeri ini. Pun, hanya sebuah igauan tak berarti melalui tulisan. Negeri ini tengah sakit parah…!*

Tavinur Syamsudin. (Saat lagi kesal)

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This