Mereka Menginjak Bumi

by | Sep 6, 2021 | Essai

Senja di mata segera tiba, dua alam terang gelap dengan misterinya menggugah pikiran. Terngiang di telinga suara khas film “Twilight Zone” yang di era tahun ’80-’90an sangat terkenal. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang.

Kulihat sesosok makhluk aneh. Persis di hadapan. Kukedipkan mata berkali-kali, tidak berubah. Kucubit tanganku, tetap sama.

Dia mirip manusia tapi bertubuh dan bermata serangga. Serba putih dan pucat pasi. Persis seperti yang ada di film-film. “Apa itu? Alien? UFO? Aneh banget!” pikirku dengan bulu kuduk sedikit merinding.

“Jangan-jangan, benar mereka sudah menginjak bumi! Bangsa lain dari planet lain sudah ada bersama kita selama ini. Allahu Akbar!”

Tanganku otomatis meraih telepon genggam yang kukantongi sebelumnya. Barangkali sudah jadi kebiasaan, tidak mau melewati moment penting. Apalagi ini alien betulan, siapa tahu bisa kujepret dan tertangkap.

Jepret! Jepret! Jepret!

“Alhamdulillah ada beberapa foto yang dapat kujadikan barang bukti. Ini pasti bakal viral kalau kusebarkan di medsos!” kataku dalam hati.

Tak lama adzan magrib berkumandang keras, diriku tersadar. Buru-buru aku bangun dan beranjak, mencari tempat berwudhu terdekat. Walau hatiku masih gundah menyaksikan makhluk yang kulihat tadi, tapi siapa yang tahu? Allah pasti tahu jawabannya.

Sembari berzikir, pikiranku jadi semakin ke mana-mana.

“Aneh, kenapa aku sampai terpikir ke urusan alien, lalu tiba-tiba dia muncul pula di hadapanku? Ada apa, ya?” tanyaku dalam hati.

Kuambil kembali telepon genggamku dan melihat hasil foto-foto tadi. Tidak lama, diriku memilih untuk menulis saja. Ada banyak pertanyaan di kepalaku, yang entah bagaimana menemukan jawabannya.

“Kuasa Ilahi dan kebesaran Allah SWT tiada tara, tiada bandingannya, tiada yang menyamainya, tiada yang mampu menaklukkannya, tiada yang mampu setiap insan manusia membuat kesamaannya, keagunganNya melewati batas secepat kilatan cahaya, semua planet dan seisinya jagad dirgantara adalah milikNya semata.

Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, hanya tunggal dan merupakan junjungan suci, tiada lainnya yang mengatur gelap terang, memutar segala arah penjuru, ada tiada, hidup kematian, kesemuanya hanya Dialah yang menggenggamnya.

Semua makhluk hidup, tumbuhan dan pepohonan, benda mati pun tunduk bertasbih kepadaNya dengan bahasa yang berbeda-beda, Sang pencipta memiliki kehendak dan kehendak suci, tiada satupun yang mendengar dan mengetahuinya, dan tidak akan mampu mengikuti tuntunanNya yang Maha luas, Maha Besar dan Maha segala-galanya.

Dengan batasan apa yang ditiupkanNya, dan setetes apa yang diberikanNya yang berbeda satu dengan yang lainnya, menjadikan pelengkap satu dengan yang lainnya, bukan menjadikan suatu perdebatan tidak ada ujung pangkalnya, tentunya menjadikan perenungan dan mencari hal terbaik. Pada kenyataannya tidak menjadi hal yang selaras dan seimbang. Maka perbedaan, perdebatan menjadi bunga jamur dan menjadi pertentangan yang melekat.

Bagaimana jika ditunjukkan hal yang lainnya, dilihat dengan mata tidak tampak namun dilakukan dengan alat berupa kamera ponsel, dengan atas seizinnya di luar dugaan atas kehendakNya ditunjukkan sesuatu hal yang tampak seperti makhluk luar angkasa entah dari planet apa!

Apakah dari 8 planet yang mengelilingi matahari di tata surya kita, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus serta Pluto?!

Sungguh sangat rindu tampak bentuk makhluk luar angkasa yang telah turun dan berpijak di planet bumi, yang sangat berdekatan dengan manusia sebagai makhluk dari planet bumi, alangkah begitu dekatnya dan tidak ada sekat dan memicu permusuhan dan pertentangan, adanya suatu kedekatan antara pikiran dan hati dari kedua makhluk yang berbeda planet dimaksud.

Walaupun tidak nampak jasad terlihat dengan kasat mata, namun secara utuh dan jelas ditunjukkan dengan cara lain, begitu luar biasa ciptaan Tuhan Yang Maha tunggal, tiada kata lain Segala Puji BagiNya.”
Kuhela nafas sejenak dan kuamati lagi foto-foto tadi. Postur dari mahkluk dari planet luar angkasa, baik kepala, rambut, mata, telinga, hidung, badan, tangan, alat kelamin, kakinya, jenis laki dan atau perempuan, walaupun sangat berbeda dengan makhluk planet bumi, namun mereka sangat bersahaja, damai dan kehendak berdekatan dengan insan manusia dari planet bumi.

“Mereka dari mana? Planet apa?”

Kembali kuteruskan tulisanku.

“Dengan adanya postur makhluk luar angkasa yang tidak diketahui asal muasal dari planet mana, di mana pada saat itu dalam keadaan tidak menggunakan sehelai benang kain sebagai penutup badannya, maka sangat terlihat dengan jelas dari profil jasadnya. Allahu Akbar segala puji bagiNya, bahwa dengan keyakinan dan kepercayaan diri, atas kuasa Illahi, maka semuanya walaupun setitik secercah telah diperlihatkan dan dapat diabadikan serta dapat dilihat dengan kasat mata.

Dengan pemikiran yang sederhana dari titik zero, dengan sandaran Allah SWT, bahwasanya seisi jagad raya dari berbagai planet ada penghuninya, tampak dan tidak tampak, terlihat dan tidak terlihat kasat mata, semuanya atas kehendakNya Yang Maha Suci.”

Dari yang takjub, takut, bingung, kini aku malah jadi merasa rindu. Aku rindu melihat alien itu! Alien yang tadi ada di hadapanku! Aku rindu melihat sorot matanya yang begitu indah dan tidak tampak adanya kebencian, permusuhan, pertentangan. Berbeda dengan yang selama ini kusaksikan di film-film atau yang diperbincangkan banyak orang.

“Sudahlah,” pikirku.

Di akhir tulisanku, kutulis, “Aku tidak ingin semua ini dijadikan perdebatan. Lebih baik kugunakan sebagai berkah untuk membangun kekuatan diri, kepercayaan dan keyakinan atas kebesaranNya Yang Maha Suci, yang menjadikan sandaran seutuhnya kepadaNya. Dan menjadikan sebuah titik balik dengan pemikiran yang sederhana dengan berpijak pada qolbu. Tidak ada guna menjadi “adi gang, adi gung”, tahu akan diri masing-masing dan menjadikan pelengkap kebahagiaan sepanjang nafas berdenyut dan menghirup udara sebagai sirkulasi dalam hidup kehidupan saat ini berpijak di bumi.”

Sidoarjo, 5 September 2021

Baca Juga

0 Comments

  1. Kalau penulis kurang jujur dalam menyajikan karya tulus, pasti dan pasti akan menyesatkan. Maka catatlah sejarah sebagaimana adanya. Syukur2 bisa…

  2. Sangat menginspirasi dan menopang semangat

  3. Sangat inspirasi, membantu menumbuhkan motivasi dan penopang semangat

Pin It on Pinterest

Share This